Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Serem Lur! Warga Ungkap Misteri Buaya Putih Penjaga Jembatan Merah Kali Kuto Batang

Agus AP • Minggu, 21 Mei 2023 | 18:25 WIB
Tiang beton di sebagai penanda wilayah puncak Gunung Tidar. (ROFIK SYARIF GP/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Tiang beton di sebagai penanda wilayah puncak Gunung Tidar. (ROFIK SYARIF GP/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Batang - Jembatan Merah Kali Kuto Kabupaten Batang merupakan tempat berkumpulnya makhluk gaib. Konon tempat ini dijaga seekor buaya putih yang kerap meminta tumbal setiap tahun.

Cerita tentang keberadaan buaya putih di daerah tersebut bukan isapan jempol. Kisah keangkeran kali kuto sudah diyakini warga terutama di Desa Gringsing dan sekitarnya sejak puluhan tahun lalu. Saat ini, kawasan itu sudah disulap menjadi pondasi Jembatan Merah. Ikon jalan tol Batang-Semarang yang megah.

Siluman buaya putih konon mempunyai tabiat buruk dan selalu minta tumbal nyawa manusia setiap tahunnya. Bagi masyarakat Gringsing, keberadaan mahluk astral ini sudah dianggap biasa. Sehingga bisa hidup berdampingan dengan kearifan lokal. Sebagian orang percaya akan beruntung jika ditemui siluman itu. Meskipun demikian, masyarakat desa Gringsing maupun desa lain yang dilewati aliran Kali Kuto tidak pernah memberi sesaji.

Jumari, 70, warga desa Gringsing sering menjala pada malam hari di Kali Kuto. Ia mengaku pernah melihat sosok buaya putih di dam penahan air sebelah utara jembatan lama. "Buaya itu sangat besar dan menyeramkan. Kira-kira sepanjang tiga meter dan berwarna putih," akunya.

Hal yang sama dikatakan Badri. Waktu muda, ia adalah pencari pasir di Kali Kuto. Badri pernah melihat dengan mata kepala sendiri penampakan buaya putih siang hari sedang berjemur di batu. Baik Jumari maupun Badri merasa tidak terganggu. Justru mereka senang, karena setelah melihat penampakan hasil kerja hari itu berlipat-lipat dari biasanya.

Penasaran dengan cerita buaya putih, seorang konten kreator muda bernama Indra Akbar Nugraha mencoba membuktikan kebenarannya. Kamis malam Jumat (11/5) lalu, Indra bersama tim melakukan ritual pemanggilan buaya putih. Caranya lewat media kembang tujuh rupa, dupa dan lilin di bawah jembatan merah Kali Kuto.

Indra mengambil posisi tepat di sebelah pondasi jembatan dan mulai membakar dupa. Ketika ritual baru saja dimulai, salah satu penonton tiba-tiba kesurupan dan merangkak dengan cepat ke arah sawah. Kekuatannya melebihi tenaga manusia normal sehingga membuat tim kewalahan mengejar.

“Setelah berkomunikasi Indra mendapat penjelasan jika yang merasuki anggota tim adalah sosok buto yang merasa terusik dengan kehadirannya,” akunya.

Indra lantas melanjutkan ritual ke tepi sungai memburu siluman buaya putih tapi belum berhasil. Keesokan malamnya Indra kembali mengadakan eksplorasi dengan menambah sesaji seekor ayam hidup.

Suasana lebih mencekam dari malam sebelumnya dan kesurupan kembali terjadi. Setelah melalui ritual agak lama akhirnya rasa penasaran Indra terjawab.

“Diterangi cahaya senter dengan jarak sekitar 20 meter tampak buaya putih itu muncul perlahan dari dalam air diiringi tiupan angin kencang yang tiba-tiba menerpa. Penampakannya bisa dilihat oleh semua yang ikut hadir secara langsung,” ujarnya.

Dari penuturan dengan salah satu kru yang kesurupan, Indra memastikan siluman buaya putih itu adalah biang kerok dari korban-korban yang tenggelam di Kali Kuto. "Sekarang tambah ganas karena Kedung Duladi tempat siluman buaya putih itu berdiam dibuat pondasi jembatan," tambahnya.



Penjelasan Indra hampir sama dengan cerita masyarakat desa Gringsing dan desa Mentosari. Sebelumnya masyarakat meyakini Kali Kuto tidak akan mengambil korban dari daerah yang dilewati alirannya. Itu terbukti dari puluhan korban tenggelam semua berasal dari luar daerah.

Tapi sejak Kedung Duladi ditimbun menjadi pondasi, korban dari masyarakat lokal mulai berjatuhan. Ada penambang pasir dari desa Mentosari tiba-tiba tenggelam dan ditemukan meninggal. Kemudian remaja dari desa Sambongsari juga tewas tenggelam. Yang lebih tidak masuk akal adalah tenggelamnya seorang anak laki-laki dari Desa Gringsing.

Jasadnya ditemukan berada di titik lokasi tenggelam padahal tim SAR sudah berulang-ulang menyisir tempat itu. Saat ditemukan keesokan harinya jasad anak malang tersebut masih hangat dan sendi-sendinya masih lemas seolah baru meninggal beberapa menit, padahal hampir 24 jam terendam air.

Ketua MUI Kecamatan Gringsing KH Abu Amar menanggapi legenda itu dengan bijak. Menurutnya cerita turun temurun dari leluhur itu mempunyai pesan moral yang berkaitan dengan perilaku dalam menjaga kelestarian alam.

Jika ikan di Kali Kuto diambil dengan racun atau peledak akan menghancurkan habitat. Material yang dikeruk tanpa perhitungan juga membahayakan lingkungan.

“Leluhur kemudian membuat cerita seram yang tujuannya untuk tidak merusak ekosistem. Boleh memanfaatkan kekayaan Kali Kuto tapi sekedarnya saja," jelasnya. (yan/fth) Editor : Agus AP
#top #Jembatan Kali Kuto #Merinding #Jembatan Merah Kali Kuto #Horor #urban mystery