Sebanyak delapan mobil dan lima sepeda motor milik warga hanyut terbawa air bah. Selain itu, puluhan rumah terendam, tiga di antaranya rusak parah. Pasca banjir, kawasan perumahan ini dipenuhi lumpur hingga setebal 30-50 sentimeter.
Banjir bandang ini bukan kali pertama terjadi di perumahan di dekat tol Batang-Semarang ini. Sebelumnya, banjir bandang pernah terjadi pada 2017. Namun banjir kali ini dinilai yang paling parah.
"Ini siklusnya lima tahun atau enam tahun sekali pasti terjadi. Ini sudah terjadi sejak tahun 1980-an. Yang terakhir tahun 2017 lalu. Tapi, ini yang paling parah," ungkap Pratomo, seksi sosial RT 07 RW 6, Perumahan Wahyu Utomo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (7/11).
Banjir bandang tahun sebelumnya, diketahui terjadi pada Selasa, 7 Februari 2017 dinihari. Meski juga tidak ada korban jiwa, namun puluhan rumah terendam banjir.
Berdasarkan data, setidaknya ada tiga rumah warga yang mengalami rusak parah pasca kejadian banjir bandang kemarin.
"Ada tiga rumah yang rusak. Rumah milik Pak Ilham dan Bu Siti atau Pak Feri yang paling parah. Temboknya jebol. Lalu rumah Pak Lilik, masih bisa dihuni, tapi penuh dengan lumpur,” bebernya.
Tembok belakang dan depan rumah Siti jebol dan tidak bisa ditempati. Dua rumah lainnya rusak, namun tidak separah milik Siti.
“Pemilik rumah masih shock. Ada yang mengungsi di Beringin, ada yang di Karangayu, di tempat saudaranya," ujarnya.
Kemarin, warga dibantu anggota Polri dan TNI tampak bergotong royong membersihkan lumpur di jalan, rumah dan masjid. Warga Perumahan Wahyu Utomo RT 3 RW 6 Rita mengaku, banjir bandang kali ini yang terparah.
"Lima tahun lalu hanya dua rumah yang terdampak, tidak seperti banjir kali ini. Air di dalam rumah hampir dua meter,” kata warga yang sudah tinggal di perumahan ini selama 33 tahun.
Kejadiannya setelah magrib
Warga lain yang tinggal di RT 7 RW 6 Feri Utomo mengungkapkan, saat kejadian, dirinya bersama istri dan anak kos menyaksikan banjir bandang dari rumahnya.
Kejadiannya setelah magrib. Banjir datang begitu cepat. Hanya berlangsung sekitar 15 menit. "Banjirnya kenceng sekali. Tembok sampai jebol. Kayak tsunami," ujarnya.
Ketua RW 6 Kelurahan Tambakaji Agus Haryono mengungkapkan, warga yang terdampak banjir bandang hampir semua RT di wilayahnya, yakni RT 1, RT 2, RT 3, RT 4, RT 6, RT 7, dan RT 9.
Begitu banjir bandang, listrik padam. Bahkan, hingga pukul 23.00, listrik di wilayah RT 6, RT 7, dan RT 9 masih padam.
"Kelihatannya air bah dari wilayah atas sana. Di RT 02, banjir menyebabkan tembok penghalang di dekat sungai jebol," katanya.
Menurut Agus, saat banjir bandang, ketinggian air mencapai 1,5 meter hingga 2 meter. " Banjir paling tinggi di wilayah RT 9," ujarnya.
Lurah Tambakaji Agus Maryanto mengatakan, pasca banjir bandang, pihaknya berkoordinasi dengan pemangku wilayah, camat, danramil, kapolsek dan dinas terkait.
"Malamnya, kami bisa mengidentifikasi dampak pasca banjir," katanya.
Kemarin, pihak DLH, DPU, Disperkim dan lainnya sudah terjun ke lokasi untuk membantu membersihkan lumpur, serta ranting pohon yang menutup akses jalan.
Pihaknya juga menggandeng Puskesmas Tambakaji untuk melakukan pengobatan akibat banjir bandang ini.
Ada enam mobil yang hanyut
Berdasarkan informasi, ada enam mobil yang hanyut di wilayah RW 6. Mobil tersebut diparkir di lapangan, di samping belokan aliran Sungai Sihingas. Ada juga mobil yang diparkir di garasi.
Enam mobil yang hanyut tersebut adalah Honda City milik Wasis, sedan Hyundai milik Hari Kiswanto, Honda Maestro milik Bambang, Honda CRV milik Hana, Mitsubishi Pajero milik Iwan, dan mobil Mazda milik Andika.
Menurut Hana, warga RT 9 RW 6, mobil Hoda CRV miliknya hanyut saat diparkir di tempat biasanya, yakni di lapangan kecil depan rumahnya.
Perempuan ini mengaku, saat banjir bandang melanda, sempat melihat mobilnya sudah terendam dan hampir tidak kelihatan.
"Jam 5 sore hujan deras, lampu PLN padam. Saya tidur di kamar, terus bangun. Saat keluar, melihat air sudah tinggi. Mobil saya dan mobil tetangga di lapangan sudah tidak kelihatan," jelasnya.
Tentu saja Hana panik. Ia lantas berinisiatif menutup pintu rumahnya agar banjir tidak masuk rumah. Namun banjir yang terus meninggi akhirnya masuk ke dalam rumah melalui celah pintu hingga ketinggian air di dalam rumah mencapai setengah meter.
"Mobil saya hanyut dan ditemukan di aliran sungai wilayah Beringin. Kerugiannya ya bisa sampai Rp 500 juta. Karena peralatan elektronik di rumah juga rusak semua. Ini paling parah. Kalau banjir sebelumnya tidak sampai seperti ini," katanya.
Wakijan, warga RT 9 mengaku telah menemukan beberapa mobil yang hanyut di Sungai Beringin pada Minggu (6/11) tengah malam. Ia dan warga lain sempat menyusuri sungai hingga ke wilayah Beringin.
"Kebetulan istri saya kan kerjanya ikut pemilik mobil CRV itu (Hana). Begitu dapat kabar mobilnya hanyut, saya ikut bantu melakukan pencarian Padahal rumah saya juga kebanjiran. Awalnya ketemu mobil Honda Maestro yang posisinya terbalik, lalu ditemukan tiga mobil lain, salah satunya Honda CRV," jelasnya. Tiga mobil yang bertumpukan itu ditemukan tidak jauh dari sebuah pabrik di kawasan Beringin.
Warga Perumahan Beringin Baru RT 10 RW 8, Faizin, 50, mengungkapkan, banjir bandang kali ini karena air bah. Sejak pukul 15.00 hujan deras mengguyur. "Air bah dari kawasan industri," katanya.
Dikatakan, enam mobil hanyut hingga ke Sungai Beringin sekitar dua kilometer dari Perumahan Wahyu Utomo. Tiga mobil hanyut hingga Perumahan Beringin Baru, satu mobil ditemukan di dekat kuburan, dan satu lainnya berada di dekat jalan tol.
"Ada mobil Nissan Extrail belum ketemu, dan satu motor Yamaha Verza merah sudah diangkat di sebelah barat masjid sini,”ujarnya.
Pemilik mobil Mitsubishi Pajero merah Iwan saat ditemui di lokasi mengatakan, saat kejadian, mobil tersebut diparkir di lapangan dekat rumahnya. Sebelum banjir bandang, di lapangan ada pohon tumbang karena anginnya kencang.
“Tanggulnya ambrol hingga airnya melimpas," ujar warga RT 9 RW 6 Tambakaji ini.
Mobil Pajero seharga Rp 200 juta itu ditemukan saling bertumpukan dengan dua mobil lainnya. "Mobil saya asuransikan, Mas. Tapi belum tahu bisa diklaim atau tidak," katanya.
Sementara sejumlah warga Perumahan Wahyu Utomo saat ditanya penyebab banjir yang kerap melanda wilayahnya, mereka menuding pembangunan jalan tol Semarang-Batang ikut menjadi penyebabnya.
Hal itu disampaikan warga Perumahan Wahyu Utomo, Sugiyanti, yang rumah juga diterjang banjir.
Sugiyanti agak menggerutu dan menilai bahwa banjir ini dikarenakan dampak dari pembangunan jalan tol.
"Ini sudah terjadi tiga kali. Semua terjadi setelah adanya pembangunan jalan tol," ungkapnya.
Penilaian itu juga disampaikan oleh Hasri Wijaya. Menurut pria 27 tahun itu, yang kurang diperhatikan dari pembangunan jalan adalah penataan saluran air.
"Ini kan Sungai Sihingas alurnya S. Jadi, kalau ada aliran deras bahaya. Akhirnya dampaknya kayak gini. Airnya kenceng nggak lewat sungai tapi malah menerjang ke rumah warga sampai dindingnya hancur," katanya.
Kapolsek Ngaliyan AKP Hendrie Suryo Liquisano mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam musibah banjir bandang tersebut, dan hanya kerugian material. Pihaknya membenarkan ada delapan mobil dan lima sepeda motor hanyut.
"Ada delapan mobil yang hanyut. Enam mobil ditemukan di Beringin Baru. Satu mobil di Wahyu Asri 1 dan satu mobil di Taman Beringin 1. Masih ada yang belum terevakuasi karena medannya sulit," ujarnya.
Banjir di Tugu
Banjir di Tugu
Sementara itu, tiga kelurahan di Kecamatan Tugu terdampak banjir paling parah akibat belum ditutupnya sheet pile Sungai Beringin serta jebolnya tanggul Sungai Plumbon. Ketiga kelurahan itu, yakni Mangkang Wetan, Mangkang Kulon, dan Mangunharjo.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Senin (7/11), wilayah RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan dan RW 4 Kelurahan Mangunharjo menjadi titik terparah banjir. Banjir di RW 7 sendiri terjadi lantaran sheet pile Sungai Beringin belum ditutup karena untuk akses alat berat.
Sedangkan banjir di RW 4 Kelurahan Mangunharjo, terjadi lantaran jebolnya tanggul Sungai Plumbon. Penyebabnya tak lain adalah penyempitan aliran sungai dan sedimentasi yang sangat parah, sehingga aliran air tidak lancar.
Senin (7/11) pagi, warga membersihkan lumpur sisa banjir dibantu petugas pemadam kebakaran dan menggunakan alat seadanya. Ada pula warga yang sedang mengevakuasi barang-barang berharga ke tempat lebih aman, serta mengais reruntuhan rumah yang bisa diselamatkan.
"Nggak sempat evakuasi barang, Mas. Fokus kita cari tempat yang lebih tinggi, karena air dari Sungai Beringin cukup kencang," kata warga RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan yang sedang membersihkan rumahnya.
Ketua RW 7 Kelurahan Mangkang Wetan Mujidin menjelaskan, banjir melanda wilayahnya dan merendam ratusan rumah di RT 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Namun titik terparah di RT 8, karena letaknya tak jauh dari sheet pile yang terbuka. "Jam 16.00 itu air sudah masuk perkampungan dan langsung menyapu semua yang ada," terangnya.
Pihaknya mengaku masih melakukan pendataan jumlah rumah yang rusak akibat banjir ini. Harapannya, bisa mendapatkan bantuan dari Pemkot Semarang.
"Kalau jumlah rumah kita masih data. Fokus kita ini membersihkan rumah dari lumpur," katanya.
Selain memporak-porandakan perkampungan, lanjut Mujidin, ada 18 perahu nelayan yang hanyut. Warga pun langsung bergotong royong melakukan pencarian.
"Lima perahu rusak parah, satu masih hilang, sisanya rusak ringan," tuturnya.
Mujidin berharap agar normalisasi Sungai Beringin bisa cepat rampung. Tujuannya tak lain agar warga bisa terbebas dari ancaman banjir yang terjadi saat musim hujan.
Lain halnya di RT 4 RW 4 Kelurahan Mangunharjo, warga meminta ada perhatian pemerintah untuk melakukan normalisasi Sungai Plumbon. Apalagi pasca banjir bandang, Minggu (6/11) petang, sedikitnya ada 30 rumah warga terendam banjir setinggi lutut orang dewasa.
"Total 30 rumah yang terdampak, sebelumnya air limpas kemudian menjebolkan tanggul, sehingga banjir bandang masuk ke perkampungan," kata Ketua RT 4 RW 4 Kelurahan Mangunharjo Muhsin.
Normalisasi Sungai Plumbon, kata dia, cukup mendesak. Apalagi kondisi sungai terjadi sedimentasi atau pendangkalan yang sangat tinggi.
"Aliran air tidak lancar, sehingga banyak tanggul yang rawan jebol. Selama ini, perbaikan hanya dilakukan tambal sulam," keluhnya
Camat Tugu Pranyoto menerangkan, hanya Kelurahan Jrakah yang terbebas dari banjir. Sisanya, yakni Kelurahan Mangkang Wetan, Mangunharjo, Mangkang Kulon, Randugarut, Karanganyar, dan Tugurejo terdampak banjir. "Banjir terparah ada di tiga kelurahan, yakni Mangkang Wetan, Mangkang Kulon dan Mangunharjo,"bebernya.
Menurutnya, ada beberapa RW di Mangkang Wetan yang terdampak akibat normalisasi Sungai Beringin belun rampung, yakni di RW 1, 2, 3, dan terparah di RW 7.
"Karena sheet pile masih terbuka, jadi air langsung masuk ke rumah warga," tuturnya.
Mantan Sekcam Kecamatan Semarang Barat ini menerangkan, di Kelurahan Mangkang Kulon dan Mangunharjo, juga terdampak cukup parah lantaran ada titik tanggul yang jebol di RW 4 Kelurahan Mangunharjo. Sedimentasi sungai yang parah, membuat sungai tidak bisa menampung debit air yang tinggi.
"Ini kita koordinasi dengan DPU dan BBWS untuk perbaikan tanggul. Sementara akan ditutup menggunakan karung pasir," katanya.
Pihaknya mengaku masih melakukan pendataan rumah yang rusak akibat banjir bandang, Minggu (6/11) lalu. "Jumlah rumah yang rusak, kami masih hitung. Fokus kami adalah logistik warga," ujarnya. (fgr/mha/den/aro) Editor : Agus AP