Kepala SD Negeri Kalibanteng 02 Nur Azizah mengatakan, untuk mengantisipasi adanya longsor susulan, ruang kelas terpaksa dikosongkan untuk menghindari bahaya. “Sehingga di kelas 6 itu saya kosongkan diganti di kelas 4 karena siswanya sedikit. Kemudian siswa kelas 4 dipindah ke ruang multimedia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (2/3/2020).
Tak hanya itu, adanya garis polisi yang membatasi longsor di halaman tersebut membuat pembelajaran olahraga juga harus berpindah tempat. Beruntung, sekolah memiliki dua lapangan, sehingga siswa dapat melakukan olahraga di sisi lapangan yang masih aman.
Diketahui, talut tersebut dibangun delapan bulan lalu. Menurut keterangan Suwarno, salah satu warga RT 7 RW 4, selain karena intensitas hujan yang tinggi, material fondasi juga kurang kuat. “Lha ini setengah jalan dan tembel-tembelan ini sudah retak setelah dibangun kemarin. Kalau kemasukan air kan berat. Lihat, fondasinya nggronggong semua itu, gak rapat,” ujarnya.
Ia bersama warga mencoba mencegah anak-anak main di sekitar lokasi. Selain ada garis polisi, ia juga membuat pagar pembatas dari bambu. Warga juga membuat batas dari semen untuk mencegah air masuk ke talut yang longsor. Suwarno berharap talut diperbaiki kembali dengan material yang lebih baik supaya awet.
Lurah Kalibanteng Kidul Suratminah menyatakan, sudah melapor kepada dinas terkait, yaitu Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang. Kemarin pagi pun sudah datang perwakilan kedua instansi tersebut untuk melihat langsung kondisi talut yang dibangun dari APBD yang fasilitasi Kecamatan Gajahmungkur. “Pada prinsipnya dari dinas terkait siap untuk membantu pembangunan lagi supaya tanah itu tidak longsor lagi,” tandasnya. (ifa/ton/bas)
https://youtu.be/YogzMhQtMAM Editor : Agus AP