RADARSEMARANG.ID, TEMANGGUNG – Ribuan warga Lembah Dawuhan, Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung menggelar ritual Sewu Kupat atau seribu ketupat, Jumat (1/9). Tradisi ini untuk mengenang perjuangan mencari sumber mata air Lenging.
Ribuan warga memadati sepanjang aliran air Lembah Dawuhan. Mereka mengikuti doa bersama dan pembacaan kidung. Beberapa warga tampak memikul gunungan tumpeng menuju titik acara.
Warga mengawali ritual dengan peletakan sesaji. Selanjutnya, sesepuh desa setempat membakar menyan. Kemudian menyimak cerita sejarah tentang Lembah Dawuhan, mengikuti doa dan pembacaan Kidung.
Usai pembacaan kidung, sesepuh dan pejabat desa melepaskan ayam untuk diperebutkan warga. Selain itu, 5000 lebih ketupat dibagikan kepada warga.
Kepala Desa Ngemplak Sri Astuwidi Subagyo menuturkan, kegiatan ini rutin digelar setiap tahun, pasang sesaji dan kidung.
Tujuannya untuk mengingatkan tentang mata air ini tidak semata-mata ada begitu saja. Tapi, dulu ada perjuangan Kiai Lenging dan Nyai Lenging. Mereka yang mengupayakan sumber mata air ini dalam waktu lama.
“Dahulu, Mbah Kiai Lenging menyuruh agar di desa ini ada saluran air. Setiap hari berangkat ke bukit untuk membuat saluran air. Setiap kali berangkat, dibekali 1 ketupat oleh Nyai Lenging. Nyai Lenging selalu mencoret hari dari awal Kiai Lenging ke bukit, di rumah sebagai tanda. Sampai 999 hari aliran air tak kunjung muncul,”tuturnya.
Nyai Lenging lantas menarik stagen sepanjang 8 kilometer arah selatan atau puncak bukit. Alhasil, tanah yang terkena selendang atau stagen menjadi saluran air.
Hidayatul Ma’arif warga setempat berharap, ke depan panenan pertaniannya lancar. Setiap tahun dia selalu mengikuti ritual ini. (din/lis)
Editor : Agus AP