Nyawiji, Makarti, Wonosobo Loh Jinawi yang Kita Wariskan

H. Arif Riyanto • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 04:46 WIB
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan H. Wibowo Prasetyo
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan H. Wibowo Prasetyo
 
Oleh: H. Wibowo Prasetyo

RADARSEMARANG.ID--Nyawiji, Makarti, Wonosobo Loh Jinawi. Dari tiga kata itulah Kabupaten Wonosobo memilih memperkenalkan dirinya pada usia yang ke-201. Tiga kata yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang tidak sederhana.

Pada 24 Juli 2026 ini, Kabupaten Wonosobo genap berusia 201 tahun. Sebuah perjalanan yang telah melewati pergantian generasi, perubahan zaman, dan berbagai dinamika kehidupan masyarakatnya. Dari kota di kaki pegunungan, Kabupaten Wonosobo terus tumbuh menjadi rumah bagi banyak harapan.

Usia 201 tahun adalah usia yang matang. Akan tetapi, kematangannya tidak pernah ditentukan oleh banyaknya lilin yang menyala di atas kue ulang tahun. Namun, diukur dari kemampuannya menjaga yang baik dari masa lalu, sekaligus keberaniannya menjemput masa depan.

Tema Hari Jadi Kabupaten Wonosobo Nyawiji, Makarti, Wonosobo Loh Jinawi ini sangat relevan. Sebab, di tengah perubahan yang berlangsung demikian cepat, sebuah daerah tidak cukup hanya tumbuh dan berkembang. Ia juga perlu menjaga nilai-nilai yang membuatnya dicintai oleh masyarakatnya.

Nyawiji tidak hanya berarti bersatu. Ia lebih dekat dengan kesediaan untuk saling merawat. Orang Jawa mengenal kata nyawiji sebagai menyatunya pikiran, hati, dan ikhtiar untuk tujuan yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari, ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: tetangga datang tanpa diminta ketika ada yang berduka.

Hal-hal sederhana itulah yang menurut saya membuat Kabupaten Wonosobo tetap hangat dan nyaman. Bukan semata-mata karena alamnya yang indah atau udaranya yang sejuk, melainkan karena masyarakatnya masih percaya bahwa hidup akan terasa lebih ringan jika dijalani bersama-sama.

Lalu, Makarti. Sebuah kata yang mengingatkan bahwa kerja bukan sekadar soal menyelesaikan tugas, melainkan menghadirkan manfaat. Sebab, pembangunan tidak pernah berhenti pada angka-angka statistik yang membaik. Ia harus hadir di meja makan masyarakat, di ruang-ruang kelas yang semakin layak, pada semakin terbukanya kesempatan bagi anak-anak muda untuk tumbuh dan berkarya, serta pada senyum warga yang merasa hidupnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Makarti juga mengajarkan bahwa pembangunan bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu tarikan napas. Ia adalah kerja yang terus dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap kepemimpinan pada dasarnya sedang menulis satu halaman dalam sejarah.

Hari ini, halaman itu sedang ditulis oleh Bupati Afif Nurhidayat dan Wakil Bupati Amir Husein bersama seluruh masyarakat Kabupaten Wonosobo. Tentu, tidak ada pembangunan yang selesai hanya dalam satu atau dua periode kepemimpinan. Harapan masyarakat akan selalu lebih besar daripada apa yang mampu dikerjakan dalam waktu yang singkat. Oleh sebab itu, yang paling penting bukan hanya seberapa jauh kita telah melangkah, melainkan memastikan arah yang dituju tetap benar dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Kita menyaksikan Kabupaten Wonosobo yang terus berbenah. Infrastruktur semakin ditata, pelayanan publik terus diperbaiki, ruang-ruang kreativitas anak muda semakin bertumbuh, dan berbagai ikhtiar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat terus dihadirkan. Pariwisata, misalnya, terus dikembangkan tanpa meninggalkan watak Kabupaten Wonosobo sebagai daerah pegunungan yang bersahaja. Pertanian terus didorong agar semakin memberi kesejahteraan bagi petani-petaninya.

Pembangunan memang belum selesai, dan karena itulah harus terus dikerjakan. Membangun tentu tidak pernah sederhana. Ia dituntut untuk terus bergerak maju tanpa kehilangan dirinya sendiri. Pada titik inilah, Makarti menemukan maknanya yang paling nyata, yakni bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Kemudian, Loh Jinawi. Selama ini, kita kerap memaknainya sebagai tanah yang subur dan makmur. Padahal, di abad kedua usianya, makna itu jauh lebih luas. Yang subur bukan hanya tanahnya, tetapi juga gagasan-gagasannya.

Kabupaten Wonosobo kaya akan anak-anak muda yang memiliki mimpi besar tanpa harus tercerabut dari akar budayanya. Sebab itu, diperlukan ruang-ruang belajar yang semakin baik, pelaku UMKM yang semakin berdaya, petani yang semakin sejahtera, serta masyarakat yang semakin terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.

Loh Jinawi pada akhirnya adalah cita-cita tentang Kabupaten Wonosobo yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga menjanjikan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di usia yang ke-201 ini, agaknya yang sedang dirayakan bukanlah bertambahnya usia sebuah kabupaten. Yang dirayakan adalah ikhtiar yang tidak pernah selesai untuk menjadikan Wonosobo sebagai rumah yang nyaman bagi semua orang.

Sebab, sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh pemerintahnya. Ia juga dibangun oleh guru yang mengajar dengan ketulusan, petani yang menanam dengan kesabaran, pedagang yang bekerja sejak fajar, para pemuda yang memilih pulang untuk membangun kampung halamannya, serta masyarakat yang tidak pernah lelah menjaga semangat kebersamaan.

Maka sejatinya, Nyawiji, Makarti, Wonosobo Loh Jinawi bukan sekadar dipilih sebagai tema Hari Jadi. Ia adalah pengingat tentang siapa kita hari ini dan akan menjadi apa kita esok hari.

Dirgahayu ke-201 Kabupaten Wonosobo. (*)

 

Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.

Editor : H. Arif Riyanto
Fraksi PDI Perjuangan Wibowo Prasetyo dpr ri Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat HUT WONOSOBO