RADARSEMARANG.ID, Semarang - Cerita horor kali ini darang dari Suripto, 47, warga Tambakboyo, Semarang Timur.
Kisah horornya semua berawal dari hobi beratnya yakni memancing ikan. Dia biasa memancing di sungai, kolam, tambak atau bahkan tengah laut.
Bagi seorang penghobi apalagi memancing, waktu dan lokasi bukanlah menjadi halangan untuk menyalurkan hobinya.
Mau berangkat pagi pulang malam atau berangkat malam pulang pagi, bagi pemancing adalah yang biasa di lakoni. Termasuk Suripto yang kata orang tak kenal wayah kalau sudah bicara soal mancing.
"Kalau sudah pengen mancing dan ada waktu libur kerja, yo wes biasane langsung to budal mancing gak nganggo suwe-suwe (kalau sudah ingin mancing dan ada waktu libur kerja, ya udah biasanya langsung berangkat gak pakai lama)"tutur Suripto dengan dialek Semarangannya yang kental.
Biasanya, tambah pria yang memiliki dua anak ini, dia pergi memancing bersama teman-temannya.
"Kadang berdua, kadang bertiga tergantung longgarnya teman-teman"cetusnya.
Lokasi favorit tempat dia memancing adalah dam merah yang selama ini di kenal sebagai salah satu spot mancing mania di kota Semarang.
"Itu dam merah di tengah laut itu mas, yang sering makan korban, seperti beberapa waktu lalu, ada tiga atau empat yang tewas tenggelam" katanya.
Karena mancing adalah hobi beratnya, resiko di terjang ombak dan tenggelam, mempertaruhkan nyawa, seolah sudah di lupakan.
"Ya kadang sudah gak peduli, karena kalau joran sudah di lempar ke tengah laut itu kita jadi lupa dengan resiko dan bahaya yang sewaktu-waktu datang hehehe"katanya terkekeh.
Selain di tengah laut, spot mancing favoritnya adalah tambak. Namun, jika memancing di tambak ada larangan memancing ikan bandeng. Jika dapat ikan jenis itu wajib di rilis atau di lepas lagi.
"Kalau dapat bandeng wajib di lepas, gak boleh di ambil. Kalau konangan yang jaga kita bisa di usir atau di denda, gak boleh mancing lagi di situ"jelasnya.
Dan, pengalaman memancing di tambak inilah yang akhirnya membuat dia memutuskan "pensiun" dari dunia mancing yang selama ini menjadi hobi beratnya.
Suripto mengenang peristiwa horornya itu terjadi pada bulan Juni tahun 2025 lalu. Pas kebetulan dia pergi berangkat memancing sendirian karena teman-temannya sedang ada kerjaan di luar kota.
"Ndilalah waktu iitu gak ada teman yang bisa ngancani, akhirnya karena sudah kadung pengen dan libur kerja, saya berangkat sendiri. Saya waktu itu mancing di tambak Ngebruk, Mangkang"tuturnya mengawali kisahnya.
Saat itu setelah ubo rampe perlengkapan mancingnya sudah siap, dia berangkat dari rumahnya di Tambakboyo selepas Isya. Dia masih ingat, waktu itu hari selasa malam, namun lupa tanggal persisnya.
"Selasa malam saya ingat, karena pas bulan Juni itu saya hari liburnya setiap hari selasa"tutur pria yang bekerja di salah satu pabrik di kawasan Sayung ini.
Setelah berpamitan dengan istrinya, dia kemudian meluncur ke Mangkang, ujung barat kota Semarang, yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari tempat tinggalnya.
Setelah menempuh perjalan kurang leebih 45 menit, Suripto tiba di lokasi tambak Ngebruk yang saat itu suasananya sepi. Tidak banyak pemancing waktu itu.
"Itu saya yang kedua kalinya mancing di Ngebruk, yang pertama bareng teman-teman. Nah malam itu, saat saya tiba, saya lihat ada satu dua pemancing di situ tapi kurang jelas, karena lokasinya agak jauh"katanya.
Setelah melihat-lihat sekitar lokasi, akhirnya dia memutuskan memancing di tambak yang lokasinya agak tengah.
"Kalau menuju ke sana khan harus jalan lewat apa itu namanya galengan ya, tapi sepanjang menuju ke sana, saya tidak ketemu satupun pemancing. Perasaan sudah mulai agak kurang enak waktu itu"bebernya.
Namun perasaan itu dia abaikan, langkah kakinya tetap melangkah menuju area tambak bagian tengah.
"Yo wes piye maneh, karena sudah sampai situ, meski hawanya perinding-perinding terus, tetep nekad, gasss"cetus Suripto.
Setelah kurang lebih sepuluh menit berjalan menyusuri "galengan" dari lokasi dia memarkir kendaraan. dia tiba di spot yang di tuju.
"Di lokasi itu waktu itu sudah jam 9an malam. Saya tengak-tengok gak ada orang yang mancing blas. tumben"ujarnya.
Singkat cerita sudah hampir 3 jam memancing, tak ada satupun ikan yang nyantol kailnya.
"Sampai jam 12 malam itu, kadingaren gak ada satupun ikan yang kena. Biasanya lima atau sepuluh ekor ikan sudah kena, tapi ini kok aneh." tambah Suripto.
Sekitar pukul 24.45 wib tiba-tiba dia merasakan hawa di tempat dia memancing terasa lebih dingin, terdengar suara aneh namun kurang jelas terdengar di telinganya.
"Mak perinding, tiba-tiba hawanya jauh lebih anyep,padahal saya udah pake jaket dan sebo penutup kepala, terus koq tiba-tiba ada suara aneh, kayak suara orang tapi gak jelas di sebelah kiri saya"ungkapnya.
Karena penasaran dengan suara aneh yang terdengar di sebelah kirinnya itulah, dia menoleh untuk mengetahui sumber suara. Dan makbedunduk, dia langsung shock seketika setelah menoleh ke kiri.
"Tahu gak mas apa yang ada di sebelah kiri saya?poncong mas,. duduk persis cuma jarak satu meter disebelahku"kenangnya.
Dia sempat memandang wajah hantu pocong yang ada di sebelahnya itu. Warnanya putih tapi sudah agak blawu kafannya,kepala pocong itu agak sedikit turun ke bawah, seperti memandang ke arah tambak di depannya.
"Mukanya itu item, hidungnya sudah rusak, matanya agak masuk ke dalam, mulutnya juga gak berbentuk, dan baunya itu gimana yaa..anyir anyir piye, gak enak banget baunya. Tapi yang jelas bentuknya persis kayak yang di film-film itulah pokoknya"gambarnya.
Sempat memandang sosok hantu pocong di sebelahnya sedikit agak lama, membuat Suripto tak kuat mental. Dia langsung jatuh terkulai di galengan tempat dia duduk.
"Aku semaput mas, wes gak eling-eling opo-opo saking shocknya (aku pingsan mas, gak ingat apa-apa karena shock)" katanya.
Tubuhnya akhirnya di temukan oleh penjaga tambak yang kebetulan tengah mengecek area tambaknya.
"Yang jaga ngiranya aku ketiduran, tapi setelah tahu saya pingsan, dia malam senyum-senyum, asem tenan"makinya.
Oleh sang penjaga tambak, dia kemudian di bawa ke gubug tempat dia berjaga, sementara sosok hantu pocongnya sudah menghilang.
"Saat berada di gubug jaga itulah, sang penjaga bertanya sampeyan di kancani poci yo mas. Di situ memang paling wingit,, kalau ada pemancing sendirian pasti di weruhi" tuturnya.
Mendengar perkataan penjaga tambak itu, dengan bercanda sempat memaki si penjaga karena tidak memberitahu soal itu.
"Sayaa maki dia, karena tidak memberitahu" kata Suripto.
Setelah beberapa menit di gubug jaga, Suripto memutuskan untuk pulang ke rumah, meski dia belum sempat mendapatkan satupun ekor ikan.
"Saya sebenarnya sudah sering di weruhi waktu mancing tapi cuma bayangan atau suara-suara yang gak kelihatan bentuk wujudnya,, tapi pengalaman mancing di tambak Ngebruk itu benar-benar membuat saya shock berat, karena lihat langsung dari jarak yang sangat dekat, cuma satu meteran" kenangnya.
Sejak saat itu Suripto mengaku kapok tidak berani mancing lagi, apalagi selama tiga setelah kejadian itu dirinya sempat demam tiga hari.
"Badan rasanya gak enak semua, waktu periksa di puskemas di periksa dokter bilangnya gak ada apa-apa,sehat-sehat saja" jelas pria yang juga hobi memelihara burung ini.
"Setelah kejadian itu saya gantung alat pancing saya, mending ngingoni manuk,denger suaranya sambil ngopi, ben gak di weruhi maneh (setelah kejadian itu, saya gantung alat pancing saya, mending melihara burung dan denger suaranya sambil ngopi, biar gak di lihati penampakan lagi)"pungkas Suripto mengakhiri perbincangan dengan RadarSemarang.ID (sls)
Editor : Baskoro Septiadi