RADARSEMARANG.ID - OpenAI dan Google DeepMind menjadi sorotan mata dunia terkait penggunaan teknologi AI (Artificial Intelligence).
Melalui sekelompok karyawan dan mantan karyawannya, mereka mengkhawatirkan bahaya risiko penggunaan teknologi AI.
Diketahui, penggunaan teknologi AI atau kecerdasan buatan akhir-akhir ini memang semakin marak digunakan masyarakat.
Namun begitu, mereka menyuarakan secara kritis atas bahaya risiko AI dengan mendatangani sebuah surat terbuka yang dirilis pada 4 Juni 2024.
Surat terbuka tersebut menyoroti bagaimana motif keuangan perusahaan AI dapat menghambat pengawasan secara efektif.
Mereka juga memperingatkan tentang bahaya risiko AI dari regulasi tidak tepat, yang berpotensi digunakan untuk menyebarkan informasi salah.
Selain itu, bahaya risiko lainnya bisa merusak sistem AI independen, dan membuat ketidakadilan yang ada.
Bahkan, mereka tidak segan-segan menyebutkan bahaya risiko tersebut dapat berujung pada “kepunahan manusia”.
Menurut informasinya, surat tersebut juga mencatat bahwa perusahaan AI memiliki “kewajiban yang lemah”.
Hal itu dikarenakan untuk berbagi informasi dengan pemerintah tentang kemampuan sistem mereka masih memiliki keterbatasan.
Mereka menambahkan, dua perusahaan AI yang dimaksud tidak dapat diandalkan untuk berbagi informasi secara sukarela.
Menurut mereka, perusahaan AI sering kali mengejar keuntungan finansial tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan etis dari teknologi yang mereka kembangkan.
Mereka berpendapat, tanpa pengawasan yang efektif teknologi AI dapat digunakan untuk tujuan yang merugikan masyarakat.
Kemudian, kelompok karyawan ini mendesak perusahaan AI memberikan fasilitas untuk mengungkapkan resiko tanpa adanya perjanjian yang dirahasiakan.
Mereka berharap adanya transparansi dan dialog terbuka dengan OpenAI dan Google DeepMind, agar risiko bahaya teknologi AI yang ditimbulkan dapat diminimalisir.
Editor : Baskoro Septiadi