Umat Tri Dhrama satu per satu datang ke kelenteng. Di depan altar mereka mengawalinya dengan memanjatkan doa kepada sang Dewa. Semerbak aroma dupa tercium ketika memasuki kelenteng. Dipimpin oleh Pandita, umat Tri Dharma mulai berdoa, dengan khusyuk.
Pandita membacakan parita suci secara khidmat yang diikuti oleh umat Tri Dharma. Setelah selesai mereka membawa tampah berisikan kertas tengchi untuk dibakar. Api pun mulai menyala dengan asap tipis membumbung ke langit.
Saat itu pula umat Tri Dharma memutar-mutar tampah sebagai pesan bahwa mereka mengirimkan dewa-dewi ke kayangan.
Ketua Yayasan Kelenteng Besar Tay Kak Sie Tanto Hermawan mengatakan, ritual ini diselenggarakan sebagai tradisi mengantarkan dewa dewi ke khayangan. Bakar kertas tangchi dalam tampah ini sebagai simbolis untuk mengantarkan dewa naik.
“Naiknya dewa ini sebagai wujud melaporkan tingkah laku manusia. Di setiap altar dewa dewi kan melihat perbuatan manusia di duniawi ini, dia akan melaporkan ke surga, ke Tuhan, masing-masing perbuatan kita,” tegasnya.
Terpisah, ritual menjelang Imlek juga dilakukan di Kelenten Kebun Jeruk di Jalan Roro Jonggrang Timur, Semarang.
Beberapa pengurus beserta umat kelenteng mengadakan tradisi ritual Sang-Sin, yaitu ritual menghantar Toa Pekong (Kongco atau Dewa Dapur) naik menghadap Penguasa Langit (Tian Gong) di T.I.T.D Low Lie Bio.
Usai ritual Sang-Sin, para pengurus beserta puluhan umat melanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih seluruh sarana prasarana tempat ibadah, beserta rupang-rupang Dewa-Dewi nya untuk di sucikan dengan air yang di campur bunga.
Ketua Umum Yayasan Kebun Jeruk Semarang Indra Satyahadinatae mengatakan, seminggu sebelum datang Tahun Baru Imlek, Toa Pek Kong atau kongco Ciao Kun Kong yang biasa disebut Dewa Dapur dipercaya naik ke khayangan untuk melaporkan kejadian yang ada di bumi selama setahun kepada Penguasa Langit. Termasuk melaporkan kejadian baik atau buruk dari kelakuan umat manusia.
“Acara bersih bersih ini bukan hanya kelentengnya saja, tetapi yang lebih penting lagi umat Tridharma disetiap Tahun Baru Imlek juga wajib membersihkan diri masing-masing dari segala perbuatan maupun pemikiran buruk,” ungkapnya.
Selain itu pihaknya juga selalu membagikan kue kranjang kepada sekitar 250 kepala keluarga di sekitar kelenteng. Dengan harapan umat manusia terhindar dari musibah. Terlebih akhir-akhir ini banyak bencana yang melanda Jawa Tengah.
“Harapannya di Tahun Baru Imlek 2574 ini, sebagai Tahun Kelinci Air, seluruh umat Low Lie Bio khususnya, bisa mendapatkan berkah, rezeki melimpah. Seluruh bangsa Indonesia umumnya juga bisa lebih makmur, lebih sejahtera kehidupannya, serta dijauhkan dari segala bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang akhir-akihir ini sering terjadi,” tandasnya. (kap/zal) Editor : Agus AP