
RADARSEMARANG.ID, Magelang – Pramono dibuat kaget dengan pelayanan rumah sakit kepada pasien BPJS Kesehatan. Kata Pramono, pelayanan pasien BPJS nyaris tidak ada perbedaan dengan pasien umum alias setara.
“Ternyata pasien BPJS itu terurus, dan benar-benar diurusi,” kata Pramono menceritakan pengalamannya saat diperiksa di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Temanggung, Kamis (26/9/2024).
Pengalaman itu meningkatkan kepercayaan Pramono terhadap program JKN. Meski periksa gratis, tak lantas membuat pelayanan rumah sakit asal-asalan kepada pasien.
Warga Kranggan, Kabupaten Temanggung ini bercerita, suatu pagi, ia hendak menunaikan salat Subuh.
Pria 66 tahun itu merasakan pusing yang datang secara tiba-tiba. Serangan sakit kepala yang tidak tertahan itu menumbangkan tubuhnya. Ia jatuh pingsan.
“Mendadak saya jatuh pingsan, dan langsung dibawa sama istri saya ke IGD,” ujarnya.
Sampai di ruang IGD, Pramono tersadar. Matanya menatap setiap sudut ruang IGD dan pandangannya berhenti pada istrinya yang menunjukkan raut wajah khawatir dan sedih.
Namun dirinya tak bisa banyak berkata-kata. Karena pusing kepala itu masih cukup terasa disertai perutnya yang mual.
“Saya mual, tapi nggak bisa muntah,” akunya.
Di IGD, sudah ada dokter dan perawat yang menanganinya. Ia mendapatkan suntikan obat yang membuat kondisi badannya terasa lebih enak. Dokter meminta dirinya untuk menunggu reaksi obat dan observasi dokter,
“Saya diminta satu jam di IGD sambil menunggu badan lebih baik,” ujarnya.
Benar saja, perkiraan dokter tak meleset. Selang 60 menit dari suntikan obat di tubuhnya itu, Pramono merasakan kondisi kesehatannya lebih baik.
Ia pun diperbolehkan pulang dengan sejumlah catatan dari dokter, yakni rajin minum obat, istirahat yang cukup, dan menjaga pola makan lebih teratur dengan asupan menu-menu yang sehat.
Namun keesokan harinya, sakit itu kambuh. Keluhannya sama, kepala pusing, perut terasa mual tapi tidak muntah. Ia memutuskan kembali periksa ke IGD RSUD Temanggung.
“Setelah diperiksa lagi, saya disarankan untuk opname. Saya pun menuruti anjuran dokter, karena saya yakin itu yang terbaik,” ungkapnya.
Istrinya pun diminta untuk mendaftar rawat inap di konter pelayanan IGD. Istrinya pun mendapatkan informasi yang jelas dari petugas rumah sakit terkait hak-hak yang akan didapatkan Pramono sebagai peserta JKN kelas 2, sesuai dengan yang didaftarkan oleh perusahaan tempat ia bekerja.
“Tapi saya minta naik ke ruang VIP,” imbuhnya.
Dirinya pun mendapatkan pengecekan kesehatan seperti kolesterol, gula darah, asam urat, dan trigliserida. Hasil dari pemeriksaan ini, kadar trigliserida di dalam tubuh Pramono melebihi batas normal, yakni 338 mg/dL (miligram per desiliter). Padahal normalnya, kadar trigliserida kurang dari 150 mg/dL. Kemudian tekanan darahnya normal.
“Menurut dokter, saya mengalami gangguan pencernaan di dalam perut, karena saat itu saya juga tidak bisa buang air besar, jadi rasanya mual-mual terus,” terangnya.
Setelah minum obat dari resep dokter, pencernaannya kembali lancar. Hanya saja, dirinya masih merasakan pusing yang terus-menerus. “Saya juga diperiksa jantung dan hasilnya baik, tidak ada masalah,” imbuhnya.
Tidak berhenti di situ saja, dokter kemudian menyarankan agar Pramono menjalani prosedur pemeriksaan CT-Scan. Dokter khawatir kalau ada masalah di kepala.
“Takutnya ada penyumbatan di otak yang nantinya bisa memicu stroke. Saya pun menuruti kata dokter, Alhamdulillah hasilnya bagus. Tidak ada gangguan di kepala,” ungkapnya.
Kesehatannya pun membaik di hari ke tujuh. Ia diperbolehkan pulang. Ia pun hanya mengeluarkan biaya Rp 2,1 juta untuk membayar selisih biaya karena naik kelas rawat.
“Selain itu tidak ada biaya lain. Obat-obatan semua gratis tidak ada yang bayar, termasuk periksa CT-Scan juga tidak mengeluarkan biaya,” terangnya.
Menurutnya, penanganan di RSUD Temanggung tidak bermasalah. Perawatnya ramah dan perhatian. Begitu juga dokternya yang memberikan penjelasan mengenai penyakit dan cara pencegahannya, serta memberi saran-saran untuk menjaga kesehatan.
Setelah pulang dari rumah sakit, ia juga masih mendapatkan jatah kontrol kesehatan, sampai dokter menyatakan kesehatannya benar-benar membaik.
“Kejadian tersebut membuat saya menjaga pola makan. Biasanya tiap pagi ngopi, sekarang saya jarang minum kopi. Lebih banyak minum air putih hangat.
Lalu goreng-gorengan juga saya batasi,” akunya.
Bahkan sang istri juga ikut mengurangi kebiasan memasak sayur-sayuran dengan santan kental. Sekarang lebih sering memasak sayuran berkuah bening, seperti sop, sayur bening.
“Buah-buahan dan sayuran sudah menjadi menu sehari-hari di meja makan saya,” ucapnya.
Ia juga menyadari usianya sudah tidak muda lagi. Maka harus lebih peduli terhadap kesehatannya sendiri. Apalagi, Pramono bekerja di bagian ekspedisi yang harus melek malam. “Selain menjaga pola makan, saya juga membiasakan olahraga. Jalan-jalan pagi di seputar perumahan sekitar 30 menit untuk menggerakan badan,” ungkapnya.
Dia merasa bersyukur menjadi peserta BPJS Kesehatan. Menurutnya, setiap masyarakat Indonesia harus terlindungi program JKN, agar ketika sakit, tidak sampai menguras tabungan. (put/web/bas)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




