Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Korban Tewas Kecelakaan Maut di Kertek Wonosobo Bertambah, Sopir Bus Jadi Tersangka

Agus AP • Senin, 12 September 2022 | 16:25 WIB
Suasana di lokasi kejadian saat lalu lintas sudah dialihkan dan tiang listrik baru mulai dipasang, Jumat (24/9/2021). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Suasana di lokasi kejadian saat lalu lintas sudah dialihkan dan tiang listrik baru mulai dipasang, Jumat (24/9/2021). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Wonosobo - Korban kecelakaan maut di turunan Kertek, Wonosobo bertambah menjadi tujuh orang. Korban ketujuh ini mengalami luka berat dan dinyatakan meninggal beberapa jam pasca kejadian. Selain itu, polisi telah menetapkan sopir bus pariwisata bernopol N 7944 US, Hardiyatna Adhita, 34, warga Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur sebagai tersangka.

Kapolres Wonosobo AKBP Eko Novan Prasetyo Puspito menjelaskan, pada Minggu (11/9) kemarin, pihak kepolisian kembali melakukan gelar perkara kasus kecelakaan maut yang melibatkan beberapa kendaraan di Jalan Raya Sindoro-Sumbing, tepatnya di perempatan Pasar Kertek tersebut.

"Ya, kita meneruskan proses tersebut. Tadi (kemarin) kita telah melakukan gelar perkara lanjutan dalam kasus kecelakaan ini," jelasnya setelah melakukan olah TKP di lokasi kejadian sejak pukul 08.00 pagi, kemarin.

Dikatakan, korban meninggal tambahan atas nama Galih Setiawan, 36, warga Kelurahan Mayangan, Kecamatan Jati, Kota Probolinggo.  Penumpang bus pariwisata ini meninggal setelah sempat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo.

"Korban meninggal Sabtu kemarin sekitar pukul 18.00. Korban mengalami luka terbuka di bagian kepala dan sempat dirawat intensif di rumah sakit," terangnya.

Penumpang Mitsubishi L300 pikap nopol AA-8948-YF Muhammad Ainun Zaki yang mengalami luka ringan di kaki kanan dan memar kepala, sudah tersadar. Namun korban masih dirawat di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, karena masih mengalami trauma.

Kasatlantas Polres Wonosobo AKP Ragil Irawan mengatakan, sopir bus pariwisata Hardiyatna Adhita telah dinyatakan sebagai tersangka. "Sehari pasca kecelakaan, sopir bus telah kita tetapkan sebagai tersangka. Tentu dengan menimbang beberapa hal," jelasnya.

Alasan penetapan tersangka, menurut dia, dikarenakan sopir belum paham dengan medan yang dilalui. Sopir bus pariwisata itu baru kali pertama ke wilayah Wonosobo.

"Meski dia (sopir) mengaku sudah tiga kali ke Wonosobo,  tapi dua perjalanan sebelumnya mengendarai mobil Avansa dan Hiace. Baru kali ini membawa bus besar dengan penumpang banyak," terangnya.

Selain itu, kata dia, sopir juga dianggap tidak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas yang terpasang di sepanjang jalan. Sebab, sopir diketahui mengemudikan bus tersebut dengan kecepatan di atas 70 sampai 80 kilometer per jam.

"Seharusnya gunakan gigi rendah. Tapi, menurut pengakuannya, sopir ini menggunakan gigi tiga dan empat dengan melebihi batas kecepatan yang boleh ditentukan di wilayah tersebut. Apalagi tipikal kendaraan besar itu menggunakan rem angin yang berbeda dengan muatan kendaraan Avanza maupun Hiace," terangnya.

Dari hasil penyidikan itulah, sopir ditingkatkan statusnya menjadi tersangka. Hal ini untuk mempertanggungjawabkan atas hilangnya tujuh nyawa manusia dalam kecelakaan tersebut. Karena dianggap lalai, sopir bus akan dijerat UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 310 dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Sementara itu, tiga dari enam korban kecelakaan lalu lintas di simpang empat Pasar Kertek, Wonosobo Sabtu (10/9) dini hari lalu, adalah warga Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung. Mereka dalam perjalanan pulang usai pentas campursari di Kalibawang, Kabupaten Wonosobo.

Kepala Desa Gandurejo Nurocmad menuturkan, tiga warganya yang menjadi korban adalah Ponijan, Andi Bachtiar, dan Nur Suwanto. Mereka masih satu keluarga. Para korban ini merupakan anggota kelompok campursari Sang Bimo.

“Mereka dalam perjalanan pulang usai menggelar campursari di Desa Mergolangu, Wonosobo. Nur Suwanto dan Andi adalah kakak beradik, sementara Ponijan masih sepupu,” tuturnya.

Pentas di Desa Mergolangu, Kalibawang rupanya menjadi pentas terakhir lima seniman di kelompok campursari Sang Bimo. Dalam grup tersebut, Ponijan berperan sebagai pembawa acara, Andi dan Nur Suwanto adalah pemain musik. Tiga korban lain dalam rombongan ini adalah Supono, warga Pagerotan, Kertek, Wonosobo, pemain musik yang juga sopir pikap L300; serta dua penyanyi masing-masing Yuliani, warga Kaloran Temanggung, dan Dita, warga Bansari Temanggung. Satu penumpang pikap lainnya, M. Ainun Zaki mengalami luka-luka.

Ketiga korban tewas tiba di rumah duka di Dusun Jambon Sabtu (10/9) siang. Mereka dikebumikan di pemakaman setempat setelah disalatkan di masjid Desa Gandurejo. Pihak keluarga belum bisa dimintai keterangan karena masih shock atas kematian korban.

Seperti diberitakan sebelumnya, jalur tengkorak Kertek, Wonosobo kembali meminta tumbal. Bus yang membawa rombongan wisatawan ke Dieng mengalami kecelakaan di jalan turunan Simpang Empat Pasar Kertek tersebut, Sabtu (10/9) sekitar pukul 02.00. Bus itu  diduga mengalami rem blong hingga menabrak empat mobil dan tugu ikon Kertek. Akibatnya, tujuh orang tewas, dan seorang terluka. (git/din/ton/aro) Editor : Agus AP
#top #kecelakaan maut di turunan Kertek