Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Silaturahmi atau Inspeksi?

I
Penulis: Iskandar❯
Iskandar.
Iskandar.

Advertisement

 

Oleh: Iskandar

Jurnalis Jawa Pos Radar Semarang

Advertisement

RADARSEMARANG.ID - SEPEKAN lalu, sebuah pesan singkat mampir ke ponsel saya. Sekilas saya baca pengiriminya. Teman lama. Puluhan tahun tak jumpa. Puluhan tahun juga gak ngobrol. Ini pasti penting, pikirku. Karena waktu itu saya lagi nyetir, saya janji akan hubungi dia setelah sampai ke lokasi tujuan. Singkatnya, saya hubungi dia. Via text. Tak perlu saya sebut namanya, demi menjaga ruang personalnya. Melalui serangkaian baris kalimat via WA, ia menumpahkan keresahan yang selama ini mengganjal hatinya dan perlu POV penilaian dari seseorang.

Alurnya bermula ketika ia berulang tahun. Tiba-tiba saja, puluhan teman lama masa sekolahnya, menyambangi rumahnya. Mereka datang atas inisiatif sendiri. Tidak diundang, Yang pasti, mereka membawa senyum, juga mengucapkan selamat. Padahal, sebagian dari mereka, tidak intens berinteraksi. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti kejutan yang manis. Namun, bagi teman saya, kedatangan mereka justru memicu tanda tanya besar. Dia meragukan sebuah ketulusan. Apakah mereka datang murni untuk merayakan ulang tahunnya. Atau ada misi tersembunyi? 

Pertanyaan teman saya cukup menarik. Sebab, dalam kehidupan sosial, sebuah tindakan yang sama, bisa menghasilkan makna yang berbeda bagi orang yang menerimanya. Seseorang datang membawa kue dan menyampaikan ucapan ulang tahun. Bagi orang lain, mungkin itu bentuk perhatian. Tapi belum tentu bagi teman saya, Ia justu merasa seperti tengah diinspeksi. Apalagi, jika ada sejarah yang membuat pertemuan itu menjadi tidak sederhana.

Teman saya ini bukan sosok biasa di masa sekolah dulu. Dia paket lengkap: cantik, lahir dari keluarga berada, populer, dan selalu menonjol di kalangan teman-temannya. Sebuah ikon yang selalu dilirik. Jalinan rumah tangganya memang kurang beruntung. Statusnya kini single parents. Di sinilah persoalannya.

Teman saya yakin betul, kedatangan mereka yang tiba-tiba ini didorong oleh rasa kepo yang membuncah. Mereka ingin melihat langsung bagaimana kondisi sang "bintang sekolah" setelah hidupnya tidak lagi sama. Dan, tebakan terbesarnya adalah statusnya yang membuat rasa penasaran teman-temannya. Bisa jadi benar. Bisa juga tidak. Tetapi perasaan tidak nyaman itu tetap nyata. Sebab, manusia tidak hanya membaca apa yang dilakukan orang lain. Kita juga membaca kemungkinan alasan di balik tindakan itu.

Dalam psikologi sosial, ada teori social comparison yang diperkenalkan Leon Festinger. Secara sederhana, manusia memiliki kecenderungan membandingkan dirinya dengan orang lain untuk memahami posisi dirinya sendiri. Dulu, ketika mereka masih sekolah, teman saya mungkin menjadi salah satu titik pembanding itu. Cantik, popular, the have.

Lalu waktu berjalan dan semua orang menjalani kehidupannya masing-masing. Ketika seseorang yang dulu berada di posisi "atas" tiba-tiba mengalami perubahan besar dalam hidupnya, sangat mungkin muncul rasa ingin tahu dari orang-orang yang pernah mengenalnya. Bukan selalu karena iri. Bukan pula selalu karena niat buruk. Kadang hanya karena manusia memang penasaran terhadap perubahan. "Bagaimana kabarnya sekarang?" "Seperti apa kehidupannya setelah sekian lama?" "Benarkah yang saya dengar?" 

Advertisement
Editor : Baskoro Septiadi
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer