Ketua PCNU Kota Semarang Anashom menjelaskan, jika mengacu konteks hisab sebenarnya sudah diketahui penetapan Ramadan. Namun pihaknya tetap akan menunggu datangnya hilal yang dilakukan pemerintah bersama pasar ulama. "Pemerintah menyebar ahli rukyat lebih dari 80 titik di seluruh Indonesia. NU juga akan melakukan hal yang sama. Hasilnya nanti disidangkan," katanya.
Setelah ada hasil sidang, baru bisa ditentukan dan diumumkan awal Ramadan. "Prinsipnya kami menunggu rukyatul hilal," tegasnya.
Adanya perbedaan perbedaan hisab dan rukyatul hilal untuk menentukan bulan Ramadan, lanjut Anashom, sangat mungkin terjadi. Apalagi bulan Syaban dan Ramadan bisa saja berjumlah 29 hari ataupun 30 hari. "Misalnya kalau berjumlah 30 hari di Syaban, berarti istikmal Syaban. Di Ramadan bisa 29 atau 30 hari juga," tuturnya.
Perbedaan tersebut, kata dia, sudah terjadi sejak zaman dahulu. Bahkan sudah terjadi sejak zaman Rasulullah karena harus melihat hilal. "Karena ilmu pengetahuan itu sangat dinamis sekali," pungkasnya. (den/ida) Editor : Agus AP