RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini masih seputar pengalaman mancing mania saat menyalurkan hobinya memancing ikan baik di tengah laut seperti dam merah Tanjung Mas maupun saat memancing di tambak.
Jika pada edisi sebelumnya seorang pemancing bernama Suripto, warga Tambakboyo, Semarang Timur berbagai kisah horornya ditemani sosok hantu pocong saat mancing ditambak Ngebruk, Mangkang.
Kali ini cerita horor lainnya dialami Sukarman (50), warga Menoreh, Sampangan, kecamatan Gajahmungkur.
Sama seperti Suripto, pria yang akrab dipanggil Lek Man ini terbilang mancing mania kelas berat. Hampir semua spot mancing di seputaran Semarang sudah pernah dijajahinya.
Ditemui RadarSemarang.ID saat sedang asyik nongkrong di sebuah angkringan di kawasan Menoreh Raya, Sampangan, Lek Man mengaku bertemu makhluk halus saat mancing terutama malam hari adalah hal yang biasa.
"Dah biasa mas ketemu kayak gituan (hantu) baik waktu mancing di dam merah atau di tambak," tutur Sukarman mengawali cerita.
Baca Juga: Bikin Merinding, Eks Pegawai Tempat Wisata di Semarang Selalu Melihat Sosok Ini Setiap Malam Jumat
Dalam seminggu dia mengaku bisa mancing dua kali untuk mengisi waktu luang saat mendapat libur kerja.
"Biasanya seminggu dua kali pas dapat libur kerja,daripada suntuk di rumah, apalagi anak-anak sudah besar ya mending buat mancing saja," tutur pria berputra satu ini.
Kebiasaan mancing saat malam hari,tambah Sukarman, membuat dirinya acapkali bertemu atau kadang mendapat gangguan sosok tak kasat mata.
"Waktu di dam merah yang kemaren ada orang tenggelam pemancing empat orang, saya kerap diweruhi (melihat), salah satunya adalah hantu yang mirip orang sedang mancing," cetusnya.
Penampakan lain yang pernah dialaminya biasanya hanya berupa bayangan berkelebatan yang terbang diatas air.
"Pernah juga beberapa kali kelebatan bayangan tapi kurang jelas bentuknya seperti terbang di atas air laut," imbuhnya.
Selain itu menurutnya, suara-suara misterius yang tidak terlihat bentuk makhluknya juga pernah dialaminya.
Baca Juga: Cerita Horor, Pria Ini Sempat Pingsan Saat Bertemu Sosok Mengerikan di Terowongan Bendan Semarang
"Waktu pulang mancing di sekitar Marina,saat jalan kaki mau kembali melewati tanah kosong yang dulu tempat pembuangan korban pembunuhan itu, saya juga dengar suara orang tengah ngobrol tapi kayak orang bergumam dan setelah melewati itu dengar ada suara orang yang merintih suaranya perempuan,padahal disitu padang ilalang tanah kosong," ungkapnya.
Saking seringnya lihat penampakan saat mancing, membuat Sukarman seolah sudah kebal lihat hantu yang iseng mengganggunya.
"Bukannya sombong ya mas, tapi karena sering weruh makhluk kayak gitu, jadi malah kalau di weruhi gak ada perasaan apa-apa,karena lenbih banyak cuma bayangan atau suara-suara misterius ya"katanya tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Namun meski mengaku sudah "kebal", namun satu pengalaman horornya saat mancing yang membuat andrenalinnya naik adalah ketika mancing di tambak Bandengan, Kendal.
"Itu kejadiannya bulan Agustus kemaren habis perayaan agustusan, saya sama teman dua orang mancing ke sana, berangkat jam delapan malam, habis kerja bakti di masjid kampung," ungkapnya.
Dengan menggunakan dua motor, mereka sampai di tambak Bandengan hampir jam setengah sepuluh malam.
Setelah sampai di lokasi tambak dan ijin dengan penjaga tambak, Sukarman dan dua temannya kemudian berpencar mencari spot yang nyaman buat mancing di tambak tersebut.
"Saya misah dengan dua temannya, berjarak kurang lebih lima puluh meteran. Saya sendiri waktu itu di lokasi yang saya pilih, tidak ada pemancing lainnya," jelasnya.
Saat menjelang tengah malam,imbuh Lek Man,dirinya sudah mendapat lebih dari sepuluh ekor ikan nila.
"Kalau di tambak kan gak boleh mancing bandeng, kalau dapat harus di rilis lagi," jelasnya.
Saat jarum jam menunjukkan angka jam 1 dinihari, dia merasakan angin lebih kencang di tempat dia duduk sembari memancing, kemudian diiringi dengan suara seperti benda jatuh dibelakangnya.
Karena penasaran dengan suara keras yang mirip benda jatuh di belakangnya, Sukarman refleks menengok ke belakang.
"Saat menengok ke belakang itulah mas,saya lihat makhluk berwarna hitam legam,tubuhnya tinggi besar dengan mata berwarna merah menyala berdiri persis disamping gubug, jaraknya dari tempat saya mancing hanya sekitar lima meteran" ungkap Sukarman.
Makhluk yang memperlihatkan dirinya itu memiliki tubuh yang tidak hanya besar tapi juga tinggi.
"Tingginya ada kalau dua meter lebih, karena bayangan kepalanya itu diatas atap gubug. Bentuknya kalau orang-orang bilang itu genderuwo. Tapi saat itu posisinya genderuwonya sedikit agak serong ke kiri,tapi saya masih bisa lihat matanya yang merah," jelasnya.
Meski hanya berjarak lima meteran dari posisinya,tambah Sukarman, dirinya sama sekali tidak takut. Dia hanya memperhatikan makhluk itu hingga secara tiba-tiba menghilang sendiri.
"Ya sempat kaget sebentar terus saya bilang, gak usah ganggu, aku gur mancing ora meh ngopo-ngopo opo maneh mancing iwak bandeng (ya sempat kaget sebentar,terus saya bilang aku cuma mancing,tidak mau ngapa-ngapain apalagi mancing ikan bandeng," cetusnya.
Setelah dia ngomong itu, makhluk genderuwo itu langsung menghilang dari pandangannya.
"Setelah ngomong gitu,, langsung tiba-tiba ilang itu genderuwonya hahaha," ucap Lek Man.
Meski di weruhi makhluk menyeramkan, dia mengaku tetap melanjutkan memancing di lokasi tersebut.
"Yo tetap lanjut mancingnya mas, sampai hampir pagi,sudah tidak diweruhi apa-apa lagi," katanya.
Di weruhi genderuuwo saat mancing di tambak Bandengan,Kendal itu menurutnya adalah pengalaman horornya yang berkesan dan masih membekas.
"Ya karena itulah pertama kali saat mancing saya diweruhi dengan bentuk yang cukup jelas,dari jarak yang sangat dekat," tukasnya.
Menjelang subuh, tambah warga Menoreh, Sampangan itu selesai dan kembali bertemu dua temannya di tempat mereka memarkir motor. Saat bertemu itu dia tidak menceritakan penampakan yang dilihatnya.
"Dua teman saya itu penakut semua, nanti kalau saya ceritain,mereka gak mau diajak mancing lagi hahaha," pungkas Sukarman mengkahiri cerita horornya bersama RadarSemarang.ID. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi