Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Literasi Bukan Lagi Tantangan: Storytelling Animasi Jadi Kuncinya

Radar Semarang • Jumat, 25 Juli 2025 | 18:45 WIB
Sri Lestari, Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus
Sri Lestari, Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus

Oleh: Sri Lestari

RADARSEMARANG.ID—Di tengah geliat pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, keterampilan literasi membaca masih menjadi pekerjaan rumah yang serius di jenjang pendidikan dasar. Walaupun budaya literasi telah dipaparkan secara nasional melalui berbagai kebijakan dan program pemerintah, hasil penilaian internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca anak Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Fakta ini menempatkan literasi bukan hanya isu pendidikan, tetapi juga isu keberlanjutan dalam pembangunan nasional di Indonesia. Jika generasi yang akan datang tidak dibekali dengan kemampuan literasi membaca dan memahami informasi secara kritis sejak dini, maka cita-cita menuju generasi unggul akan sulit terwujud.

Dalam rangka mewujudkan generasi emas yang melek literasi, tentunya diperlukan usaha yang sungguh-sungguh karena kemampuan literasi merupakan kemampuan dasar dalam proses belajar di semua jenjang. Di tingkat sekolah dasar, literasi berfungsi sebagai fondasi siswa untuk belajar. Mereka mulai memahami dunia sekitar melalui teks, simbol, dan cerita. Kemampuan ini bukan sekadar keterampilan teknis untuk mengeja huruf, tetapi merupakan dasar berpikir kritis dan pembentuk karakter kecakapan hidup di abad ke-21. Saat siswa memiliki kemampuan membaca dan memahami suatu informasi yang diterimanya, mereka tidak hanya belajar mengenal huruf, kata, dan kalimat tetapi juga belajar memahami makna,  serta menumbuhkan rasa peduli dan mengolah imajinasi.

Kondisi masyarakat saat ini berfokus pada pengetahuan instan, kemampuan membaca tidak bisa lagi dianggap sebagai keterampilan dasar yang urgen. Kemampuan literasi membaca yang kuat merupakan dasar bagi siswa untuk memahami suatu materi, mengetahui informasi yang lebih luas dan mampu menyelesaikan masalah. Selain itu, siswa  yang memiliki kemampuan literasi akan berperan aktif dalam lingkungan sosialnya. Ketika anak tidak memiliki kemampuan dasar dalam membaca, maka sulit memahami materi dalam pembelajaran. Risiko ini kemudian berakumulasi menjadi kesenjangan pendidikan yang lebih luas dan menurunkan kualitas hidup generasi muda di masa mendatang.

Hasil observasi di sekolah tempat penulis mengajar menunjukkan beberapa siswa mengalami kesulitan dalam membaca pemahaman. Hasil analisa yang dapat penulis temukan, terdapat berbagai macam faktor yang menyebabkan kondisi tersebut.  Metode pembelajaran ceramah yang sifatnya masih  konvensional, bahan bacaan yang kurang menarik, hingga strategi literasi yang yang digalakkan kurang maksimal.

Dalam dunia pendidikan dasar, filosofi Ki Hajar Dewantara menjadi fondasi utama dalam mengembangkan pendidikan dasar yang berpusat pada siswa, kontekstual, dan menyenangkan. Jauh dari prinsip tersebut, masih banyak pembelajaran di sekolah yang didominasi oleh metode ceramah dan hanya latihan soal. Pendekatan pembelajaran yang kreatif minim diterapkan. Hal tersebut menjadi penyebab yang merosotnya kemampuan literasi pada siswa.

Storytelling

Berdasarkan fakta yang terjadi di SD Negeri Mangunrejo 2, penulis mencoba menerapkan metode dan media pembelajaran yang mampu menghidupkan teks dalam dunia anak-anak. Metode yang dimaksud yaitu storytelling berbantu animasi digital dalam bentuk dongeng. Storytelling animasi merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Storytelling atau bertutur adalah metode pendidikan kuno yang tetap relevan hingga kini. Sedangkan animasi adalah gambar yang bergerak. Ketika dikolaborasikan metode storytelling  dengan teknologi animasi digital, tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga menjadi strategi pembelajaran literasi yang efektif dan menarik.

Beberapa hasil penelitian sebelumnya telah merujuk penggunaan metode storytelling dapat meningkatkan pemahaman membaca, memperluas kosakata, serta menambah daya ingat anak terhadap isi bacaan. Sedangkan penggunaan media dongeng animasi menyuguhkan kombinasi tampilan visual, narasi suara, dan teks yang mendukung keterlibatan multi-indra dalam proses belajar. Hal ini sangat sesuai dengan gaya belajar siswa sekolah dasar yang bersifat konkret dan visual.

Hasil Observasi pada pembelajaran siswa kelas 1 SD Negeri Mangunrejo 2, setelah menggunakan storytelling dengan media dongeng animasi, ada peningkatan minat membaca dan kemampuan memahami isi cerita. Mereka tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat dalam diskusi, menceritakan kembali dongeng yang dilihatnya, hingga berimajinasi dalam mengarang cerita.

Implementasi inovasi dan digitalisasi dalam pendidikan membuka peluang baru dalam mengembangkan kemampuan literasi siswa. Generasi penerus bangsa akan  lahir dan tumbuh dalam lingkungan teknologi. Hal tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter luhur suatu bangsa. Karakter inilah yang diarahkan kepada hal-hal positif dalam visualisasi dongeng animasi. Media interaktif tersebut sekaligus menjadi media edukatif yang efektif dalam menanamkan keterampilan literasi sejak dini.

Dongeng yang identik dengan sifatnya yang klasik, dapat divisualisasikan dalam bentuk animasi yang lebih menarik. Melalui video dongeng animasi, siswa lebih mudah dalam memahami alur, pesan moral, dan struktur bahasa yang digunakan. Mereka tidak sekadar melihat cerita, tetapi juga mengamati, menafsirkan, dan bahkan menirukan struktur narasi dalam bentuk lisan maupun tulisan. Inilah momen penting dalam proses pembentukan literasi. Saat siswa mulai mengaitkan cerita dengan kehidupan nyata, mengekspresikan kembali dengan bahasa sendiri, dan menunjukkan ketertarikan untuk membaca lebih lanjut.

Kekuatan animasi terletak pada kemampuannya menjembatani kesenjangan antara teks dan imajinasi pada siswa. Dalam dunia pendidikan dasar, hal ini menjadi penting karena banyak siswa sekolah dasar yang kesulitan memahami teks. Melalui video dongeng animasi, siswa dapat melihat tokoh dalam cerita, latar, dan konflik. Dengan kemampuan literasi membaca, tentunya akan membantu memahami struktur cerita secara utuh. Namun, pemanfaatan storytelling animasi tidak bisa dilepaskan dari peran guru sebagai fasilitator. Guru harus mampu memilih konten yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kaya nilai, sesuai usia siswa sekolah dasar, serta mengandung unsur literasi yang kuat. Implementasi storytelling animasi tentunya mendukung literasi digital itu sendiri. Banyak siswa belajar menggunakan perangkat dengan tujuan edukatif, memahami alur cerita dalam bentuk video, dan menyerap informasi secara umum. Dalam jangka panjang, kemampuan ini akan membekali siswa menghadapi tantangan era digital yang penuh teknologi dan informasi dalam satu kesatuan pesan.

Storytelling animasi dapat menjadi bagian dari strategi literasi digital yang mengedepankan konten berkualitas, edukatif, dan kontekstual. Namun, perlu diketahui bahwa digitalisasi dalam kegiatan pembelajaran harus tetap memperhatikan kebutuhan belajar siswa. Konten animasi yang digunakan harus sesuai dengan usia, nilai-nilai budaya lokal, serta memperkuat karakter bangsa. Melalui karakter luhur yang tersirat dalam nilai luhur dongeng animasi, sekolah tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi membaca, tetapi juga membentuk kebiasaan generasi penerus yang melek literasi digital. Melalui storytelling animasi inilah, menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan literasi nasional yang berkelanjutan di era digital ini. (*)

Mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Storytelling #Magister Pendidikan Dasar #universitas muria kudus #Animasi #pisa #Pascasarjana UMK