Hal ini, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur sekaligus refleksi atas perjalanan panjang sejarah Wonosobo.
Selain itu, tradisi yang menjadi agenda wajib setiap peringatan hari jadi ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan hari ini berdiri di atas fondasi perjuangan, persatuan, dan pengabdian para pendahulu.
Prosesi diawali dengan pembacaan sejarah singkat KRT Setjonegoro, dilanjutkan doa dan tahlil bersama, kemudian ditutup dengan tabur bunga sebagai simbol penghormatan dan penghargaan atas jasa para pendiri Kabupaten Wonosobo.
Dalam sambutannya, Bupati Afif mengatakan ziarah merupakan bentuk penghormatan kepada para tokoh yang telah berjuang membangun fondasi pemerintahan dan memperjuangkan kemandirian Wonosobo.
Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan ikhtiar untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerah.
"KRT Setjonegoro merupakan Bupati Wonosobo pertama. Ketika Perang Jawa meletus, Wonosobo menjadi salah satu basis penting perjuangan Pangeran Diponegoro.
Kondisi alam berupa hutan belantara dan perbukitan menjadikan wilayah ini sebagai tempat strategis untuk menyusun kekuatan dan strategi perjuangan melawan kolonial Belanda," ujar Afif.
Ia menjelaskan keberadaan KRT Setjonegoro di wilayah Ledok dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah, termasuk laporan pemerintah kolonial Belanda setelah berakhirnya Perang Diponegoro.
KRT Setjonegoro juga dikenal sebagai tokoh yang memindahkan pusat pemerintahan dari Selomerto ke kawasan yang kini menjadi pusat Kota Wonosobo, sehingga menjadi tonggak penting dalam perkembangan pemerintahan dan pembangunan daerah.
"Tradisi ziarah ini penting untuk terus dilestarikan agar generasi penerus mengenal sejarah daerahnya dan menghargai perjuangan para pendahulu. Kemajuan Wonosobo yang kita rasakan hari ini merupakan hasil dari pengorbanan dan kerja keras para leluhur," tambahnya.
Momentum Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo tahun ini mengusung tema "Nyawiji Makarti Wonosobo Loh Jinawi", yang menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan hanya dapat diwujudkan melalui persatuan, sinergi, dan gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Semangat tersebut selaras dengan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendiri Wonosobo.
Yakni kebersamaan dalam menghadapi tantangan dan pengabdian tanpa pamrih demi kepentingan masyarakat.
Tema tersebut juga menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat untuk terus bergandengan tangan dalam menjawab tantangan masa depan.
Khususnya memperkuat ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi menuju Wonosobo yang tangguh, mandiri, dan sejahtera.
Nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu menjadi modal sosial yang penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Ziarah ke makam KRT Setjonegoro menjadi penutup rangkaian ziarah ke makam para tokoh pendiri dan pejuang Wonosobo.
Sebelumnya, rombongan telah melaksanakan ziarah ke makam KH Muntaha Al-Hafidz di Deroduwur, Mojotengah; Ki Ageng Wanasaba di Plobangan, Selomerto; Tumenggung Jogonegoro di Pakuncen, Selomerto; Tumenggung Selomanik di Kaliwiro; Tumenggung Mangun Kusumo dan Tumenggung Tjokrohadisoerjo di Ketinggring; KH R. Abdul Fatah di Sigedong, Kepil; serta KH Asmorosufi di Sapuran.
Rangkaian ziarah, selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga menjadi media edukasi sejarah bagi generasi muda agar terus menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah, semangat persatuan, serta kepedulian untuk ikut membangun Wonosobo.
Pemerintah Kabupaten Wonosobo mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Hari Jadi ke-201 bukan sekadar perayaan usia, melainkan momentum memperkuat kolaborasi, gotong royong, dan tekad bersama dalam melanjutkan perjuangan para pendiri daerah.
Demi mewujudkan Wonosobo yang semakin maju, lestari, mandiri, dan menyejahterakan seluruh masyarakat. (*/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo