Terlebih dari surat edaran dari Dinas Pendidikan yang melarang siswa membawa permainan itu ke sekolah.
Kepala Sekolah Dasar Negeri Pancuranmas Sriyatun menilai permainan lato-lato berdampak positif karena dapat mengurangi penggunaan ponsel. Namun, juga memiliki dampak negatif bila dibawa ke lingkungan sekolah.
Suara nyaring dari mainan ini dinilai sangat mengganggu proses KBM. Alasannya, suara berisik dari lato-lato bisa mengganggu fokus siswa belajar.
Dikatakan pada saat hari pertama kegiatan belajar mengajar (KBM) banyak anak didiknya yang membawa mainan tersebut ke sekolah.
“Itu bisa mengganggu proses pembelajaran dan membahayakan juga kalau terlempar,” jelas Sriyatun kepada Radar Semarang, Selasa (17/1).
Ia juga menyampaikan, larangan membawa lato-lato ke sekolah sudah ada edaran resminya dari Dinas Pendidikan. Sehingga bisa menjadi pedoman sekolah untuk memberikan imbauan ke siswa dan orang tuanya.
Sebelum ada instruksi dari dinas, banyak anak komplain ke guru karena merasa terganggu.
Terpisah, guru SD Negeri Kedungsari 4 Nurkhamid menyampaikan, saat awal masuk setelah liburan sekolah, juga banyak siswa yang membawa mainan lato-lato. Beberapa anak bermain di kelas dan membuat siswa tidak fokus.
Tindakan sama juga dilakukan MI Arrosyidin Pancuranmas. Kepala Sekolah Sani Rahmawati menjelaskan, pihaknya telah melakukan sosialisasi bersamaan dengan kegiatan mujahadah wali murid terkait imbauan untuk tidak membawa lato-lato ke sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang Imam Baihaqi menilai, lato-lato mengganggu jalannya pembelajaran di sekolah karena mengeluarkan bunyi yang bising.
“Kami khawatir juga kalau terjadi kecelakaan (akibat bermain lato-lato), misalnya. Kan jadi tanggung jawab sekolah,” ujarnya. (rfk/mg9/mg10/lis) Editor : Agus AP