RADARSEMARANG.ID - Kepengurusan internal PBNU semakin memanas. Pasca pemecatan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari Ketua Umum PBNU, banyak terjadi rotasi besar-besaran.
Salah satunya Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang dilepaskan dari jabatan Sekretaris Jenderal (Sekjen).
Pencopotan Gus Ipul berdasarkan keputusan Rapat Harian Tanfidziyah yang digelar Jumat (28/11) di kantor PBNU, Jakarta. Rapat dipimpin oleh Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
Pemecatan yang dilakukan oleh Gus Yahya ini terjadi setelah pemakzulan dirinya oleh Syuriyah PBNU pekan lalu.
Syuriah memakzulkan Gus Yahya dengan dalih yang bersangkutan melanggar prinsip NU dengan mengundang tokoh Zionis dan teledor mengelola keuangan PBNU.
Gus Yahya menolak keputusan Syuriyah yang menimbulkan gonjang-ganjing di tubuh ormas Islam terbesar di Indonesia itu.
Pencopotan Gus Ipul diumumkan dalam siaran pers PBNU bertanda tangan elektronik Gus Yahya pada hari ini.
"H. Saifullah Yusuf dari posisi semula sebagai Sekretaris Jenderal PBNU ke posisi sebagai Ketua PBNU," demikian keputusan rapat tanfidziyah, sebagaimana tertulis di siaran pers PBNU.
“Rotasi jabatan ini bisa diputuskan dengan asas kompartementasi manajemen tadi hal-hal yang menyangkut Tanfidziyah bisa diputuskan di tingkat rapat Tanfidziyah.
"Maka rapat ini memutuskan untuk melakukan rotasi jabatan di antara jajaran pengurus Tanfidziyah sebagai berikut,” ucap Gus Yahya.
Dalam rapat tersebut diputuskan rotasi beberapa posisi strategis:
- KH Masyhuri Malik dari Ketua PBNU menjadi Wakil Ketua Umum PBNU
- Dr Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dari Sekjen menjadi Ketua PBNU
- Haji Gudfan Arif dari Bendahara Umum menjadi Ketua PBNU
- Haji Amin Said Husni dari Wakil Ketua Umum menjadi Sekjen PBNU
- Haji Sumantri dari Bendahara menjadi Bendahara Umum
Gus Yahya menegaskan rotasi itu dilakukan demi memastikan manajemen PBNU tetap berjalan optimal.
“Ini penting agar ada yang terus mengorganisasi kontribusi NU dalam penanggulangan musibah-musibah tersebut,” katanya.
Editor : Baskoro Septiadi