
RADARSEMARANG.ID, KLASIFIKASI hasil belajar menurut Benyamin Bloom (Nana Sudjana, 2010:22-23) yaitu ranah kognitif (hasil belajar intelektual), afektif (sikap), dan psikomotorik (hasil belajar berupa ketrampilan dan kemampuan bertindak).
Hasil belajar inilah yang nantinya menjadi model dalam proses pembelajaran selanjutnya. Yakni, pembelajaran yang mengembangkan tiga aspek ranah belajar, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Karena itu, peran guru menjadi sangat penting. Terutama metode yang digunakan dalam proses pembelajaran mampu mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam memahami pelajaran atau tidak.
Termasuk guru harus mengetahui dan mengenali gaya belajar siswa, apakah kategoril visual, auditori, atau kinestetik.
Pembelajaran yang mengombinasikan ketiga gaya tersebut cenderung lebih baik diterapkan daripada bergantung pada salah satunya saja.
Sebagaimana pepatah, “Aku dengar, aku lupa, aku lihat, aku ingat, aku lakukan, aku pahami. (Kong Fu Tse).”
Jadi, ketika guru menjelaskan dengan metode pengajaran yang mengikutsertakan keterlibatan peserta didik dan memperagakannya, besar kemungkinan lebih diingat meskipun kemungkinan lupa masih ada.
Jika guru memberikan tugas untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan mengetahui tujuan pembelajaran yang diberikan kepadanya.
Dengan demikian, kemungkinan besar peserta didik akan terbiasa. Maka ilmu pengetahuan yang diperoleh bermanfaat dalam kehidupannya.
Ketika peserta didik bisa merasakan manfaat pembelajaran dalam kehidupan nyata, maka bisa dipastikan bahwa antusiasme serta motivasi peserta didik untuk belajar akan sangat tinggi.
Berdasarkan hal itu, saat peserta didik kelas IX SMPN 1 Doro menemukan kesulitan untuk menangkap makna dalam monolog pendek sederhana dalam pembelajaran text procedure berbentuk resep dan manual, Direct Method atau Nature Method menjadi solusi pilihan.
Direct Method atau Nature Method diperkenalkan oleh Francois Gouin dan Charles Berlitz di Perancis. Metode ini memiliki satu aturan yang sangat mendasar.
Tidak boleh ada penerjemahan (ke dalam bahasa ibu) dalam bentuk apapun. Oleh karena itu, dalam direct method, makna yang ingin disampaikan langsung menggunakan bahasa target melalui penggunaan demonstrasi dan alat bantu visual.
Sedangkan kata-kata yang bersifat abstrak diperkenalkan melalui asosiasi ide, tanpa menggunakan bahasa asli peserta didik.
Di sini berbicara dan menyimak diajarkan sekaligus dengan menekankan pada ketaatan ucapan dan tata bahasa.
Langkah pertama, yang dilakukan saat menggunakan metode ini dalam menangkap makna monolog procedure text adalah menyajikan materi secara lisan, mengucapkan satu per satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu, memperagakan sebuah gerakan atau mimik wajah.
Peserta didik menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya. Dilanjut mengecek pemahaman peserta didik berupa tanya jawab dengan kata tanya what, where, dsb, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan.
Setelah guru yakin bahwa peserta didik menguasai materi, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, peserta didik diminta mencermati text procedure sederhana yang diberikan oleh guru.
Kemudian mereka diminta memperhatikan guru yang mempraktekkan text procedure tersebut di depan kelas, kemudian peserta didik diminta membaca secara bergantian.
Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada, dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis.
Tata bahasa dalam pembelajaran dengan Direct Method ini diberikan secara induktif.
Dengan pembelajaran melalui Direct Method seperti ini, peserta didik akan lebih mudah menangkap makna dari monolog text procedure dan mempraktikkannya dengan lafal yang lebih baik.
Selain itu peserta didik juga dapat meningkatkan kemampuan menyimak listening comprehension sekaligus kemampuan speaking. (bw1/ida)
Oleh : Rahayu Puspaningrum, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Doro, Kabupaten Pekalongan
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




