Misteri Kali Blorong bukanlah isapan jempol. Salah satu pedagang di pinggir Kali Blorong wilayah Ketapang Kendal Sarji, 62, mengaku, pernah melihat sosok jelmaan Nyi Blorong. Sosok itu naik sebuah kereta kencana seperti pedati. Setelah itu terdengar suara lonceng atau kerincingan. Tahun 2000-an, masih banyak banyak warga sebelah timur membuang sampah ke sungai. Saat tertentu, saat sosok itu akan lewat aliran sungai dan warga yang membuang sampah itu ketemper (kesurupan). "Bisanya ada hari atau waktu tertentu sosok itu lewat," akunya.
Selain sosok seperti Nyi Blorong, ada juga buaya putih dan ore-ore (makhluk setengah ular dan memiliki rambut). Biasanya, ketika buaya putih dan ore-ora muncul akan ada korban jiwa. Kedua sosok itu terakhir muncul sekitar tahun 2010. Waktu itu, ada dua gadis sedang bermain di pinggir sungai. Di sana ada pohon tebu. Mereka mengambil pohon tebu untuk dimakan. Sesaat kemudian, buaya putih muncul. "Kedua gadis itu lari di pinggiran kali kemudian terpeleset jatuh ke dalam sungai. Saat ditemukan warga, kondisi keduanya sudah tak bernyawa," ujarnya.
Meski menyimpan misteri, sekarang kondisi Kali Blorong sangat terawat. Bahkan sudah ramai dikunjungi. Setiap weekend banyak muda-mudi nongkrong dan bercengkrama di pinggir kali sambil mendengarkan live musik. Kali Blorong kini dikelola oleh Pusat Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah.
Kali Blorong juga cukup digemari anak-anak. Biasanya mereka memancing atau mandi di sungai. Tak jarang, banyak anak-anak menjadi korban keganasan Kali Blorong. Ada yang terseret aliran, tenggelam, dan tak selamat. "Dulu warga ngadain selametan di pinggir kali dan jalan raya. Supaya tidak ada musibah atau marabahaya yang menimpa warga lagi. Tapi sekarang sudah jarang," tambahnya.
Di ujung utara Kali Blorong terdapat jembatan penyeberangan. Biasanya digunakan warga Ketapang untuk menuju Brangsong. Begitu pula sebaliknya. Warga yang akan melewati jembatan itu harus hati-hati dan mendengarkan perkataan orang di sekitaran jembatan. Waktu itu, pernah ada warga ngeyel menyeberang. Padahal sudah diperingatkan supaya tidak menyeberang karena penghuni Kali Blorong akan lewat. "Karena ngeyel mungkin kalau terlihat, dia tertabrak kencananya Nyi Blorong. Tapi kan wallahu a'lam. Wong dia langsung meninggal di atas jembatan," tambahnya.
Khundori, 65, salah satu pekerja Linggan (tempat membuat bata) mengaku pernah melihat sosok menyerupai Nyi Blorong. Suatu sore saat berkemas untuk pulang ia mendengar gemerincing seperti suara lonceng. Kemudian disusul air sungai seperti berkelebat terkena angin. Ia menatap tajam Kali Blorong. Dengan mata telanjang, dia melihat sosok penghuni kali. "Saya antara percaya dan tidak percaya. Jalannya cepat sekali. Wuss gitu," akunya.
Ia berpesan warga atau pengunjung di sekitaran Kali Blorong berhati-hati. Harus menjaga tata krama dan etika. Itu karena, yang hidup di dunia tidak hanya manusia, tetapi ada makhluk lain. "Paling tidak kalau lewat jembatan atau di sekitaran Kali Blorong harus kulonuwun. Harus saling menghormati sesama makhluk yang tidak terlihat mata," tambahnya. (dev/fth)
Editor : Agus AP