RADARSEMARANG.ID, Akhir-akhir ini jagat medsos lagi ramai banget nih gara-gara penampilan Verrel Bramasta saat turun langsung ke lokasi banjir dan longsor di Padang, Sumatera Barat, pada 30 November 2025.
Banyak netizen yang langsung nyinyir dan julid, bilang Verrel pakai rompi antipeluru atau bahkan pelampung, kayak lagi syuting film action atau takut kena tembak di area bencana.
"Salah kostum dong!" kata mereka.
Tapi, tunggu dulu! Verrel sudah kasih klarifikasi resmi, dan ternyata ada fakta menarik di baliknya. Yuk, kita kupas tuntas biar nggak salah paham lagi!
Kenapa Rompi Verrel Jadi Viral dan Dikritik Netizen?
Verrel, yang sekarang jadi anggota DPR dari Fraksi PAN, unggah foto dan video di Instagram @bramastavrl saat menyalurkan bantuan ke korban banjir.
Dia tampak pakai rompi loreng hitam-hijau dengan label "Verrel DPR RI" di depan. Langsung deh, netizen heboh:
Ada yang bilang: "Ke lokasi banjir kok pakai rompi antipeluru? Takut ditembak apa gimana?"
Yang lain: "Kayak lagi perang, bukan bantu banjir!"
Bahkan ada yang julid: "Pencitraan doang, gaya SWAT!"
Postingan-postingan di X (Twitter) dan Threads langsung banjir komentar negatif. Banyak yang anggap Verrel berlebihan dan "salah kostum" untuk situasi bencana alam.
Baca Juga: Chaos! Verrel Bramasta Dicium dan Dicakar Fans di Singapura, Polisi Ikut Turun Tangan
Klarifikasi Verrel: Bukan Antipeluru, Tapi Tactical Vest!
Verrel nggak tinggal diam. Pada 2 Desember 2025, dia kasih penjelasan lengkap ke media.
Intinya bukan rompi antipeluru! Itu tactical vest atau rompi taktis biasa, tanpa pelat balistik (plate yang bikin anti peluru).
Rompi ini hadiah dari temannya di TNI Angkatan Laut (AL).
Fungsinya praktis banget:
Punya sistem kantong modular (MOLLE) yang banyak, buat bawa barang-barang penting tanpa ribet, seperti: ponsel dan powerbank, obat-obatan, air minum, uang tunai untuk langsung dibagikan ke korban dan alat komunikasi darurat.
Alasan pakai: Kondisi di lokasi bencana sangat dinamis dan butuh mobilitas tinggi.
"Saya harus bergerak cepat sambil bantu warga dan tim lapangan," kata Verrel.
Tactical vest ini memang umum dipakai relawan, petugas SAR, atau orang yang sering ke lapangan, bukan buat gaya-gayaan.
Verrel juga bilang, narasi antipeluru atau pelampung itu disinformasi total. "Sangat tidak benar, salah besar!" tegasnya. Niatnya murni membantu korban, bukan pencitraan.
Julid Dulu, Klarifikasi Belakangan?
Yap, kasus klasik netizen Indonesia: Cepet banget judge tanpa tahu fakta lengkap. Padahal Verrel lagi berusaha bantu korban banjir Sumbar yang memang parah banget.
Rompi taktisnya ternyata masuk akal buat situasi lapangan yang chaotic. Kalau dipikir-pikir, lebih baik pakai yang praktis daripada bawa tas besar kan?Tapi ya sudahlah, yang penting Verrel tetap semangat bantu orang. (tas)
Editor : Tasropi