Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ahli Hukum UGM Yogyakarta Tanggapi Kontroversi Film Dirty Vote, Dekan Fakultas Respon Begini

Aris Hariyanto • Kamis, 15 Februari 2024 | 20:34 WIB
Kontroversi Film Dirty Vote.
Kontroversi Film Dirty Vote.

RADARSEMARANG.ID - Film Dirty Vote yang dirilis pada Pada 11 Februari 2024 telah mencatatkan enam juta penayangan pada hari pertama.

Film dokumenter Dirty Vote ini melibatkan tiga ahli hukum tata negara, termasuk Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M., pakar hukum dari UGM.

Singkatnya, film Dirty Vote merupakan laporan riset yang mengungkap kecurangan dalam pemilu dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Usai Dirilis, Film Dokumenter Dirty Vote Ramai Disorot Publik, Ternyata Begini Isinya

Terdapat tiga pakar hukum yang menyusun film Dirty Vote ini, yaitu Feri Amsari, Bivitri Susanti, dan Zainal Arifin.

Poin film ini membahas tentang fenomena politik menjelang pemilu seperti ketidaknetralan pemerintah, penyaluran anggaran yang tidak tepat sasaran, pelanggaran etik, dan lainnya.

Sedangkan durasi presentasi dari film dokumenter Dirty Vote ini diketahui sepanjang 1 jam 57 menit.

Dalam suatu diskusi di Fisipol UGM pada Selasa (13/1), pakar hukum UGM, Dr. Zainal Arifin Mochtar mengatakan “Awalnya itu kita membuat riset tentang pemilu, kemudian datanglah Dhandy, dia baca baru kemudian dia tertarik untuk dibuatkan film”.

“Lalu dia bilang untuk mengajak kami bertiga dalam film ini. Akhirnya dikaji lagi riset ini sebelum dibuatkan dalam film, kemudian kita perdebatkan,” ungkap Zainal yang dikutip dari laman ugm.ac.id.

Menurutnya, proses pembuatan film Dirty Vote sangat berhati-hati mengingat isu politik dapat memantik reaksi besar dari masyarakat.

Hal tersebut terbukti dengan rilisnya film Dirty Vote telah menuai berbagai reaksi dan kontroversi di tengah masyarakat.

Masih menurut Zaenal, kepentingan dan kecurangan dalam pemilu bukan hal baru dalam demokrasi.

Masalah tersebut sulit diatasi dan telah menjadi permasalahan yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, pentingnya film Dirty Vote sebagai bentuk kritik untuk memberikan pandangan kepada masyarakat mengenai pentingnya hak pilih mereka.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Wawan Mas’udi, S.IP., MPA, Ph.D. juga memberikan penjelasan terkait film ini.

Menurut Wawan, film Dirty Vote merupakan bagian demokrasi yang penting, serta tidak ada sistem yang paling benar ataupun salah.

“Demokrasi sudah berjalan bertahun-tahun lalu. Tidak ada pemilu yang berjalan paling baik, tapi sepertinya masyarakat kita ini seringkali melupakan sejarah,” ungkapnya.

Diketahui terdapat kritikan dan masukan pendapat agar sistem menjadi lebih baik, namun tidak semuanya dapat diterima.

Wawan mengatakan bahwa film "Dirty Vote" bukan hanya kritik, tetapi juga dokumentasi Pemilu 2024 ini.

“Perlu diingatkan, apapun yang terjadi dan proses yang bergulir. Jadi film ini kelak akan menjadi pengingat dan bahan evaluasi di masa depan untuk demokrasi kita,” jelas Wawan.

Editor : Baskoro Septiadi
#film dokumenter #UGM #Pemilu 2024 #Dirty Vote #pakar hukum