Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pertahankan Tradisi, Warga Pedurungan Gelar Syawalan Bagikan Ketupat dan Uang

Agus AP • Senin, 1 Mei 2023 | 18:24 WIB
Potret keramaian syawalan atau sedekah laut di Pantai Morodemak Bonang beberapa tahun lalu sebelum pandemi Covid-19. (Dok WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Potret keramaian syawalan atau sedekah laut di Pantai Morodemak Bonang beberapa tahun lalu sebelum pandemi Covid-19. (Dok WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang – Warga Kampung Jaten Cilik, Pedurungan, Kota Semarang kembali menggelar tradisi syawalan. Dengan membagikan ketupat dan uang.

Kegiatan diawali dengan salat Subuh berjamaah, dilanjutkan doa bersama. Setelah itu para remaja membunyikan petasan sebagai tanda perayaan dimulai. Ketupat yang telah disiapkan langsung diserbu warga. Mulai anak-anak, remaja, dan orang tua.

Tidak hanya ketupat, warga juga membagikan uang. Bahkan anak-anak membawa kantong plastik sebagai tempat untuk menaruh uang. Ketika ada yang memanggil, anak-anak berlarian menuju sumber suara, dengan sigap kembali berebut.

"Aku pak, aku durung, pak aku durung pak," kata salah satu anak sambil berteriak dan lompat-lompat.

Uniknya nama tradisi ini, yakni Kupat “Jembut’. Kata ini untuk memudahkan penyebutan. Karena bentuk ketupatnya dibelah tengah, diisi dengan tauge, sayur, dan urap. Sehingga seperti rambut.

“Nama itu (kupat jembut, red) hanya penyebutan masyarakat biar mudah. Nama aslinya Ketupat Tauge,” kata Imam Masjid Roudhotul Muttaqin, Munawir saat ditemui di Kampung Jaten Cilik, Sabtu (29/4).

Munawir mengaku tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1950. Sepulang dari pengungsian Perang Dunia II. Dibagikan ketupat sebagai wujud rasa syukur dan kesederhanaan setelah berhasil melakukan puasa syawal selama enam hari.

Ia menambahkan maksud dari ketupat dibelah itu sebagai simbol bahwa jabatan tangan sudah di lepas dan saling memafkan satu sama lain. “Makanya disimbolkan kupat. Kalau bahasa Jawa kupat itu diartikan laku papat atau perilaku empat. Yaitu lebar, lebur, luber, dan labur,” tambahnya.

Lebar, berarti sudah selesai puasa sekaligus menyelesaikan masalah yang terjadi antarwarga. Lebur artinya berkumpul kembali sesama warga yang sudah terpisah. Luber, artinya berhati besar dengan memaafkan semua yang terjadi. Sedangkan labur atau mengecat berarti menghias diri dengan kebaikan-kebaikan.



Munawir mengaku terus mempertahankan tradisi Syawalan yang sudah berjalan 73 tahun ini. Kendati demikian, perayaan juga tetap mengikuti perkembangan zaman. Awalnya hanya ketupat berisi sayuran. Lalu tahun 1965 ditambah dengan petasan, tahun 1990 ditambah dengan jajanan lebaran, dan pada tahun 1965 mulai ditambah dengan uang.

"Dulu tanda perayaan dimulai itu dengan menabuh alat dapur dan tiang listrik, kalau sekarang remaja membunyikan petasan," tambahnya.

Antusias masyarakat sangat luar biasa. Bahkan warga yang sudah merantau ke luar kota mengambil mudik pada lebaran syawal. "Orang-orang justru mengambil mudik kesini malah saat perayaan syawal. Tadi ada yang dari Wonosobo dan Kebumen," akunya.

Salah satu warga, Nizam Ali Abdurrohman mengaku senang dapat mengikuti tradisi syawalan kali ini. Dengan membawa kantong plastik ia berlari mengikuti panggilan untuk mendapatkan uang.

"Senang tidak dapat kupat tapi dapat uang. Tak taruh di plastik lumayan dapatnya bisa sampai Rp 100 ribu," ungkapnya. (kap/ida) Editor : Agus AP
#Kampung Jaten Cilik #Ketupat #pedurungan #KOTA SEMARANG