RADARSEMARANG.ID - Industri alas kaki Indonesia yang terkenal dengan sepatu BATA dikabarkan resmi ditutup.
Penutupan pabrik sepatu BATA ini telah mengejutkan dunia maya dan memicu beragam komentar netizen.
Menurut informasi yang diterima, Pabrik sepatu BATA di Purwakarta telah menghentikan produksi pada tanggal 30 April 2024.
Melalui sebuah video yang beredar di media sosial X, pihak manajemen perusahaan telah mengumumkan hal tersebut pada Jumat (3/5).
“Selamat tinggal BATA, selamat tinggal,” ucap perekam video tersebut yang diduga merupakan karyawan pabrik sepatu BATA.
Menurut laporan yang beredar, penyebab pabrik sepatu BATA ditutup karena beberapa alasan, antara lain kerugian yang terjadi selama 4 tahun berturut-turut.
Selain itu, juga terjadi penurunan permintaan sepatu merek BATA, serta tantangan yang semakin kompleks dalam industri alas kaki.
Berdasarkan pantauan, berbagai spekulasi dan tanggapan dari netizen muncul setelah pabrik BATA di Purwakarta dinyatakan tutup.
Ada yang merasa kecewa dengan keputusan tersebut, mengingat BATA adalah merek sepatu yang sudah dikenal luas dan menjadi favorit bagi banyak generasi di Indonesia.
Disamping itu, ada pula yang mempertanyakan alasan penutupan dan dampaknya terhadap para karyawan.
“Kalo merek weinbrenner yg dijual di bata tuh masih produksinya bata juga ga sih? Gw suka produk2nya terutama tas, terakhir beli sendalnya. Sayang bgt klo akhirnya berhenti produksi juga :(,” ungkan @Widino di media sosial X.
“Aku dan adikku konsumen sepatu bata sejak TK hingga SMA
Gak nyangka selegendaris dan seraksasa itu pasarnya, skrg bisa tutup juga,” tulis akun @ViantyTJP.
Menurut netizen @Muhayya__ mengungkapkan bahwa, style dari sepatu kurang inovatif dan masih termasuk old fashion, dan kurang diminati khususnya gen Z.
“Kalau melihat dari style nya sih Bata kurang inovatif dan termasuk old fashion jadi kurang diminati khususnya gen z,” tulis @Muhayya__.
Netizen tersebut juga berharap, dengan tutupnya pabrik Bata ini tidak menular ke pabrik sepatu lain. Dan karyawan yang terdampak segera mendapatkan pekerjaan pengganti.
Di sisi lain, penutupan pabrik BATA menjadi pengingat akan perubahan zaman dan tantangan yang dihadapi industri manufaktur di Indonesia.
Seperti di era digital ini, perusahaan dituntut untuk beradaptasi dan berinovasi agar dapat bertahan dan bersaing.
Editor : Baskoro Septiadi