Kegiatan pembelajaran Bahasa Jawa kelas X di SMK Negeri 3 Tegal masih belum bisa berjalan secara maksimal. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran menelaah isi teks pranatacara. Mereka belum bisa memahami kata atau kalimat yang tertulis didalam teks, misal diksi yang menggunakan ragam Bahasa krama atau bahkan Bahasa rinengga dalam teks tersebut. Selain itu Kegiatan pembelajaran yang terjadi masih searah. Siswa terfokus pada guru serta buku pelajaran pada saat guru menyampaikan materi. Pemahaman dan penguasaan materi dari siswa yang masih minim tentang Bahasa Jawa ditambah dengan kurangnya variasi dalam memilih metode dan media pembelajaran menjadikan siswa menjadi bosan dan jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran. Akibatnya hasil nilai yang didapat pada penilaian harian masih banyak yang belum mencapai ketuntasan minimum. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan memilih metode pembelajaran yang menarik.
Menurut Wijaya (2004: 12) metode Modeling the Way adalah Penyajian pembelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Adapun langkah-langkah metode Modelling the Way adalah sebagai berikut: Setelah penyampaian materi pranatacara , siswa diminta untuk mempersiapkan praktik keterampilan yang baru diterangkan. Selanjutnya, guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah mereka. Guru memberi waktu 10-15 menit kepada siswa untuk membuat teks pranatacara. Siswa diberi waktu selama 5- 7 menit untuk berlatih, Secara bergiliran tiap kelompok diminta mendemonstrasikan kerja masing-masing. Setelah demonstrasi selesai, beri kesempatan kepada kelompok yang lain untuk memberikan masukan pada setiap demonstrasi yang dilakukan. Terakhir, Guru memberi penjelasan secukupnya untuk mengklarifikasi.
Aktifitas pembelajaran Pranatacara dengan metode pembelajaran Modelling The Way pada siswa kelas X SMK Negeri 3 Tegal dapat mengembangkan dan melatih sikap, nilai dan keterampilan siswa. Siswa tidak hanya menghafal materi yang diberikan guru, namun siswa dapat memahami yang dipelajari dan mampu menelaah materi pranatacara dengan baik. Dilihat dari ketuntasan klasikal hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari 53,2% meningkat menjadi 82,7%, dengan demikian indikator keberhasilan telah tercapai dengan baik. (gb1/zal)
Guru SMKN 3 Tegal. Editor : Agus AP