Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas, BMKG Semarang, Retno Widyaningsih, menjelaskan, minggu ini merupakan pasang air laut tertinggi di bulan Desember. "Jadi, di tanggal 1 - 4 ini fase pasang tertinggi, puncak pasangnya itu 1,1, tapi yang tercatat di kita itu sampai 1,9," katanya.
Banjir yang terjadi saat ini karena disertai dengan hujan yang cukup lebat semalam sekitar pukul 11 - 1 dini hari hingga 9,8 milimeter. "Mungkin itulah yang menambah ketinggian air pasang yang fasenya tinggi ditambah hujan," jelasnya.
Diperkirakan mulai tanggal 1 - 4 Desember mulai pasang itu sore hari pukul 17.00 hingga 3 sampai 4 pagi. Kemudian mulai surut lagi pukul 7 pagi dan surutnya jam 11 pagi. "Ada pasang bulanan, ada pasang harian, kami konfirmasi di grup hampir di pesisir utara Jawa Tengah terdampak banjir air rob," katanya.
BMKG sudah memprediksi di awal perkiraan musim hujan dan puncak musim hujan di bulan Desember hingg Januari. Selain itu, kondisi tersebut tergantung dari kumpulan awannya. "Kebetulan tadi malam ada awan yang tebal dan di pantai utara itu berdampak sekali pasang pagi ini," jelasnya.
Puncak musim hujan diperkirakan di awal bulan Desember dan di akhir bulan atau mulai tanggal 24 - 31 Desember.
Ia menyampaikan ketika rapat persiapan posko yang biasanya pada posko Nataru sehingga ada peningkatan penumpang. "Di akhir bulan nanti puncak rob," ujarnya.
Gelombang cuaca saat ini rendah sampai tenang atau kondusif tapi pasang dan air hujannya mengancam. "Perkiraannya sama seperti ini dini hari juga, tapi kalau dibarengi hujan akan berkumpul pagi harinya," katanya.
Pada bulan Maret hingga Mei kondisinya siang hari pasangnya berputar saja, kata dia, tapi bulan ini pasangnya berputar di pagi hari.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar memperhatikan perkiraan pasang surut maupun perkiraan cuaca dari BMKG, terutama di daerah yang sudah terbiasa dampak rob.
"BMKG menginformasikan untuk memitigasi supaya terantisipasi dampak rob sehingga tidak ada korban jiwa dan korban harta," jelasnya.
Dikatakan, sudah banyak penelitian penurunan permukaan tanah. Meskipun BMKG tidak mengadakan penelitian, namu. BMKG pusat bekerja sama dengan akademisi. "Ini sudah kelihatan dampaknya, salah satunya kantor kita yang sudah di bawah permukaan laut," katanya. (fgr/bas) Editor : Agus AP