Salah satu konsumen elpiji melon di Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Rizki mengatakan, baru mengetahui soal rencana uji coba pembelian elpiji 3 kg menggunakan KTP dari berita yang beredar.
"Saya baru tahu soal itu pagi tadi dari berita di koran," ujarnya, Rabu (18/1).
Selama beberapa bulan terakhir, ia selalu membeli gas elpiji di warung sekitar kontrakannya tanpa menunjukkan KTP. Kepada Pos Radar Semarang, ia malah menanyakan tujuan penggunaan KTP untuk membeli gas elpiji tersebut.
"Kenapa perlu KTP? Apa dengan KTP bisa tahu itu orang kaya atau bukan? Bukannya yang lebih tahu itu tetangga sekitar?" tanyanya.
Menurutnya, program pembelian elpiji 3 kg menggunakan KTP malah mempersulit. Ia lebih menyarankan penerapan sistem zonasi dengan mempersempit ruang lingkup.
"Misalnya, kita tinggal di Bringin, ya kita beli di sini. Kan penjualnya pasti tahu warga mana yang kaya atau kurang mampu," ujarnya.
Tanggapan berbeda dikatakan oleh Fitri, warga Perumahan Bank Niaga, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan. Ia mengaku, tak mengetahui rencana penggunaan KTP untuk membeli elpiji 3 kg. Ia biasa membeli elpiji 3 kg seharga Rp 21.000.
"Saya biasa beli sekalian di tukang antar galon. Kalau soal KTP malah nggak tahu sama sekali," ucapnya.
Ia merasa kebijakan pembelian elpiji 3 kg menggunakan KTP akan mempersulitnya. "Nggak usah pakai KTP, bikin ribet," imbuhnya.
Samiati, penjual elpiji 3 kg yang juga menjual sembako di Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan mengatakan, pembelian elpiji 3 kg menggunakan KTP di tokonya hanya diberlakukan sekali. Itu digunakan untuk pendataan sebagai laporan ke Pertamina.
Untuk pembelian selanjutnya, konsumen tidak perlu menunjukkan KTP. Sistem pembayarannya masih sama seperti biasa, tetap menggunakan uang.
"Warga sini sudah tahu, cuma sekali bawa KTP buat pendataan. Setelah sekali itu menunjukkan KTP, nggak perlu menunjukkannya lagi," ucapnya.
Setiap dua hari sekali, tokonya mendapat pasokan dari agen sebanyak 35 tabung. Stok tersebut selalu habis, bahkan terkadang kekurangan.
"Stoknya tidak langka, tapi memang kebutuhan masyarakat di sini banyak. Pelanggannya silih berganti. Biasanya ramai kalau sore hari," katanya. (mg5/mg6/aro) Editor : Agus AP