RADARSEMARANG.ID, SEMARANG- Jika Sobat Radar melewati jalur Solo-Semarang, ada satu pemandangan yang tak mungkin terlewatkan saat memasuki wilayah Boyolali.
Bukan gedung pencakar langit, melainkan sosok sapi perah raksasa yang terlihat gagah, seolah menyapa setiap pengendara yang lewat.
Boyolali dan sapi adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan. Julukan New Zealand van Java atau “Selandia Baru-nya Jawa” bukan sekadar sebutan tanpa makna saja.
Padahal, di balik foto-foto estetik yang sering ber-sliweran di media sosial itu, ada cerita pasang surut yang jarang orang ketahui lho!
Dulu, keberadaan patung ini sempat bikin geger dan menuai protes dari warga setempat. Siapa sangka, yang dulunya diperdebatkan kini justru jadi wajah kebanggaan Boyolali yang dikenal banyak orang.
Kota Susu dan Identitas yang Mengakar
Sebelum membahas patungnya, kita harus paham, “Mengapa sapi?” Melansir data dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, populasi sapi perah di wilayah ini memang luar biasa banyak.
Boyolali konsisten menjadi penyumbang terbesar produksi susu segar di Jawa Tengah.
Bahkan, keberadaan patung-patung ini memperkuat branding Boyolali di kancah internasional sebagai produsen susu dan daging berkualitas. Simbol ini sejalan dengan prestasi Boyolali yang kerap menjadi rujukan studi banding daerah lain soal peternakan modern.
Dilansir juga dari catatan resmi PPID Boyolali, deretan ikon unik ini ternyata bukan cuma buat gaya-gayaan.
Pemerintah setempat memang sengaja merancangnya agar Boyolali semakin nyaman dikunjungi tanpa kehilangan jati dirinya.
Dari perjalanan panjang si 'Sapi Raksasa' ini, kita jadi sadar satu hal bahwa budaya lokal jika digarap dengan visi yang pas, ternyata bisa banget jadi kebanggaan kelas dunia.
Dari sejarah panjang dan berliku, Patung Sapi Boyolali mengajarkan kita satu hal bahwa identitas lokal, jika dikelola dengan visi yang tepat, bisa menjadi kebanggaan global.
Kini, patung tersebut berdiri tegak, bukan hanya sebagai beton mati, melainkan saksi bisu transformasi Boyolali menjadi kota yang maju tanpa melupakan akar “susu” nya.
Jadi, kapan nih, Sobat Radar mampir dan berfoto di depan sang Lembu Sora?(ana)
Editor : Tasropi