Oleh : Fuad Fatkhurrohman*
Manajemen rumah sakit yang semakin kompleks, muncul tantangan ganda yang tak terhindarkan: menjaga mutu pelayanan sekaligus memastikan keberlanjutan finansial.
Meskipun teknologi kontrol keuangan telah berkembang pesat, banyak institusi kesehatan masih terjebak dalam varians anggaran dan minimnya transparansi.
Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan kontrol konvensional yang berorientasi pada aturan dan sanksi belum mampu menjawab kebutuhan mendalam akan akuntabilitas dan efisiensi.
Menjawab kegagalan sistem tersebut, lahirlah gagasan Itqon Control Behavioral—sebuah pendekatan kontrol perilaku yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual Islam ke dalam sistem manajemen keuangan rumah sakit.
Berakar pada paradigma tauhid, konsep ini memandang setiap aktivitas profesional, termasuk pengelolaan dana, sebagai bentuk ibadah dan amanah.
Dengan menggabungkan akuntabilitas vertikal kepada Allah SWT dan akuntabilitas horizontal kepada pemangku kepentingan, pendekatan ini menawarkan kontrol yang bersifat intrinsik, bukan sekadar teknis.
Dua nilai utama menjadi fondasi dari kerangka ini: itqon dan amanah. Itqon merujuk pada profesionalisme yang dilandasi ketelitian dan kesempurnaan, sebagaimana tercermin dalam QS. An-Naml: 88 dan hadits Nabi yang menyatakan bahwa Allah mencintai orang yang bekerja dengan itqon.
Sementara amanah menekankan tanggung jawab dan integritas dalam menjalankan tugas, sebagaimana diperintahkan dalam QS. An-Nisaa: 58 dan QS. Al-Mu’minun: 8.
Kedua nilai ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga dapat dioperasionalkan secara ilmiah melalui indikator perilaku yang terukur.
Empat indikator utama membentuk kerangka kerja Itqon Control Behavioral. Pertama, Behavioural Intention Islami mengukur niat tulus individu untuk bertindak sesuai prinsip Islam, mencerminkan internalisasi nilai spiritual dalam etos kerja.
Kedua, Perceived Behavioural Control Al-Makruf menilai persepsi kemudahan dalam melakukan tindakan baik, sebagai cerminan dari kualitas moral dan keyakinan diri.
Ketiga, Akuntabilitas Proses menekankan transparansi dalam setiap tahapan pengelolaan keuangan, dan keempat, Akuntabilitas Financial mengukur pertanggungjawaban hasil keuangan kepada seluruh pemangku kepentingan.
Integrasi keempat indikator ini menciptakan siklus positif yang menggabungkan kompetensi teknis dengan dorongan spiritual.
Dalam kerangka ini, kepatuhan terhadap prosedur bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan manifestasi dari motivasi ibadah.
Individu yang memiliki niat Islami dan kontrol diri akan terdorong untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas sebagai bentuk penunaian amanah.
Itqon Control Behavioral bukan hanya menawarkan solusi manajerial, tetapi juga membangun fondasi etis dan spiritual yang kokoh.
Keberlanjutan finansial rumah sakit tidak lagi semata-mata diukur dari efisiensi biaya, melainkan dari legitimasi moral yang memperkuat kepercayaan publik.
Model ini membuktikan bahwa spiritualitas yang diintegrasikan secara cerdas dapat menjadi kekuatan pendorong superior dalam tata kelola organisasi modern. (*)
*Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Sultan Agung Semarang dan Dosen Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Muhammadiyah Semarang
Editor : Lis Retno Wibowo