Oleh: Sri Walji Hasthanti, M.Pd.
RADARSEMARANG.ID--Kita telah mengenal P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka untuk mengembangkan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan berbasis proyek. Pelaksanaannya dalam bentuk proyek dengan melibatkan siswa secara aktif. Meskipun kegiatannya beragam, namun guru lebih mudah mengontrol dan membersamai siswa karena dapat dilakukan dalam bentuk kokurikuler yang terpisah dari kurikulum inti.
Lalu, bagaimana penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat di sekolah, sedangkan ranah kebiasaan tersebut di rumah? Bagaimana guru mengontrol ketujuh kebiasaan tersebut, apakah sudah dilakukan serta menjadi kebiasaan, atau sekadar wacana saja? Apa saja yang perlu diperhatikan untuk menginternalisasikan karakter-karakter tersebut agar tidak menjadi beban bagi siswa?
Komunikasi dan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa pasti sangat diperlukan. Sekolah dapat membuat kartu check list tujuh kebiasaan tersebut dan dikumpulkan setiap akhir bulan. Pada saat mengumpulkan, guru memberi kartu yang baru untuk bulan berikutnya. Tentu tidak akan ada manfaatnya jika pada kartu check list tersebut siswa/orang tua hanya membubuhkan centang pada kolom jenis kebiasaan. Bisa jadi siswa hanya sekadar mencentang padahal tidak melakukan kebiasaan tersebut.
Guru dapat melakukan wawancara dengan siswa tentang kegiatan sehari-hari, memberi tugas menulis salah satu atau beberapa kebiasaan sesuai dengan tema/topik pelajaran, atau membuat cerita berdasarkan pengalaman melakukan tujuh kebiasaan tersebut. Dari sini guru akan memperoleh gambaran apakah siswa benar-benar melakukan tujuh kebiasaan anak hebat Indonesia, atau hanya sekadar memenuhi tugas membubuhkan centang.
Karena tujuh kebiasaan tersebut harus dapat dipantau oleh guru, maka program ini diintegrasikan dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari melalui pendekatan berbasis kelas, budaya sekolah, dan kegiatan masyarakat. Kebiasaan bangun pagi siswa, misalnya, akan terlihat ketika mereka selalu datang awal ke sekolah, melakukan aktivitas pagi hari, mengerjakan latihan soal, atau membaca buku di pojok baca kelas.
Kebiasaan bangun pagi tentu tidak lepas dari kebiasaan tidur cepat atau tidak larut malam. Di sini guru sangat berperan dalam mengedukasi pentingnya waktu tidur yang cukup untuk kesehatan dan perkembangan siswa. Selain itu, guru juga tidak memberi banyak tugas, sehingga siswa memiliki waktu istirahat yang cukup.
Terjadwalnya waktu beribadah dan kegiatan keagamaan di sekolah menjadi kebiasaan yang baik, karena melibatkan guru maupun siswa untuk aktif dalam memperkuat nilai-nilai spiritual. Untuk menjaga kesehatan fisik dan mental guru dapat memfasilitasi dengan senam Anak Indonesia Hebat dan melakukan bersama-sama.
Kebiasaan berolahraga bersama ini akan menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus menyegarkan, apalagi gerakan senam tersebut mudah dilakukan. Untuk sekolah yang sudah menyediakan makan siang bersama tentu lebih mudah bagi guru untuk mengedukasi pentingnya makan sehat dan bergizi seimbang.
Menu yang dipilih sekolah tentu saja menjadi contoh konkret makan sehat dan bergizi. Lalu, bagaimana jika sekolah belum ada makan siang bersama? Tentu saja sekolah dapat memanfaatkan kantin sebagai penyedia makanan sehat.
Kebiasaan gemar belajar siswa akan terlihat ketika berlangsung kegiatan belajar mengajar. Suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif akan merangsang minat belajar siswa. Ketertarikan terhadap tugas atau proyek akan memotivasi siswa mengikuti dan mengalami proses belajar.
Pembelajaran di luar dengan memanfaatkan lingkungan sekitar, seperti kegiatan bakti sosial dan Jumat berkah, akan mengasah rasa kepedulian siswa terhadap masyarakat sekitarnya. Afirmasi positif dapat diberikan guru sembari mendorong siswa untuk saling membantu dan menghargai orang-orang di sekitarnya, termasuk hubungan dengan teman, guru, dan warga sekolah. Hal ini menjadi salah satu contoh yang dapat diamati guru dalam hal kebiasaan bermasyarakat.
Sekolah sebagai lingkungan rumah kedua bagi siswa akan memberi banyak pembelajaran, pengalaman, dan kecakapan hidup yang akan berguna bagi siswa di kemudian hari. Dengan pembiasaan mengamalkan tujuh kebiasaan baik di sekolah, siswa akan tumbuh menjadi individu yang sehat, cerdas, dan berkarakter. (*)
Guru SD Muhammadiyah Plus 1 Kota Salatiga
Editor : H. Arif Riyanto