RADARSEMARNG.ID, Pembelajaran matematika sering kali dihindari oleh kebanyakan siswa. Apalagi ketika tiba saatnya pembelajaran matematika dimulai seperti tidak berminat sama sekali.
Penulis sebagai guru matematika melihat permasalahan tersebut merasa tertantang untuk mencari permasalahan apa yang membuat siswa tidak begitu menyukai dengan matematika?
Apakah terletak dari guru dalam menyampaikan materi? Atau materi yang disampaikan menurut siswa adalah materi yang sulit?
Sebagai guru hendaklah berusaha menyenangkan ketika di kelas, dan mencari cara bagaimana materi yang disampaikan murid menjadi mudah paham dan mengerti.
Limit fungsi trigonometri adalah salah satu materi mata pelajaran matematika yang dipelajari di kelas 12 MIPA.
Materi yang berkaitan dengan trigonometri biasanya oleh siswa dianggap materi yang sukar untuk dipahami, karena materi trigonometri banyak rumus yang harus dimengerti siswa.
Sebagai guru haruslah tidak surut dalam berusaha untuk mengajar yang lebih baik lagi mencari cara bagaimana siswa dapat belajar dengan rasa senang dengan disertai rasa penasaran.
Bagaimana caranya di sini penulis belajar terlebih dahulu sebelum mengajar dengan mencari sumber informasi bagaimana tips mengajar matematika yang menyenangkan (blog.kejarcita.id).
Langkah awal yang penulis lakukan ketika sudah berada di kelas untuk menyampaikan materi limit fungsi trigonometri sebelumnya memberikan motivasi kepada siswa bahwa nanti materi yang kalian pelajari tidak sesukar seperti yang kalian bayangkan.
Materi awal yang disampaikan oleh guru dalam menentukan limit fungsi trigonometri adalah bentuk sederhana terlebih dahulu lalu dilanjutkan bentuk kategori sedang dilanjutkan ke level yang tinggi.
Guru selalu bersikap terbuka dalam menerima pertanyaan dari siswa yang mengalami kesulitan dan belum memahami materi tersebut. Latihan soal juga sesering mungkin diberikan kepada anak didik.
Di sini akan penulis jelaskan dalam kegiatan latihan soal yang membuat siswa tidak jenuh karena tidak monoton, dan siswa akan merasa tertantang dengan permainan game, yaitu yang penulis namakan game parsol atau lempar soal.
Cara kerja dalam permainan game parsol siswa membentuk kelompok heterogen di mana satu kelompok terdiri atas empat siswa. Masing-masing kelompok membuat satu soal yang menantang beserta jawabannya.
Soal ini menyesuaikan kriteria yang telah dibuat oleh guru. Contoh soal yang sudah diberikan guru sebagai latihan tidak diperbolehkan untuk digunakan kembali.
Setelah semua kelompok selesai dalam membuat soal beserta jawabannya, soal diberikan ke kelompok lain secara acak dengan jawaban masih tetap tersimpan.
Setelah masing-masing kelompok mendapatkan soal dari kelompok lain, mereka melanjutkan diskusi untuk membahas soal tersebut.
Kegiatan dilanjutkan presentasi secara bertahap bergiliran satu persatu menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis, dan langsung dibahas bersama.
Apabila ada jawaban yang tidak sesuai dengan sumber soal dari kelompok yang membuat soal di situlah terjadi sebuah kegiatan diskusi. Pada kegiatan diskusi guru berperan sebagai fasilitator.
Permainan game parsol ini adalah bentuk kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Para siswa semua akan termotivasi tergerak untuk berpikir, belajar dengan rasa ingin tahu yang lebih tinggi.
Kegiatan ini sepenuhnya terpusat pada siswa. Para siswa tidak akan merasa bosan di kelas yang biasa mengantuk, tidak akan mengantuk. Karena semua akan tertarik untuk membuat soal dan menyelesaiakan beberapa soal.
Apabila ada soal yang dibuat tidak sesuai dengan kriteria yang telah dibuat guru, maka kelompok tersebut akan mendapat hukuman dengan hukuman tersebut diajukan dari siswa sendiri semisal berjoget ataupun menyanyi, sehingga hukuman tersebut bersifat menghibur. (fu1/aro)
Guru Matematika SMA Negeri 01 Bawang, Kabupaten Batang
Editor : Agus AP