Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Project Kilat Sudiyanti, Ubah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

K

 

Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation Sudiyanto yang sedang mengajarkan pembuatan lilin dengan minyak jelantah pada peserta didik SMPN 2 Pangkah.
Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation Sudiyanto yang sedang mengajarkan pembuatan lilin dengan minyak jelantah pada peserta didik SMPN 2 Pangkah.

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di sebuah sekolah di Kabupaten Tegal, suara riuh anak-anak kelas VII terdengar berbeda dari biasanya. Bukan sekadar mencatat materi di papan tulis, mereka sibuk membawa gelas kecil, minyak jelantah, hingga aroma serai dan kayu manis.


Advertisement

Di balik kegiatan itu, ada sosok Sudiyanti, guru SMP Negeri 2 Pangkah sekaligus fasilitator daerah Program PINTAR Tanoto Foundation. Perempuan yang sudah mengajar lebih dari 20 tahun ini punya cara unik membuat siswa semangat belajar, yakni lewat Project Kilat, sebuah praktik pembelajaran inovatif yang mengubah limbah rumah tangga menjadi karya bernilai.

“Projek kilat itu masih terkait pembelajaran di kelas, kegiatan intrakurikuler,” ujar Sudiyanti.

Project Kilat merupakan singkatan dari Karya Inovasi Lilin Aroma Terapi. Ide sederhananya adalah memanfaatkan minyak jelantah yang sering dibuang sembarangan menjadi lilin aromaterapi yang cantik dan bermanfaat.

Advertisement

Sudiyanti pun bercerita, inspirasi proyek ini muncul dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Ia melihat, di sekitar sekolah banyak penjual gorengan. Minyak bekas pun melimpah, namun sering kali tidak dimanfaatkan.

“Kita lihat di sekitar sekolah banyak sekali penjual goreng-gorengan. Di rumah tangga juga banyak minyak jelantah yang tidak dimanfaatkan, bahkan dibuang sembarangan, sehingga bisa menyumbat saluran air,” tuturnya.

Materi interaksi makhluk hidup di kelas VII menjadi pintu masuk yang tepat. Tujuan pembelajarannya jelas: siswa diharapkan dapat menganalisis interaksi antara aktivitas manusia dengan lingkungan, serta merancang gagasan nyata untuk mencegah dan mengatasi pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga.

Advertisement

Dari situ, ia ingin siswa tidak hanya memahami teori interaksi makhluk hidup dengan lingkungan, tetapi juga mampu merancang solusi nyata.

“Anak-anak diharapkan dapat merancang gagasan dan upaya nyata untuk mencegah pencemaran lingkungan akibat limbah rumah tangga,” lanjutnya.

Project Kilat bukan sekadar praktik membuat lilin. Sudiyanti menggunakan model project-based learning dengan pendekatan inquiry kolaboratif yang ia dapatkan dari pelatihan pembelajaran mendalam. Tahap awal dimulai dengan asesmen bersama rekan guru di SMPN 2 Pangkah. Menariknya, proyek ini juga menggunakan pendampingan kolaboratif. Ia mengajak rekan-rekan guru untuk ikut serta merancang pembelajaran.

“Guru Matematika membantu perhitungan untung-rugi produksi, sementara saya fokus pada proses pembuatan,” bebernya.

Sudiyanti menyusun Project Kilat dalam tiga pertemuan.

Pada pertemuan pertama, siswa diajak menonton video pencemaran lingkungan akibat minyak jelantah, lalu merumuskan pertanyaan mendasar. Diskusi kelompok pun melahirkan banyak ide, seperti pembuatan sabun, penyaringan minyak, hingga lilin. Akhirnya, siswa sepakat memilih lilin aromaterapi sebagai proyek utama.

Pada pertemuan kedua, siswa mulai praktik. Mereka membawa minyak jelantah dari rumah, bahkan ada yang mengumpulkannya dari tetangga penjual gorengan. Sebelumnya, minyak direndam arang agar tidak berbau.

“Minimal 24 jam minyaknya sudah direndam arang, dan itu dilakukan di rumah,” katanya.

Sehingga, dalam waktu dua jam pelajaran, produk lilin aromaterapi berhasil dibuat. Ada yang menambahkan serai, kayu manis, hingga esens wangi.

Lalu, pertemuan ketiga diisi presentasi kelompok. Setiap tim memamerkan lilin mereka dan menjawab pertanyaan teman-temannya. Di akhir, refleksi menjadi bagian penting.

“Saya dan siswa selalu berusaha melakukan refleksi bersama. Apa yang didapatkan, apa yang kurang, langkah selanjutnya apa,” katanya.

Project Kilat ini mengantar Sudiyanti meraih berbagai prestasi. Salah satunya Juara 1 Lomba Video Pembelajaran Mendalam tingkat Kabupaten PGRI tahun 2025. Tak berhenti di kelas, Sudiyanti aktif berbagi praktik baik lewat MGMP IPA Kabupaten Tegal.

“Saya selalu mencoba mengajak teman-teman guru untuk berbagi, walaupun simpel,” ujarnya.

Guru yang telah berkecimpung selama 20 tahun di dunia pendidikan ini bergabung sebagai fasilitator daerah Tanoto Foundation sejak 2021. Baginya, program ini memberi ruang untuk terus berkembang.

“Saya merasa mendapatkan banyak sekali ilmu, pertemanan, dan semangat belajar luar biasa,” tegasnya.

Di tengah tantangan siswa zaman sekarang yang berbeda dengan dulu, ia percaya pembelajaran harus dibuat menarik.

“Kalau enggak membuat proyek yang menarik, anak-anak pasif. Tantangan terbesar adalah membuat mereka semangat belajar,” tandasnya. (kap)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Raih Juara 1 Kepala Sekolah Berprestasi, Diannita Andalkan Inovasi Satu Guru Satu Inovasi

Raih Juara 1 Kepala Sekolah Berprestasi, Diannita Andalkan Inovasi Satu Guru Satu Inovasi

Kepala SDN 1 Kebumen, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Diannita Ayu Kurniasih, mengembangkan inovasi pembelajaran melalui program Satu Guru Satu Inovasi (Sagusasi). Inovasi itu mengantarkannya meraih juara 1.

Padukan Reading Progress dan QuizWhizzer, Asrul Bikin Belajar Bahasa Inggris Lebih Interaktif

Padukan Reading Progress dan QuizWhizzer, Asrul Bikin Belajar Bahasa Inggris Lebih Interaktif

Asrul Sani, guru Bahasa Inggris SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang, menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis digital. Ia memadukan aplikasi Reading Progress pada Microsoft Teams dengan QuizWhizzer.

Dari Ular Tangga hingga Pojok Baca, Laila Bawa SDN Sarwadadi 03 Raih Prestasi Nasional

Dari Ular Tangga hingga Pojok Baca, Laila Bawa SDN Sarwadadi 03 Raih Prestasi Nasional

Belajar tidak selalu harus duduk diam di bangku kelas, menatap papan tulis, lalu mengerjakan soal di buku. Bagi Lailatul Qodriyah, proses belajar justru bisa dibuat lebih menyenangkan dengan permainan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer