Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Lagi, Ratusan Lapak di Johar Baru Disegel

Agus AP • Selasa, 27 September 2022 | 17:14 WIB
Petugas Satpol PP Kota Semarang menyegel lapak di Pasar Johar Selatan karena tidak ditempati pedagang. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Petugas Satpol PP Kota Semarang menyegel lapak di Pasar Johar Selatan karena tidak ditempati pedagang. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Semarang – Pemkot Semarang bertindak tegas dengan menyegel ratusan lapak di Pasar Johar Baru, khususnya di Johar Selatan karena tidak ditempati. Total ada 38 los dan 41 kios di lantai satu yang disegel. Sedangkan di lantai dua ada 150 kios yang disegel petugas Satpol PP Kota Semarang sebagai penegak peraturan daerah (perda), Senin (26/9).

Kepala Satpol PP Kota Semarang Fajar Purwoto menjelaskan, ratusan lapak itu kosong karena masih banyak pedagang yang berjualan di dua tempat, yakni di bekas relokasi Pasar Johar MAJT dan Pasar Johar Baru. Padahal sebelumnnya, pedagang harus memilih tetap di MAJT atau pindah ke Johar Baru.

“Nyatanya masih banyak pedagang yang jualan di dua tempat. Kalau mau di MAJT ya di sana aja. Kalau mau di Johar Baru ya monggo, jangan berdiri dua kaki, Pak Wali sudah minta harus pilih salah satu,” katanya usai penyegelan lapak.

Fajar menerangkan, pihaknya serius dengan penyegelan yang dilakukan. Bahkan ia enggan membuka segel jika ada pedagang yang meminta dibukakan lapaknya. Ia pun meminta Dinas Perdagangan untuk tidak memberikan klarifikasi kepada pedagang yang sudah diberi kesempatan untuk berdagang di Johar Baru, namun masih berjualan di MAJT.

“Saya nggak dolanan. Kalau sudah disegel, ya diberikan ke pedagang lain yang belum punya tempat. Nanti saya minta ketua paguyuban menyerahkan kepada pedagang yang membutuhkan. Nanti koordinasi sama Dinas Perdagangan,” tegasnya.

Terkait aktivitas perdagangan di kawasan MAJT, menurut Fajar, sampai saat ini belum ada izin untuk pendirian pasar. Pemkot, kata dia, juga telah melayangkan surat untuk tidak menghibahkan aset lapak di relokasi tersebut kepada yayasan. “Asetnya tidak akan dihibahkan,” tuturnya.

Jika memang pihak yayasan ingin membuat sebuah pasar, menurut Fajar, pihak yayasan harus mengajukan surat izin mendirikan pasar kepada pemerintah. Penutupan pasar bisa saja dilakukan jika tidak sesuai prosedur yang berlaku.

“Di MAJT ini belum ada izinnya, tapi fokus kami menata di Johar Baru. Kalau pedagang tidak mengindahkan aturan Dinas Perdagangan, maka tugas Satpol melakukan penegakan perda,” tegasnya.

Yanti, salah satu pedagang mengaku kesal lapaknya disegel. Ia mengaku sudah menempati Johar Baru sebelum lebaran. Namun ia mengaku memang masih membuka lapak di MAJT. Namun lapak yang ada di sana sudah diserahkan kepada orang lain.

“Sudah seminggu lalu lapak di sana (MAJT) berpindah tangan. Saya nggak punya lagi di sana, malah yang di sini (Johar Selatan) disegel,”sesalnya.

Menurutnya, ia lebih senang berjualan di Johar Selatan. Hanya saja, kondisinya masih sepi pembeli dibanding di MAJT.  "Di sini masih sepi, dari pagi sampai siang ini belum ada yang beli sama sekali. Saya masih bingung nanti setelah ini harus bagaimana," ucapnya.

Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Pasar Johar Surahman mengaku kecewa lantaran masih ada pedagang yang tak mau pindah dan mengikuti keputusan pemerintah. Akibatnya, saat ini Johar Baru belum bisa maksimal, karena konsentrasi pedagang maupun pembeli terbagi di dua tempat, yakni di Johar Baru dan MAJT. “Saya akan ngadu ke kepolisian, karena di MAJT ini melanggar aturan dan tak punya izin, ini membuat Johar Baru malah jadi sepi,”keluhnya.

Menurutnya, masih adanya pedagang yang membandel dan enggan pindah malah akan mematikan usaha pedagang yang ada di Pasar Johar Baru. Apalagi pasar tersebut telah diperbaiki dan dibangun dengan baik. Pihaknya juga telah mengimbau pedagang untuk segera pindah ke Johar Baru, agar pasar yang dibangun pada zaman Kolonial Belanda ini bisa kembali berjaya.

“Pedagang yang memiliki dua kaki atau berjualan di sana (MAJT) dan di sini (Johar Baru) jumlahnya memang kecil. Tapi itu mempengaruhi kepada pedagang yang lain, dan pedagang di sini jadi sepi,” terangnya. (den/aro)

  Editor : Agus AP
#Johar #PASAR JOHAR