RADARSEMARANG.ID, Semarang — Setiap tahun masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini yang berlangsung setiap tanggal 21 April.
Kartini yang bernama lengkap RA Kartini Djojoadhiningrat adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita.
Baca Juga: Jadwal Piala Dunia U-17 2025 dan Daftar Tim yang Lolos
Selama perayaan Hari Kartini, banyak sekolah, perusahaan, bahkan kantor pemerintahan dan swasta ikut merayakan momen ini.
Mengapa Hari Kartini diperingati?
Tujuan peringatan Hari kartini adalah untuk memperingati dan menghormati perjuangan R.A. Kartini yang telah mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di era modern,
Lalu apakah 21 April termasuk libur nasional?
Baca Juga: VIRAL! Film Bidaah Sedot 1 Miliar Penonton, Bagaimana Ajaran Walid yang Mengaku Imam Mahdi?
Hari Kartini libur nasional atau bukan?
Peringatan hari Kartini diperingati tanggal 21 April bertepatan dengan hari kelahiran R.A. Kartini pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah.
Hari Kartini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964.
Lewat keputusan tersebut, Kartini juga diangkat sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Berdasarkan SKB 3 Menteri tentang hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2025, Ada satu tanggal merah yang menjadi tanda siswa libur sekolah termasuk masyarakat umum.
Yaitu, tanggal 18 April 2025 bertepatan dengan perayaan Wafat Isa Almasih.
Baca Juga: Daftar 7 Libur Panjang Setelah Libur Lebaran 2025
Sehingga, 21 April tidak termasuk hari libur nasional atau tanggal merah.
Tanggal 21 April 2025 jatuh pada hari Senin yang menjadi momen awal pekan.
Profil RA Kartini
RA Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa.
Ayahnya adalah Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.
Sedangkan ibunya bernama M.A. Ngasirah.
Ayahnya adalah putra dari Bupati Demak Pangeran Ario Tjondronegoro.
Pada saat itu ia menyekolahkan semua anaknya ke Europese Lagere School (ELS), sekolah gubernurmen kelas satu (setara SD) yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.
Kartini mulai sekolah pada tahun 1885.
Setamat ELS, Kartini ingin meneruskan ke Semarang yaitu di HBS.
Namun sang Ayah tak memberi izin.
Pada saat itu masih ada tradisi yang mewajibkan anak perempuan yang berusia 12 tahun hari menjalani masa pingitan, yang membatasi kebebasan fisik dan sosialnya.
Baca Juga: Segini Besarnya Gaji PNS dan Pensiunan Setelah Resmi Naik 16 Persen, Begini Kata Menkeu Sri Mulyani
Sejarah R.A. Kartini dalam menempuh pendidikan bisa dibilang istimewa dan berliku.
Sebab ia merupakan anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan di Europesche Lagere School (ELS) atau sekolah dasar Eropa.
ELS merupakan sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak Bangsa Eropa dan Belanda Indo.
R.A. Kartini bisa mendapat kesempatan masuk ELS dikarenakan ia adalah anak dari pejabat tinggi pemerintah.
Baca Juga: Kok BIsa? Abu Janda Alias Permadi Arya Dikabarkan Jadi Komisaris BUMN
Bahasa pengantar di ELS adalah bahasa Belanda, sehingga R.A. Kartini bisa meningkatkan kemampuan bahasanya.
Proses pendidikan yang dijalani oleh R.A. Kartini di ELS menjadikan dirinya mampu menempatkan diri dengan baik dalam pergaulan.
Namun sayang, R.A. Kartini yang saat itu ingin melanjutkan pendidikan ke HBS Semarang justru ditentang ayahnya.
R.A. Kartini dipaksa untuk menjadi putri bangsawan sejati dengan mengikuti adat istiadat yang berlaku dan ia banyak menghabiskan waktu di rumahnya atau masa dipingit (pingitan).
Sejak lulus dari ELS dan tidak melanjutkan pendidikan, kehidupan R.A.
Baca Juga: Cara Cetak Kartu, Lokasi, Jadwal Tes PPPK 2024 Tahap 2 Sudah Dirilis, Segera Cek!
Kartini dinilai sangat tertutup karena ia merasa dirinya dikurung dan dibatasi pergaulannya.
Padahal saat itu usianya masih sangat belia yaitu 13 tahun, usia yang sangat produktif untuk belajar banyak hal dari dunia luar.
Sehari-hari, R.A. Kartini dipaksa belajar menjadi putri bangsawan sejati yang selalu diam seperti boneka dan membiasakan diri untuk berbicara dengan suara halus dan lirih.
Ia juga harus berjalan setapak demi setapak dan menundukkan kepala jika anggota keluarga yang lebih tua lewat, serta masih banyak lagi aturan-aturan adat lain yang harus dipatuhi.
Dalam masa pingitan, kehadiran sahabatnya yang bersedia menjenguk yaitu Letsy Detmar bisa menjadi pelipur lara karena R.A. Kartini banyak diceritakan tentang dunia luar olehnya.
Baca Juga: Klaim Sekarang Kode Redeem ML Mobile Legends Hari Ini, Saatnya Cek yang Terbaru Bulan April 2025
Sehari-hari dalam masa pingitan, R.A. Kartini terus tekun belajar dan membaca. Namun dirinya merasa sia-sia jika belajar tanpa adanya guru.
Meski masa pingitan harus dijalani R.A. Kartini dengan penuh kesepian, kesedihan, dan ketidakadilan, hal itu tidak membuatnya putus asa.
Sebab R.A. Kartini mempunyai mimpi besar yaitu ingin memajukan perempuan kalangan bangsawan yang di mulai dari mengubah kebiasaan lama di keluarganya terlebih dulu.
R.A. Kartini juga sering menikmati buku-buku bacaan untuk menambah pengetahuan, menulis catatan hingga surat.
Dengan membaca, R.A. Kartini jadi mempelajari dan memahami pemikiran-pemikiran emansipasi yang berkembang di belahan dunia lain.
Baca Juga: Klaim Sekarang Juga Kode Redeem FF 250 Token Celana Angel Merah dan 200 Token Sepatu Risen Sneakers
Pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi Kartini dalam mewujudkan terciptanya kesetaraan manusia dan kemanusiaan.
Sejak saudari perempuannya R.A. Soelastri menikah dan ikut sang suami, R.A. Kartini menempati kedudukan sebagai putri kedua yang berhak mengatur semua urusan adiknya.
Hak R.A. Kartini untuk mengatur adik-adiknya dimanfaatkan dengan baik untuk melakukan perubahan-perubahan.
Tradisi feodal yang memberikan hak istimewa kepadanya tidak digunakan, adik-adiknya tidak lagi harus menyembah dirinya dan tak perlu berbicara dengan bahasa Jawa krama inggil.
Perubahan yang dilakukan oleh R.A. Kartini merupakan bentuk perombakan terhadap tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kalangan bangsawan.
Baca Juga: Apa Benar Tarian THR Mirip dengan Tarian Hora Yahudi?
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh R.A. Kartini perlahan bisa menjadikan aturan-aturan pingitan melonggar.
Berkat kesabaran dan upayanya yang pantang menyerah, kini R.A. Kartini mendapat dukungan dari tiga saudarinya.
Ia juga dilibatkan untuk mengikuti tugas sang ayah ke desa-desa di Jepara untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, R.A. Kartini pernah melakukan perjalanan dinas bersama ayahnya ke Batavia untuk mendapat beasiswa pendidikan di Belanda, tetapi usahanya itu gagal.
Berita tentang keinginan R.A. Kartini untuk melanjutkan pendidikan menjadi bahan pembicaraan di Hindia Belanda dan di Belanda.
Terutama saat kunjungan anggota parlemen Belanda Van Kol ke Jepara yang diberitakan dalam surat kabar De Locomotief tanggal 25 April 1902.
Kemampuan Kartini yang dinilai sangat luar biasa itu mendorong Van Kol memberikan tawaran untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda dengan biaya dari pemerintah.
Usahanya kali ini berhasil dan mendapat restu dari kedua orang tuanya.
Namun R.A. Kartini justru terhasut saran lain dari Mr. J.H. Abendanon yang membuatnya membatalkan niat sekolah di Belanda.
Sejak mengikuti saran Mr. J.H. Abaendanon dan gagal batal sekolah di Belanda, R.A. Kartini sempat mengalami sakit keras karena masalah batin.
R.A. Kartini juga mengirimkan surat kepada teman-temannya di Belanda dan memohon agar mereka tidak menjauhinya karena kecewa dengan keputusannya itu.
Baca Juga: BI Checking Sudah Tidak Dipakai Lagi, Ganti Program Ini Untuk Cek Skor Kredit
Kartini berusaha menjelaskan kepada teman-temannya tentang budaya masyarakatnya yang masih belum semaju masyarakat di Belanda.
Penjelasan tersebut menjadikan mereka tetap bersedia menjalin hubungan baik dengan Kartini, walaupun pada awalnya merasa perjuangannya dikhianati.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, akhirnya R.A. Kartini dan Roekmini saudarinya mendirikan sekolah untuk anak perempuan yaitu Sekolah Kartini.
Murid-murid sekolah umumnya anak-anak priyayi yang ada di kota Jepara sehingga sekolah tidak perlu menyediakan penginapan.
Murid-murid di sekolahnya belajar membaca, menulis, menggambar, tata krama, sopan-santun, memasak, serta membuat kerajinan tangan.
Baca Juga: Pewaris Maulid Dhiba Habib Ali Bin Sholeh Al Athos Meninggal Dunia, Ini Sosok Profilnya
Aktifitas R.A. Kartini di sekolah menjadikannya melupakan rasa pedih karena gagal berangkat ke Belanda.
Sampai satu hari, R.A. Kartini dilamar oleh Bupati Rembang Raden Adipati Djojo Adiningrat.
Namun sang ayah sempat bimbang karena anaknya itu pernah memutuskan untuk tidak menikah.
Setelah meminta waktu untuk berpikir kembali dan meminta saran dari saudari lainnya, R.A.
Kartini pun menyetujui lamaran Raden Adipati Djojo Adiningrat dengan beberapa persyaratan.
Baca Juga: Film Spider Man Terbaru: Beyond the Spider-Verse Siap Tayang Begini Ceritanya
Kendati begitu, Raden Adipati Djojo Adiningrat tidak mempermasalahkan keinginan R.A. Kartini dan ia tetap diperbolehkan mendirikan dan mengurus sekolahnya.
Pernikahan R.A. Kartini yang semula direncanakan pada 12 November 1903, atas permintaan Bupati Rembang dimajukan menjadi 8 November 1903.
Sesuai permintaannya, pernikahan R.A. Kartini dan Raden Adipati Djojo Adiningrat ini tidak disertai dengan upacara mencium kaki mempelai laki-laki oleh mempelai perempuan.
Mempelai laki-laki hanya mengenakan pakaian dinas, sedangkan mempelai perempuan hanya memakai pakaian seperti keseharian biasa. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi