
Oleh: Dr. Gunawan Setiadi, M.Pd.
RADARSEMARANG.ID—Dalam setiap acara seminar bidang pendidikan, pembicara sering menyatakan bahwa generasi muda dan pendidikan punya peran penting dalam pembangunan suatu bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda dan pendidikan merupakan kunci keberhasilan dalam pembangunan suatu bangsa.
Pertanyaan yang muncul tentunya berkaitan dengan generasi muda mana yang aktif terlibat dalam pembangunan bangsa dan bagaimana kondisi yang akan dihadapi mereka. Momen yang paling tepat adalah visi Indonesia emas 2045 yaitu suatu ide yang bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berdaulat, maju, adil, dan makmur pada tahun 2045. Dua generasi yaitu generasi Z (Gen Z) dan generasi Alpha (Gen Alpha) yang akan berperan aktif dalam Indonesia emas. Saat ini Gen Z tertua berusia 30 tahun dan termuda 15 tahun; Gen Alpha tertua 15 tahun dan termuda sekitar 5 tahun. Sebagian besar Gen Z sudah berkerja dan sebagian kecil masih menempuh pendidikan, Gen Alpha semuanya masih menempuh pendidikan.
Menurut Andrea dan Csikos (2016) membagi generasi mulai generasi Veteran (1925 – 1946), Gen Baby Boom (1946 – 1960), Gen X (1960 – 1980), Gen Y (1980 – 1995), Gen Z (1995 – 2010), dan Gen Alpha ( 2010 + ). Gen Z yang saat ini sedang menempuh pendidikan dan mendominasi dunia kerja. Gen Z adalah generasi yang sudah terbiasa dengan smartphone. Gen Z ini merupakan awal populernya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Oleh karena itu, Gen Z tidak asing dengan teknologi smartphone sehingga mereka disebut generasi sosial media. Gen Z juga sering melakukan phubbing (phone snubbing) yaitu seseorang yang mengabaikan orang lain karena terlalu sibuk dengan ponsel. Bisa dikatakan Gen Z merupakan generasi yang sudah biasa menggunakan jaringan internet dan jaringan media sosial sejak kecil. Francis dan Hoefel (2018) mengatakan Gen Z merupakan generasi hypercognitive yang suka mencari informasi dan melakukan referensi dari beberapa sumber internet. Jika kita menengok ke belakang, sebenarnya Gen Z lahir pada masa sulit, yaitu pada waktu krisis ekonomi dan politik yang terjadi di Indonesai tahun 1998, kemudian mereka juga menghadapi pandemi Covid-19 membuat Gen Z menjadi generasi tangguh dan mandiri.
Ternyata lebih dari satu dekade lalu, muncul generasi baru yang belum memiliki nama. Sebuah Lembaga riset Mark McCrindle dan Asley Fell (2020) yang tertarik pada analisis generasi memutuskan melakukan uji coba lewat survei pada masyarakat Australia nama yang cocok bagi generasi baru. Ketika tim survei menanyakan mereka tentang apa nama generasi setelah generasi Z, banyak masyarakat menyarankan generasi A setelah generasi Z yang merupakan huruf terakhir pada alfabet. Kembali ke belakang dengan istilah generasi A nampaknya kurang tepat. Akhirnyan nama yang digunakan generasi setelah generasi Z adalah generasi Alpha dengan suatu frasa kunci, “Alpha - not return to the old, but the start of something new.” Penggunaan istilah Alpha untuk mendeskripsikan tidak kembali ke hal-hal yang lama, tetapi berangkat ke sesuatu yang baru.
Saat ini ke depan, Gen Alpha merupakan generasi yang sedang tumbuh dan berkembang serta sedang menempuh pendidikan di berbagai Lembaga pendidikan. Mereka lahir ketika teknologi digital berkembang pesat dan masif. Oleh sebab itu, teknologi digital yang canggih merupakan dunia mereka. Ketika masih bayi, orang tua sudah mulai mengenalkan media digital pada mereka. Misalkan, ketika bayinya sedang menangis, orang tua mencoba menenangkan dengan menghiburnya dengan lagu-lagu dari youtube atau dari handphone (hp). Anak yang belum berusia 2 tahun saat ini sudah mampu menggunakan layar sentuh (touch screen) untuk menggunakan smartphone. Dengan lincahnya anak sudah mampu memilih hiburan sendiri dengan HP-nya.
Sebenarnya media digital ibarat pisau bermata dua, satu sisi bernilai positf, sedangkan sisi yang lain negatif. Oleh karena itu, orang tua harus selalu mendampingi anak ketika bermain HP. Jangan sampai anak kecanduan bermain hp, orang tua harus bijak dalam mendidik anak. Karakteristik Gen Alpha yaitu (1) hiperkonektivitas, Gen Alpha terbiasa terhubung dengan jaringan internet dan digital sehingga perhatian terhadap teknologi digital menjadi gaya hidup, (2) mandiri, Gen Alpha mampu mengambil keputusan sendiri dan ingin dipandang sebagai generasi yang mandiri dan tidak tergantung orang lain, (3) terampil dalam menggunakan teknologi, kemampuan dalam menggunakan teknologi digital tidak perlu diragukan sehingga mampu melaksanakan tugas dengan cepat.
Selain perlunya mengetahui karakteristik Gen Alpha yang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, kekurangan Gen Alpha juga perlu menjadi perhatian. Berikut ini merupakan kekurangan atau tantangan yang dihadapi Gen Alpha: (1) kebiasaan Gen Alpha dengan tekonologi digital menyebabkan interaksi dengan orang lain berkurang, sikap acuh, kurang tanggap terhadap lingkungan merupakan tantangan bagi Gen Alpha, (2) cerdas dalam menyaring informasi, derasnya informasi yang dapat diakses oleh anak bisa jadi informasi tidak sesuai dengan perkembangan anak, orang tua perlu mengawasi penggunaan smartphone, dan (3) berpikir kritis, anak harus mampu memilih, memilah dan menentukan informasi yang valid dan bermanfaat bagi belajarnya.
Peran Pendidikan ke Depan
Barangkali tidak ada di antara kita yang tidak setuju bahwa pendidikan punya peran dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Tinggi rendahnya kualitas SDM akan menentukan tinggi rendahnya produktivitas masing-masing yang pada akhirnya akan menyumbang kepada tinggi rendahnya produktivitas nasional. Gen Z dan Gen Alpha (generasi emas ) merupakan kunci utama dalam meningkatkan SDM yang berkualitas sebab mereka merupakan pelaku utama dalam meningkatkan SDM.
Dibutuhkan restrukturisasi kurikulum setiap periodik bukan karena ganti menteri ganti kurikulum tetapi memang suatu keniscayaan agar kurikulum adaptif dengan dinamika masyarakat dan kemajuan teknologi. Restrukturisasi kurikulum tidak hanya mempertimbangkan kemajuan teknologi saat ini tetapi harus memprediksi perkembangan teknologi masa depan. Bahkan perkembangan teknologi dua dasawarsa sudah bisa diprediksi saat ini seperti tulisannya Joane McEnchen yang berjudul The world in 2045: A future built on contributive learning. Dunia berkembang begitu cepat bukan semata kemajuan teknologi yang cepat tetapi manusia telah belajar dan akhirnya mampu beradaptasi dengan teknologi.
Kecerdasan buatan (artificial intelligence) bukan lagi suatu hal yang dikawatirkan akan mengganti manusia (disruption) tetapi sebagai mitra untuk membantu manusia memecahkan masalah. Peran masyarakat lebih menonjol, konektivitas antar budaya dan generasi serta tantangan global mampu dipecahkan bersama.
Kreativitas, berpikir kritias kecerdasan emosional dan kemampuan beragumentasi sangat bernilai bagi umat manusia sebab tidak akan diganti AI. Dua dasawarsa ke depan, manusia mampu memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) agar berkontribusi positip bagi kemajuan umat manusia.
AI tidak akan menganti sepenuhnya peran manusia, malah sebaliknya AI meningkatkan potensi manusia. Dalam bidang pendidikan AI mampu membantu menciptakan pembelajaran individu (personalized learning) yang menyesuaikan dengan perbedaan individu baik kemampuan, gaya belajar dan minat.
Generasi penerus yaitu Gen Z dan Gen Alpha merupakan generasi yang paling dominan mengalami bonus demografi yaitu suatu negara yang mempunyai jumlah penduduk usia produktif (15- 64 tahun) lebih besar dibandingkan usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Kita sudah memahami karakteristik generasi penerus dan mampu memprediksi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang kita butuhkan saat ini adalah cetak biru (blue print) pembangunan pendidikan jangka panjang. Cetak biru pendidikan sebagai Kompas yang memandu arah pembangunan pendidikan dan juga menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia beberapa tahun ke depan.
Cetak biru pembangunan pendidikan harus jelas, terarah dan berkesinambungan. Jangan sampai suatu kebijakan tidak berkesinambungan, misalnya, kurikulum tahun 2006 pada pendidikan dasar dan menengah ada mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK), padahal guru-guru yang mengajar belum siap.
Merespons kebutuhan guru-guru TIK, beberapa perguruan tinggi membuka jurusan pendidikan TIK. Sayangnya, kurikulum 2013 mata pelajaran TIK dihapus membuat lulusan sarjana pendidikan TIK kecewa. Pada Kurikulum Merdeka, mata pelajaran TIK muncul kembali sebagai mata pelajaran wajib, meski namanya menjadi mata pelajaran Informatika. Kasus seperti ini menunjukkan tidak adanya kebijakan yang berkesinambungan hanya bersifat reaktif tidak berbasis kajian jangka panjang. Akibatnya, pembangunan pendidikan kita tidak memiliki arah yang jelas. (*)
Dosen Pascasarjana Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus (UMK)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




