Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Hindari Penurunan Literasi di Tengah Gempuran Gadget, Ajak Siswa PAUD ke Perpus

Ida Fadilah • Sabtu, 25 Januari 2025 | 16:36 WIB
Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah Cerdas Ceria Bongsari, Semarang Barat, saat berkunjung ke Perpustakaan Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025).
Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah Cerdas Ceria Bongsari, Semarang Barat, saat berkunjung ke Perpustakaan Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025).

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Berkembangnya teknologi berupa gadget, membuat budaya literasi menurun.

Banyak anak yang jarang membaca buku, namun lebih sering bermain handphone.

Agar tak kebablasan, pengenalan terhadap buku perlu dikencangkan.

Seperti siswa Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah Cerdas Ceria Bongsari, Semarang Barat, misalnya. Belasan siswa diajak mengunjungi Perpustakaan (Perpus) Provinsi Jawa Tengah.

Guru PAUD Fadjar Kurniawati mengatakan, acara di luar sekolah ini memang sengaja dilakukan agar anak-anak mau gemar membaca.

Pasalnya, anak yang menempuh PAUD masih balita, sehingga perlu dikenalkan sejak dini.

"Anak PAUD istilahnya kan cikal bakal generasi penerus ya, walau belum bisa baca namun harus digencarkan. Jadi menanamkan keingintahuan supaya gemar membaca, memperbanyak literasi, dan kedepannya di tingkat TK, SD, SMP, SMA sudah punya rasa ingin tahu yang besar," katanya pada Jawa Pos Radar Semarang saat kunjungan di Perpustakaan Jateng, Jumat (24/1/2025).

Dalam giat fieldtrip ini, lanjutnya, para siswa diperkenalkan apa saja yang ada di perpus, dongeng, pengenalan budaya daerah seperti tari jaranan.

Lalu menonton film edukasi melalui bioskop mini, dan terakhir acara bebas bermain di ruang Rumah Belajar Modern (RBM). Ia menyebut, dengan kunjungan ini pihaknya akan mengambil pelajaran yang bisa diterapkan di sekolah.

Meski, dalam pembelajaran di PAUD dan TK itu anak-anak tidak dituntut untuk bisa membaca, namun mesti mengetahui huruf melalui pengenalan secara bermain sambil belajar.

"Kita akan ambil positifnya di sini. Di sekolah sudah ada permainan fisik motorik dan kita tinggal mengaplikasikannya supaya bisa terjadwal dan teratur, minimal buku supaya anak-anak yang tidak bisa baca setidaknya bisa liat gambar hewan dan lain-lain," tambahnya.

Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah Cerdas Ceria Bongsari, Semarang Barat, saat berkunjung ke Perpustakaan Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025).
Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah Cerdas Ceria Bongsari, Semarang Barat, saat berkunjung ke Perpustakaan Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025).

Sementara itu, Endang Dwi Riyani selaku Pustakawan mengatakan kunjungan dari sekolah-sekolah setiap hari ada.

Menurutnya, hal itu menunjukkan tren positif di era serba digital ini. Ia mengaku telah berusaha keras mengajak masyarakat agar membaca buku dan berkunjung ke perpus.

Terlebih kondisi saat ini, adanya gempuran gadget menurutnya sangat memengaruhi pengunjung.

"Ya sangat berpengaruh sekali. Jadi kita harus lomba cepet-cepetan dengan gadget ya, mencegah anak agar tidak terlalu tergantung dengan gadget. Mengalihkan mereka dengan kegiatan-kegiatan positif misalnya membaca, hari sabtu ada kegiatan menari dan mewarnai, dan peminatnya cukup banyak," kata dia.

Bahkan, untuk memfasilitasi masyarakat yang sudah terbiasa dengan serba digital, pihaknya pun berupaya mengejar dengan adanya layanan perpustakaan digital.

Menurutnya, tingkat literasi cukup lumayan dengan metode tersebut.

Kemudian, agenda perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah, ada juga layanan terpadu perpus sekolah yang fungsinya droping buku.

"Kalau kita tidak promosikan perpus itu kepada anak-anak sejak kecil, mereka tidak akan tahu perpus. Apalagi orang tua sekarang sulit memberikan pendidikan sedari dini terutama kebiasaan membaca," tandasnya. (ifa)

Editor : Tasropi
#rumah belajar #Guru PAUD #Anak Usia Dini