Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pulang Begadang, Warga Tegalsari Semarang Melihat Penampakan Tetangganya yang Meninggal Satu Minggu Sebelumnya

Sulistiono • Selasa, 30 September 2025 | 02:00 WIB

 

Ilustrasi penampakan arwah (ai/sulistiono)
Ilustrasi penampakan arwah (ai/sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Begadang atau nongkrong hingga larut malam dan selesai biasanya menjalang subuh adalah salah satu kebiasaan yang mungkin sebagian pernah dilakukan masyarakat kita. 

Begadang ada yang karena tuntutan seperti mendapat giliran jaga siskamling, yang biasanya mulai jam 11 malam sampai jam 4 pagi. Setelah berkeliling kampung melakukan patroli, warga yang dapat giliran jaga, biasanya nongkrong di pos jaga. 

Ada juga yang sengaja begadang bersama teman-temannya, menghabiskan malam mengobrol atau main gitaran di tempat tongkrongan. 

 Baca Juga: Cerita Warga Semarang yang Dihantui Penampakan Menyeramkan Ini saat Berburu Nomor untuk Tebak Angka Togel, Auto Tobat!

Kebiasaan begadang ini juga yang biasa dilakukan Sigit Wibowo (34), warga Tegalsari, Candisari,Kota Semarang.

Hampir setiap hari dia tak pernah absen melewatkan malam dengan begadang bersama teman-teman sekampungnya. 

Apalagi, meski usianya sudah menginjak kepala tiga, Sigit mengaku belum memiliki istri alias masih bujang. 

"Lah daripada ketap-ketip dirumah ya mending nongkrong dirumah sama teman-teman to mas," tuturnya saat ngobrol dengan RadarSemarang.ID di warung kopi tak jauh dari rumahnya. 

Karena kebiasaannya itu, orang tuanya sempat menegur dirinya, dengan alasan faktor kesehatan.

Sekali dua kali dia patuh, namun keesokan harinya dia kembali nongkrong bersama teman-temannya. 

"Ibuk yang suka ngomel-ngomel, penggawean mben wengi begadang, eman-eman awakmu le, kowo durung kawin, ngko soro awakmu ne wes kawin, kakehan penyakit (Ibu yang suka marah-marah, kerjaan tiap malam koq begadang, eman-eman badanmu le, kamu belum nikah, nanti sengsara tubuhmu kalau sudah nikah, kebanyakan penyakit)," tutur Sigit dengan logat bahasa Jawa. 

Biasanya dia pergi begadang sekitar jam 9 atau 10 malam, saat sang ibu sudah istirahat dan pulang jam 3 pagi, bahkan pernah dirinya pulang menjelang adzan subuh. 

"Kalau ibu sudah tidur, saya nglimpe keluar rumah pergi ke tongkrongan teman-teman," ungkap pria yang memiliki tahi lalat di bawah hidung sebelah kanan ini. 

Seperti malam itu, tepatnya bulan agustus kemarin, persis pas malam jumat, selepas ibunya masuk kamar berangkat ke paraduan, dia menyelinap keluar rumah. 

"Tanggalnya saya lupa tapi malamnya malam jumat, saya ingat karena malam itu habis isya saya tahlilan tujuh hari meninggalnya pak Sodikin,tetangganya saya yang terpaut lima rumah dari tempat tinggal saya," ceritanya. 

 Baca Juga: Pulang Kerja Tengah Malam, Pemotor Ini Dikagetkan dengan Penampakan Ular Raksasa di Turunan Sigar Bencah Semarang

Setelah memastikan ibunya sudah terlelap, Sigit langsung bergegas menuju pertigaan kampung tempat biasa dia dan teman-temannya nongkrong. 

"Teman-teman waktu saya datang sudah pada nongkrong, kebetulan salah satu dari mereka ada yang baru saja dapat gajian, kita dibungkuskan ayam goreng, kerang dan kepiting, kita pesta makan-makan enak malam itu," cetusnya. 

Seperti biasa aktivitas begadang malam itu selain diisi dengan makan-makan, mereka ngobrol ngalor ngidul mulai dari masalah berat situasi politik yang tak menentu sampai ngrasani salah satu kembang desa yang baru saja dipersunting seorang tentara. 

"Ya biasalah ngobrol gak jelas juntrungnya, kadang ada yang bawa gitar nyanyi sekenanya tapi kalau sudah diatas jam 12 malam, gak ada yang nyanyi-nyanyi, gak enak sama warga," ujarnya. 

Malam jumat itu mereka baru bubar begadang sekitar jam 02.20 wib dinihari, apalagi cuaca saat itu sudah mulai turun hujan rintik-rintik.

 Baca Juga: Sedang Duduk Santai di Ruang Tamu, Penghuni Kos di Tembalang Semarang Dikagetkan dengan Penampakan Horor Ini

"Tumben malam itu mulai turun hujan rintik-rintik padahal masih musim kemarau, kami bubar pulang kerumah masing-masing," tukas Sigit. 

Dari tujuh orang yang begadang malam itu, Sigit pulang ke arah rumahnya sendirian, karena kebetulan teman-temannya berbeda arah pulang.

Rumahnya sendiri berada di ujung kampung, dengan posisi diatas kampung. Kampung Tegalsari memiliki kontur perbukitan. 

"Rumah teman-teman itu kebanyakan pada dibawah posisinya, sementara rumah saya ada diatas. Jadi kalau pulang, saya harus melewati jalan yang menanjak," jelasnya. 

Meski mata sudah mulai agak mengantuk apalagi  waktu nongkrong dia makan cukup banyak, Sigit berjalan agak sedikit cepat agar tidak kehujanan ditengah jalan. 

"Jarak dari tempat saya nongkrong dengan rumah sekitar 300 ratus meteran,dekat, cuma ya itu jalannya nanjak kalo pulang," katanya. 

Dua puluh meter menjalang sampai rumahnya, tiba-tiba Sigit merasakan bulu kudunya berdiri, apalagi saat lampu jalan menjelang rumahnya tiba-tiba padam. 

 Baca Juga: Cerita Horor Pasutri Ini Diganggu Sosok Perempuan saat Nginap di Hotel Semarang, Bikin Merinding!

"Aneh gak biasanya, koq tiba-tiba bulu kuduk berdiri, terus lampu jalan kearah rumah itu kok padam, padahal tadi waktu berangkat masih nyala," kata pria yang bekerja di sebuah bengkel motor ini. 

Namun dia tak memperdulikan, langkahnya semakin cepat menuju tempat tinggalnya. Namun, langkah kakinya melambat saat melihat sosok pria dengan wajah menunduk, tengah duduk didepan rumah tetangganya. 

"Saat aku amat-amati, loh itu khan pak Sodikin, tapi saya lupa atau gak ngeh kalau beliau itu sudah meninggal. Waktu lewat depannya, saya tegur dong...monggo pak dhe, koq taseh teng jawi (monggo pak dhe, kok masih diluar?)," ucap Sigit. 

Namun, teguran Sigit itu tak dihiraukan tetangganya itu. Pria tersebut diam, wajahnya menunduk kebawah, sembari merapatkan kedua tangannya. 

"Waktu saya tegur, pak Sodikin diam, kepalanya menunduk kebawah, ekspresinya seperti ekspresi orang sedih, terus pakaian yang dipakai itu baju tapi sudah agak lusuh, ada beberapa sobekan dibeberapa bagian bajunya," ucap Sigit. 

 Baca Juga: Asyik Mancing di Tambak, Pemancing Ini Dikagetkan dengan Sosok Hitam Tinggi Besar Lebih dari 2 Meter

Karena tegurannya tak dibalas pak Sodikin, dia langsung mempercepat langkah kaki menuju rumahnya yang hanya tinggal berjarak dua puluh meteran. Meski saat itu dia memendam pertanyaan dalam hati dengan sikap tetangganya itu. 

"Saya kan belum ngeh waktu itu kalau pak Sodikin sudah meninggal, waktu itu saya merasa heran, tumben biasanya dia kalau disapa pasti menjawab dan ramah, tapi koq waktu itu diam saja,bahkan tidak melihat dirinya," tambah Sigit. 

Saat sampai dirumahnya dan baru membuka pintu rumah, ibunya sudah menunggu di ruang tamu dengan muka masam. Seperti biasa dia mendapat omelan dari sang ibu.

"Bocah kok kandanane angel men, wong malam jumat koq yo isih wae begadang, po yoa ora podo wedi demit (Anak koq susah sekali diberitahu, malam jumat koq ya masih saja begadang, apa gak pada takut dimakan setan)"kata Sigit menirukan omelan ibunya waktu itu. 

Seperti biasa dia hanya cengar-cengir mendengar omelan ibunya itu. Saat dia hendak masuk ke kamar, dia teringat dengan sikap tetangganya, pak Sodikin yang tadi ditemui sedang duduk dipinggir jalan depan rumahnya. 

"Mak, aku mau weruh pak Sodikin lagi lungguh pinggir dalan ne ngarep omahe, ta aruh-aruhi koq meneng wae ora nggubris, ora ndelok aku, cuek wae mak. (Mak, aku tadi lihat pak Sodikin sedan duduk dipinggir jalan depan rumahnya, ta sapa koq diam saja tidak menggubris, tidak lihat aku,cuek saja mak)"adu Sigit. 

Jawaban ibu yan mendengar aduannya membuat Sigit kaget dan tersadar. 

"Lah yo mesti meneng wae, meh ngomong piye, lah wong pak Sodikin wes ninggal 7 dino kepungkur, terus kowe khan mau mbengi tahlilan to? (Lah ya mesti diam saja. mau ngomong gimana, lah pak Sodikin sudah meninggal tujuh hari lalu, terus tadi malam khan kamu ikut tahlilah khan)," tutur ibunya saat itu. 

Sigit baru tersadar kalau dia baru saja melihat penampakan hantu orang yang mirip dengan tetangganya yang sudah meninggal dunia tujuh hari lalu. 

Dia segera bergegas masuk kedalam kamarnya, karena masih merinding dengan kejadian yang baru saja dialaminya.

Suara omelan ibunya sayup-sayup terdengar dibalik bantal dan selimut yang dia gunakan untuk menutup wajahnya yang masih ketakutan. 

"Isih wani begadang maneh kowe, ketemu demit le (Masih berani begadang lagi kamu, bertemu demit le)," suara omelan ibunya, tapi Sigit tak menggubris. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#nongkrong #kisah horor #Cerita Horor #tetangga 7 hari meninggal #Horor #Mistery #Arwah #begadang #mistis