Oleh Rista Murtias Wicaksono, S.Pd.
Menjadi guru penggerak sangat diimpikan oleh sebagian besar guru, termasuk penulis. Kecintaan terhadap dunia pendidikan dan anak-anak, mendorong penulis untuk tidak berdiam diri. Karena negeri yang kita cintai ini membutuhkan aksi nyata.
Ada keinginan kuat untuk terus belajar menggali potensi diri demi sebuah perubahan, menjadi pemimpin pembelajaran, yang menerapkan merdeka belajar.
Di era ini, banyak hal yang mengganjal dalam hati di antaranya kemunduran moral dan akhlak.
Tak jarang mendapatkan keluhan orang tua siswa, anak-anak mereka menghabiskan waktu hanya untuk bermain gawai, belajar dan salat pun ditinggalkan.
Rasa hormat kepada orang tua berkurang, terkadang berani berucap kasar.
Sering juga menerima keluhan dari teman sejawat banyak siswa yang sulit diatur dan cenderung sulit untuk diajak berkomunikasi.
Dengan menjadi guru penggerak, impian penulis dapat mewujudkan pendidikan yang berorientasi pada peserta didik, meningkatkan kompetensi diri, dan mampu memberikan perubahan dalam dinamika pembelajaran.
Sehingga ke depan mampu mencetak peserta didik yang unggul, baik dalam prestasi akademik dan memiliki karakter kuat.
Untuk mewujudkan hal tersebut, yang pertama kali penulis lakukan adalah meluruskan niat dengan semata-mata sebagai pengabdian dan mengharapkan ridha dari Allah.
Selanjutnya, berkolaborasi, saling mengisi, membangun komunikasi harmonis, baik dengan teman sejawat, orang tua, dan masyarakat.
Meningkatkan kompetensi sebagai pendidik juga sangat penting. Di antara kompetensi yang harus dimiliki oleh guru adalah kemampuan berorganisasi, mampu berkolaborasi, menyukai dunia anak-anak, disiplin, selalu bertanggung jawab dengan apa yang diemban.
Menjunjung tinggi etika, menyukai tantangan, senang belajar, memiliki rasa keingintahuan tinggi terutama terkait kemajuan dunia pendidikan, dan semangat pantang menyerah juga merupakan beberapa hal yang harus tumbuh dalam diri seorang guru.
Berbagai inovasi pembelajaran pun terus dilakukan.
Di antara inovasi yang memberikan dampak nyata berdasarkan inisiatif penulis sendiri adalah Program Pembiasan Karakter dan Kegiatan Anak Saleh-Salehah.
Faktor yang melatar belakangi program tersebut di antaranya adalah besarnya pengaruh negatif lingkungan, ekonomi, maupun pola asuh yang menyebabkan sebagian anak masih sangat kurang kesadarannya dari segi kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Misalnya datang ke sekolah terlambat.
Memberikan teladan mempunyai peranan sangat penting dalam membentuk kepribadian siswa.
Jika menginginkan anak-anak tidak terlambat masuk kelas, maka kita harus datang lebih awal sehingga dapat menyambut mereka.
Penulis selalu berusaha melayani dengan penuh kesabaran, membuat mereka senyaman mungkin, mendidik dan mengajar mereka dengan hati bukan hanya di sekolah tapi juga saat di rumah.
Di jam salat tiba, penulis menyempatkan untuk mengingatkan mereka.
Di waktu malam hari, kembali mengingatkan anak-anak untuk menyiapkan kelengkapan sekolah yang akan dibawa ke sekolah esok hari, dan meminta bantuan para bunda untuk mengecek apa yang telah anak-anak persiapkan.
Menjadikan siswa agar sesuai dengan apa yang kita harapkan tentunya harus konsisten dan komitmen.
Tentu saja, tidak semua harapan dapat terwujud, namun dengan program dan usaha nyata.
Tak kenal lelah, mengingatkan, dan memberikan pemahaman maka, kesadaran pasti akan muncul.
Dengan apapun yang telah penulis lakukan, semoga mendapatkan keberkahan dan semata mengharapkan ridha dari Allah.
Semoga, dengan motivasi yang kuat, serta keinginan untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, berkolaborasi dengan guru-guru hebat, akan dapat memberikan kontribusi dan kebermanfaatan untuk Indonesia. (unt/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo