Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Rangsang Keterampilan Menceritakan Sejarah Islam di Indonesia melalui Puzzle

Tasropi • Senin, 12 Februari 2024 | 18:06 WIB
Himmatul Aliyah, S.Ag., M.Pd.I
Himmatul Aliyah, S.Ag., M.Pd.I

RADARSEMARANG.ID, Realitas objektif menunjukkan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) acapkali dianggap sebagai mata pelajaran yang menjenuhkan.

Pasalnya, siswa hanya diminta untuk menghafal nama, tempat, dan tahun kejadian.

Faktor penyebab kejenuhan belajar SKI yang dialami siswa antara lain metode ceramah yang membosankan.

Baca Juga: Cerita Misteri Bekas Hotel Sky Garden Semarang, Jadi Saksi Bisu Kasus Pembunuhan hingga Mitos Sarang Wewe Gombel

Dalam menghadirkan cerita, guru kurang ekspresif sehingga siswa merasa bosan dan mengantuk karena mendengarkan cerita sejarah yang datar-datar saja dan kurang menarik minat.

Akibatnya, sikap siswa saat belajar SKI adalah tiduran, bercerita sendiri, tidak memperhatikan, usil dan mengganggu teman. Hal inilah yang membuat guru SKI harus berpikir kreatif agar pembelajaran menyenangkan, tercipta suasana kelas yang interaktif dan dapat melibatkan partisipasi siswa.

Mengemas isi pembelajaran, meramu strategi yang tepat dan efektif merupakan sebuah keniscayaan untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran.

Pengembangan rencana pembelajaran dengan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran telah memberikan ruang kepada guru untuk berkreasi dan berinovasi.

Salah satunya dengan menggunakan puzzle (media susun gambar). Puzzle (media susun gambar) pada hakikatnya merupakan alat permainan edukatif yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran.

Siswa dapat bereksplorasi menurut kemampuan dan minatnya. Puzzle (media susun gambar) dapat dimainkan oleh lebih dari satu orang, dan jika dimainkan secara berkelompok maka dapat meningkatkan interaksi sosial siswa.

Puzzle (media susun gambar) yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran ini dimaksudkan untuk merangsang keterampilan siswa dalam menceritakan sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Media ini dibuat dari kertas gambar/ilustrasi yang terkait dengan sejarah atau proses masuknya Islam di Indonesia.

Kertas gambar yang telah dibuat tersebut, kemudian dilaminating dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian tertentu.

Penggunaannya dalam kegiatan pembelajaran ini adalah melalui kegiatan diskusi kelompok. Setiap kelompok diskusi akan mendapatkan satu puzzle (media susun gambar).

Tugas siswa adalah menyusun potongan-potongan gambar tersebut menjadi sebuah gambar bermakna yang mampu menghadirkan kisah sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Media susun gambar dapat menjadi media pembelajaran yang efektif karena memiliki manfaat yang besar bagi siswa, sebab dapat memacu kemampuan berpikir dalam menyatukan kembali posisi gambar pada tempat yang sesuai.

Untuk merangsang keterampilan menceritakan sejarah Nabi, guru terlebih dahulu mengorganisasi siswa dalam kelompok belajar dengan komposisi setiap kelompok terdiri atas 4 (empat) siswa berdasarkan heterogenitas kemampuan.

Selanjutnya, guru membagikan puzzle (media susun gambar), dan meminta siswa untuk menyusun menjadi sebuah gambar bermakna dan mendiskusikan kisah dari gambar yang telah disusun.

Setelah siswa mampu menyusun potongan gambar tersebut, guru menampilkan media susun gambar melalui tayangan slide.

Pada akhir kegiatan pembelajaran, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya dengan cara satu per satu anggota kelompok mengisahkan/menceritakan gambar tersebut secara bergantian.

Dengan menggunakan puzzle siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir, meningkatkan kemampuan belajar.

Juga merangsang perkembangan sosial, intelegensi, melatih konsentrasi, ketenangan, kesabaran, dan minat.

Disamping itu, guru tidak perlu lelah berceramah, dan hanya berfungsi sebagai fasilitator dan motivator dengan mendampingi siswa ketika mengalami kesulitan belajar.

Perubahan iklim pembelajaran juga terlihat, yaitu keaktifan siswa dalam belajar, tidak ada off task (siswa santai dan duduk-duduk) dan gangguan kelas.

Juga perasaan siswa menjadi senang saat pembelajaran. Yang terpenting penggunaan media susun gambar mampu menumbuhkan keberanian siswa dalam menceritakan sejarah masuknya Islam di Indonesia. (nop/lis)

 

Oleh : Himmatul Aliyah, S.Ag., M.Pd.I

Guru SKI MTs Negeri 3 Demak

Editor : Tasropi
#Kemampuan Belajar #Sejarah Kebudayaan Islam #Mts Negeri 3 Demak #sejarah masuknya Islam di Indonesia #Metode Ceramah #Himmatul Aliyah #Media Pembelajaran