
RADARSEMARANG.ID, Batang - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randukuning di Kabupaten Batang sudah overload sejak beberapa tahun lalu.
Bangunan di area TPA sudah satu demi satu diratakan untuk memperluas kapasitas. Namun, debit sampah terus meningkat hingga ratusan ton per harinya.
TPA Randukuning sendiri dibangun tahun 1995 dengan kapasitas 53 ribu meter kubik. Kini tumpukan sampah sudah mencapai beberapa kali lipat dari daya tampung semula.
Untuk mengatasi masalah sampah itu, Kabupaten Batang telah merencanakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang telah mengajukan anggaran pembangunan TPST kepada Pemerintah Pusat. Pembangunannya diperkirakan bakal berlangsung pada tahun 2024 ini.
"Lokasi TPST ini di Desa Sentul, Kecamatan Gringsing. Kami koordinasi dan rencana pembangunannya akan dibantu sepenuhnya oleh Kementerian PUPR. Penggunaan TPST ini bareng dengan KITB," kata Pj Bupati Batang Lani Dwi Rejeki.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang menjelaskan, perkiraan anggaran TPST dari APBN mencapai Rp 30 miliar.
Perencanaannya sudah matang, bakal dibangun lebih lengkap dari TPST di Banyumas. Luasan lahan TPST di Batang sekitar 2,7 hektare.
Hasil dari TPST itu adalah adalah Refuse Derived Fuel (RDF) dan Maggot. Sampah organik jadi bahan makanan Magot. Sementara non organik jadi RDF. RDF bisa digunakan sebagai bahan baku boiler.
“Alhamdulillah TPST Batang sudah masuk ke draft yang akan diajukan ke Presiden Jokowi. Gambaran TPST itu nanti ada pengolahan. Bukan seperti TPA Randukuning yang hanya pembuangan. Nanti seperti hanggar besar dengan atap di dalamnya ada mesin-mesin pengolah sampah," ucapnya.
Jika sudah terealisasi, imbuhnya, tentu perusahaan-perusahaan yang menggunakan boiler akan membutuhkannya. Ini menjadi pengganti batu bara.
"Kalau hasil RDF banyak dan layak, Insyaallah sudah ada perusahaan yang siap bermitra dengan kami. Sehingga bisa menghasilkan pendapatan daerah," terangnya.
Selain itu, pembangunan TPST ditentukan di dekat KITB, karena bakal dipakai bersama. Di KITB sendiri sudah mempunyai TPS 3R.
“Namun hanya memilah dan mengolah sampah yang mempunyai nilai jual. Seperti kertas, botol plastik, dan lainnya. Tapi residunya tetap dibuang di TPST. Residu itu yang kita olah nanti," tandasnya. (yan/ida)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




