Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kelas Sunyi Ancaman Nyata

D
Penulis: Dhinar Sasongko❯
Prof Rasimin
Prof Rasimin

Advertisement

 

Oleh: Prof. Dr. Rasimin, M.Pd. 

RADARSEMARANG.ID - Pagi ini saya membaca berita yang membuat hati seorang pendidik tersentak. Media massa melaporkan, tiga sekolah dasar di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sama sekali tidak kedatangan murid baru pada tahun ajaran 2026/2027. Di SDN 2 Plandaan, hanya dua anak yang mendaftar, itu pun setelah para gurunya rela patungan membelikan seragam gratis agar sekolah tetap hidup. Angka itu memang kecil. Tapi yang dipertaruhkan di baliknya sangat besar, yaitu hak seorang anak untuk tumbuh bersama teman-temannya, bukan sendirian di ruang kelas yang sunyi.

Advertisement

Ini bukan cerita Tulungagung seorang diri. Dalam pekan yang sama, kabar serupa muncul dari Ngawi, Temanggung, Ponorogo, hingga Blitar. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, bahkan sudah membuka opsi menggabungkan sekolah-sekolah yang muridnya terus menyusut (Tempo, 2026). Data Badan Pusat Statistik pun bergerak ke arah yang sama, jumlah anak usia sekolah dasar diproyeksikan turun dari 66,21 juta pada 2020 menjadi 63,54 juta pada 2045 (BPS, 2023). Jepang sudah lebih dulu merasakan ini, rata-rata 450 sekolah tutup setiap tahun di sana. Tulungagung hanyalah alarm kecil dari persoalan besar yang sedang mengetuk pintu pendidikan dasar kita.

Sayangnya, persoalan ini sering dipandang semata urusan administrasi penerimaan murid baru. Padahal di balik angka "satu-dua siswa" itu ada anak sungguhan, dengan hak tumbuh kembang yang sedang dipertaruhkan setiap hari ia duduk sendirian. Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah lama mengingatkan, setiap keputusan yang menyangkut anak wajib mengutamakan kepentingan terbaiknya (PBB, 1989). Prinsip ini gampang terlupakan ketika kebijakan hanya diukur dari efisiensi data pokok pendidikan dan anggaran.

Sekolah dasar sejatinya adalah ruang pertama bagi anak belajar bergaul di luar rumah. Pada usia tujuh sampai dua belas tahun, anak sedang berada di masa emas membentuk kemampuan sosialnya. Vygotsky (1978) punya istilah menarik untuk ini, zone of proximal development, gagasan bahwa anak justru belajar paling baik lewat interaksi dengan orang lain, bukan sendirian. Bronfenbrenner (1979) melengkapi dengan pandangan ekologisnya, lingkungan sekolah yang hidup adalah syarat penting bagi tumbuh kembang anak yang sehat. Ilmu Pengetahuan Sosial pun mengajarkan hal serupa sejak dulu, manusia tumbuh lewat pergaulan.

Coba bayangkan sebuah taman tanpa kicau burung. Begitulah gambaran kelas yang cuma diisi satu atau dua siswa. Belajar jadi hambar tanpa keramaian teman, tanpa persaingan sehat, tanpa gesekan pendapat yang justru mematangkan cara berpikir anak. Durkheim (1897) menamai kondisi terputusnya ikatan sosial semacam ini sebagai anomi, istilah lama yang ternyata masih pas untuk menggambarkan anak yang kehilangan jangkar sosialnya di sekolah. Otak mereka mungkin tetap terisi lewat buku, tapi kecerdasan sosialnya berisiko kerdil, semacam stunting sosial yang gejalanya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Tapi sebelum buru-buru menyalahkan siapa pun, ada baiknya kita dengar dulu alasan orang tua yang tetap mempertahankan anaknya di sekolah sepi ini. Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariah, bercerita bahwa sebagian warga mengira sekolahnya sudah tutup, padahal kegiatan belajar tetap berjalan (Kompas, 2026). Di Ngawi dan Temanggung, jarak rumah ke sekolah lain dan pilihan ke sekolah swasta jadi pertimbangan utama. Di balik setiap keputusan yang tampak keliru dari luar, selalu ada alasan bertahan hidup yang layak dipahami dulu sebelum dihakimi.

Di sisi lain, sekolah dan guru pun menghadapi dilema yang tidak ringan. Para guru SDN 2 Plandaan sampai iuran pribadi, sekitar empat ratus hingga lima ratus ribu rupiah per anak, demi menyediakan seragam bagi murid baru. Ini menunjukkan mempertahankan sekolah kecil bukan cuma soal gengsi kelembagaan, ada pengabdian tulus di baliknya, di tengah keterbatasan dana BOS. Meski begitu, kerja keras ini tetap perlu diimbangi pertanyaan jujur, apakah satu sekolah untuk dua atau tiga anak benar-benar baik bagi masa depan mereka.

Kalau dibiarkan tanpa langkah nyata, dampaknya bisa panjang. Rubin, Bukowski, dan Parker (2006) pernah menulis, pengalaman bergaul dengan teman sebaya sangat menentukan kematangan emosi, kemampuan bersosialisasi, bahkan prestasi belajar anak di jenjang berikutnya. Anak-anak di sekolah sunyi rentan mengalami rasa cemas bergaul dan kehilangan semangat belajar, karena tidak ada energi kompetisi dan kebersamaan yang biasa mereka rasakan di kelas yang ramai.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

UIN Salatiga Mendunia, FTIK Sabet World Unique Award di Thailand

UIN Salatiga Mendunia, FTIK Sabet World Unique Award di Thailand

. “Ini bukan sekadar festival tari, tetapi dakwah kultural dan diplomasi budaya,” ujarnya.

Mahasiswa KKI Pukau Delegasi 12 Negara Lewat "Kalimasada Kawedar" di Pembukaan ISCETAC UIN Salatiga

Mahasiswa KKI Pukau Delegasi 12 Negara Lewat "Kalimasada Kawedar" di Pembukaan ISCETAC UIN Salatiga

Prof. Rasimin memaparkan, perayaan budaya melalui ALE ini mengawali rangkaian kegiatan selama tiga hari. Agenda selanjutnya meliputi konferensi internasional serta aksi nyata peduli bumi

PBAK FTIK UIN Salatiga 2026, Usung Tema Moderasi dan Ekoteologi

PBAK FTIK UIN Salatiga 2026, Usung Tema Moderasi dan Ekoteologi

Pada tahun ajaran ini, FTIK UIN Salatiga resmi menyambut sebanyak 671 mahasiswa baru yang tersebar di delapan program studi (prodi).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer