Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Reuni, Sebelum Kursi-Kursi Itu Makin Banyak yang Kosong

I
Penulis: Iskandar❯
Iskandar.
Iskandar.

Advertisement

Oleh: ISKANDAR

Jurnalis Jawa Pos RAdar Semarang

RADARSEMARANG.ID - Kita sudah tidak muda lagi. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Tapi, itulah fakta yang pelan-pelan harus kita terima. Sebagian besar dari kita yang pernah duduk di bangku SMA Pius Tegal angkatan 1991, sekarang sudah berada di usia 50 tahun lebih. Sudah banyak yang rambutnya beruban. Banyak juga yang penglihatannya harus dibantu kacamata.

Advertisement

Bahkan, ada yang mulai bawa obat ke mana-mana. Ada yang sudah berstatus kakek- nenek. Ada yang masih sibuk kerja, dagang, tapi juga yang mulai menikmati hari-hari tuanya dengan tenang. Tiga puluh lima tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan akan berada di titik ini.

Dulu, rasanya waktu masih panjang. Jika hari ini tak sempat ketemu teman, besok masih ada kesempatan. Jika tahun ini tidak bisa berkumpul, masih ada tahun depan. Sekarang, cara pandang itu sudah semestinya berubah. Sebab, kita mulai menyadari bahwa waktu tidak selalu menyediakan kesempatan kedua.

Advertisement

Beberapa teman kita bahkan sudah lebih dulu menghadap sang pemilik hidup: Tuhan Yang Maha Kuasa. Nama mereka mungkin masih tercatat dalam daftar alumni. Foto mereka masih tersimpan di album. Cerita tentang mereka sesekali muncul dalam percakapan di grup WhatsApp.

Mereka sudah tidak bisa datang ke reuni. Tapi, anehnya, mereka tetap hadir. Hadir melalui cerita. Hadir melalui tawa ketika seseorang mengingat tingkah mereka semasa sekolah. Hadir melalui kalimat sederhana, "Ingat nggak dulu dia pernah begini?"

Lalu, kita semua tertawa. Mungkin di situlah kita mulai memahami bahwa pertemanan tidak sepenuhnya berakhir ketika seseorang telah pergi. Ada bagian dari dirinya yang tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah melintasi waktu bersamanya.

Karena itu, reuni pada usia seperti sekarang, sesungguhnya punya makna yang berbeda dibandingkan ketika kita masih muda. Reuni bukan lagi sekadar ajang nostalgia. Bukan soal siapa yang sekarang menjadi pejabat, pengusaha, profesional, atau siapa yang paling berhasil dalam hidup. Pada usia 50-an, kita seharusnya tidak lagi datang untuk menunjukkan pencapaian. Kita datang untuk bertemu manusia.

Teman-teman yang mengenal kita jauh sebelum kita punya jabatan, gelar, rumah, kendaraan, atau status sosial seperti sekarang. Mereka mengenal kita ketika kita masih SMA. Ketika hidup belum terlalu banyak memberikan label. Mereka mengenal nama kita tanpa embel-embel apa pun. Mungkin itu sebabnya pertemuan dengan teman lama sering terasa begitu berbeda. Ada semacam keakraban yang tidak perlu dibangun dari awal.

Advertisement
Editor : Baskoro Septiadi
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer