RADARSEMARANG.ID, Saya sengaja menulis rakyat dengan hurup J supaya lebih menekankan bahwa rakyat indonesia mempunyai potensi besar untuk lebih makmur dari berkah sumber daya alam.
Saya sangat setuju dengan perkataan pak Purbaya menteri keuangan kita yang mengatakan mari bersama-sama kita kaya.
Asik ini. Tempo hari saya sempat berdiskusi dengan Pak Lukman dan saya baru tahu kalau ada ilmu logistik minyak dan gas. Beliau adalah Kaprodi Jurusan Logistik minyak dan gas di kampus PEM Akamigas Cepu.
Diskusi ringan kami biasa saja mengenai minyak dan gas di bumi Indonesia ini. Saya termasuk orang yang suka akan pengetahuan baru dan ini bagi saya sesuatu yang benar benar keren.
Tulisan ini hanya pemikiran sederhana saja bagaimana supaya perusahaan migas di miliki rakyat atau masyarakat Indonesia sendiri seutuhnya.
Baca Juga: BRI dan Hiswana DPD III mudahkan Pembayaran Digital Berbasis Ekosistem bagi Pengusaha Migas
Potensi migas di Indonesia
Akhir Desember 2025, Indonesia berhasil menemukan potensi cadangan migas terbesar di dunia. Data dari lembaga riset energi mencatat ada penemuan sumber daya dengan potensi sekitar 85 juta barel setara minyak (BOE).
Keberhasilan ini kembali menempatkan Indonesia sebagai pusat perhatian investor hulu migas global, terutama di saat banyak negara lain mengalami kelesuan temuan baru. Kata pentingnya adalah investor.
Akhir tahun 2025 PT Pertamina Hulu Energi (PHE) juga menemukan sumur migas baru di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, Selat Makassar.
Penemuan ini membuktikan bahwa blok-blok berstatus mature di Indonesia masih menyimpan potensi tersembunyi yang sangat besar jika dieksplorasi menggunakan teknologi ekstraksi terkini. Untuk tahun 2026, pemerintah telah menetapkan target lifting minyak dalam APBN sebesar 610 ribu barel per hari (bph).
Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan target tahun 2025 yang berada di angka 605 ribu bph. Peningkatan bertahap ini merupakan bagian dari peta jalan pemerintah menuju target besar produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) pada tahun 2030 guna mengamankan ketahanan dan swasembada energi nasional dan sesuai visi 2030. Selama ini perusahaan minyak di Indonesia selalu melibatkan investor asing atau negara lain.
Baca Juga: Menjaga Kepercayaan Investor dan Perlindungan Konsumen di Tengah Dinamika Pasar Modal Nasional
Mengapa tidak dengan mengajak rakyat indonesia berinvetasi di dunia migas kita sendiri? Kita bisa melihat contoh dari obligasi atau suarat utang negara.
Obligasi Negara Ritel, atau yang lebih dikenal dengan sebutan ORI, memiliki sejarah yang penting dalam perkembangan pasar modal dan kemandirian pembiayaan negara di Indonesia.
Kehadirannya menjadi titik balik di mana masyarakat umum (ritel) akhirnya bisa berpartisipasi langsung dalam mendanai pembangunan negara.
Sebelum pertengahan tahun 2000-an, surat utang negara sebagian besar hanya bisa dibeli oleh institusi keuangan besar seperti bank, asuransi, atau dana pensiun, baik dari dalam maupun luar negeri. Pemerintah menyadari adanya beberapa kerentanan dan peluang dari sistem antara lain ketergantungan pada asing.
Ini membahayakan karena tingginya porsi kepemilikan asing pada surat utang negara membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap guncangan eksternal atau risiko capital flight atau arus modal keluar secara tiba-tiba.
Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Terbitkan Obligasi Rp 3 Triliun, Targetkan Pertumbuhan 11,6 Persen
Dua, Kebutuhan Pembiayaan APBN. Mengapa? Pemerintah membutuhkan sumber pendanaan yang lebih stabil dan berkelanjutan untuk menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta membiayai pembangunan infrastruktur. Ketiga, pasar keuangan domestik saat itu tergolong dangkal.
Pemerintah ingin memperluas basis investor domestik agar pasar keuangan lebih tangguh. Keempat, edukasi inklusi keuangan. Mengapa? Pemerintah ingin mendidik masyarakat agar mulai beralih dari kebiasaan menabung tradisional (seperti deposito atau menimbun uang tunai) menuju budaya berinvestasi yang produktif.
Peluncuran perdana ORI 001 ini mendapat sambutan luar biasa. Minat masyarakat melampaui target awal pemerintah, membuktikan bahwa ada investasi instrumen yang aman di kalangan masyarakat menengah. ORI dimulai pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di bawah Kementerian Keuangan.
Peluncuran pertamma dengan menerbitkan ORI seri pertama, yakni ORI001, secara resmi diterbitkan pada bulan Agustus. ORI001 ditawarkan dengan tingkat kupon yang sangat menarik, yakni 12,05% per tahun dengan tenor 3 tahun.
Dengan batasan pemesanan pada masa itu ditetapkan sebesar Rp5.000.000, sebuah angka yang cukup terjangkau untuk ukuran investasi obligasi saat itu, meski saat ini batas minimum tersebut sudah diturunkan jauh lebih murah.
Baca Juga: Investasi Saham Global Kian Populer, Platform Digital Jadi Pintu Masuk Investor
Demokratisi Investasi
Dengan membuat perusahaan migas dengan saham yang di punyai masyarakat indonesia menjadi bentuk investasi yang menarik bagi masyarakat. Tentu saja perhitungan dan studi kelayakan dan segala hukum yang mengatur harus di persiapkan dengan baik.
Hal ini termasuk memakai tenaga atau insiyur minyak dan gas dalam negeri yang kompeten. Untuk hal ini tentu saja saya berharap pada pak Lukman dan jajaran nya untuk lebih menyiapkan insinyur minyak dan gas dari putra putri indonesia sendiri yang lebih baik.
Saya pikir sambutan masyarakat Indonesia atau rakjat Inonesia akan bagus seperti sambutan penerbitan ORI. Dengan demikian maka akan lebih tercipta masyarakat Indonesia yang makmur sejahtera. Semoga. (tri)
Editor : Tasropi