Bahasa yang cepat dan singkat lebih banyak dipilih, dibandingkan dengan bahasa yang baik dan benar. Pemilihan kata yang digunakan menyatakan pikiran dan perasaannya dalam suatu cara yang sesuai dengan apa yang maksud, namun masih belum bisa menerapkan kosakata yang baik dan benar.
Maka dari itu, di sekolah perlu pengembangan struktur dan kebahasaan dalam puisi rakyat pada pembelajaran bahasa Indonesia.
Puisi rakyat memiliki beberapa pengertian, di antaranya, pertama, puisi rakyat sebagai warisan budaya bangsa yang harus dipelihara. Kedua, puisi rakyat sebagai salah satu genre folklor lisan. Sehingga puisi rakyat merupakan salah satu dari sastra yang berbentuk lisan yang patut dibina dan dikembangkan agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.
Dalam puisi rakyat memiliki beberapa jenis yaitu pantun, syair, dan gurindam. Ketiganya memiliki ciri khas masing-masing yang membedakan satu sama lain dan memiliki kelebihannya masing-masing. Sehingga fokus pada pembelajaran bahasa Indonesia ini lebih menganalisis struktur dan kebahasaan.
Struktur dan kebahasaan puisi rakyat saat ini masih terdapat beberapa kendala dalam pemahamannya, baik itu siswa atau guru, bahwa materi yang terkait pada kurikulum sebelumnya masih dirasa menyulitkan. Penyebabnya bisa dari pembelajaran dengan metode saintifik yang diterapkan masih belum efektif. Sehingga siswa kurang mampu dalam menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat (pantun, syair, dan gurindam).
Pada kurikulum merdeka saat ini siswa dan guru, diharapkan lebih memahami dan mampu menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat. Terkait pembelajaran tersebut, diperlukan metode pembelajaran salah satunya yaitu metode komunikatif berbasis teks.
Metode komunikatif dalam Yunita dan Pebrian (2020) merupakan metode yang lebih mengutamakan kreativitas dari para siswa dalam melakukan latihan. Tahap ini melibatkan guru sebagai Instruktur/Tutor secara langsung tidak lagi diprioritaskan. Tujuannya untuk memberikan kesempatan bagi siswa dalam mengembangkan kemampuannya sendiri.
Hal tersebut menekankan pada siswa untuk lebih banyak berbicara. Secara psikologis, setiap kelas memiliki kecenderungan, pandangan dan kemampuan kolektif yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru harus lebih pandai dalam memanfaatkan kondisi tersebut, supaya di setiap pembelajaran dapat memberikan kegairahan dan kesan tersendiri bagi mereka.
Kemudian pembelajaran berbasis teks lebih melibatkan proses, di mana guru membantu siswa dalam memproduksi teks dan secara bertahap mengurangi bantuan tersebut sampai siswa mampu memproduksi teks sendiri.
Sehingga metode komunikatif berbasis teks dalam pembelajaran bahasa Indonesia lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat berkembang dengan lebih baik dalam berbicara dan kemudian dituangkan dalam sebuah teks berupa puisi rakyat.
Terkait hasil telaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat (pantun, syair, dan gurindam) dengan memanfaatkan metode komunikatif berbasis teks yang dihasilkan siswa kelas VII SMP Negeri 3 Salaman cenderung baik.
Siswa mampu menelaah puisi rakyat sesuai indikator dengan benar. Kemampuan siswa dalam menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat (pantun, syair, dan gurindam) menunjukkan, bahwa metode komunikatif berbasis teks sangat cocok diterapkan. Penerapan metode komunikatif berbasis teks memberikan pembaharuan dalam pembelajaran yang dapat memudahkan siswa dalam mengingat dan memahami materi yang dibaca dan kemudian ditulis oleh siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. (kj2/ida)
Guru SMP Negeri 3 Salaman Editor : Agus AP