RADARSEMARANG.ID, Keterampilan menulis (writing skill) merupakan alah satu aspek penting dan menjadi dasar bagi siswa untuk berbagai macam pelajaran.
Tarigan (2013: 3) mengungkapkan menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tidak secara tatap muka dengan orang lain.
Sedangkan Cahyani (2006:98) menyebutkan menulis merupakan kemampuan seseorang untuk menggunakan lambang-lambang bahasa untuk menyampaikan sesuatu baik berupa ide maupun gagasan kepada orang lain atau pembaca dengan memakai bahasa tulisan.
Baca Juga: Model Copy The Master untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Cerpen
Jika seseorang memiliki keterampilan menulis maka ia dapat berkomunikasi dengan jelas melalui teks atau tulisan.
Keterampilan ini bukan lah suatu yang dibawa sejak lahir atau bakat bayi. Menulis merupakan suatu kegiatan yang didapat dari pembiasaan dan pengupayaan.
Memiliki kemampuan menulis menjadi hal yang penting di dunia profesional. Pembelajaran menulis di sekolah juga sangat ditekankan.
SMAN 1 Salaman juga memfasilitasi para siswa untuk menumpahkan gagasannya dalam bentuk tulisan baik di majalah dinding maupun di majalah sekolah yang bernama Prisma.
Bahkan di era digital saat ini, sekolah juga menggunakan media sosial berupa Instagram maupun Facebook.
Majalah Prisma memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menulis gagasannya ke dalam bahasa Inggris pada rubrik English Corner.
Majalah yang berdiri sejak tahun 1993ini benar-benar telah dan akan terus memberi kesempatan kepada para siswa untuk menuangkan gagasannya melalui tulisan.
Majalah ini terbit setahun dua kali. Hingga tahun 2023 sudah ada 54 edisi. Pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19 sedang meningkat, majalah sekolah ini tidak terbit sama sekali karena pembelajaran tatap muka ditiadakan.
Dari pemantauan penulis, edisi ke 51 pada terbit pada bulan Mei 2019 sedangkan edisi ke 52 terbit Desember 2021.
Mereka banyak menulis tentang teks yang berupa bacaan terkait dengan materi pelajaran yang berbasis genre, misalnya teks prosedur, deskriptif, recount, eksposisi maupun teks report.
Beberapa edisi yang sempat penulis catat antara lain edisi 31 yang terbit bulan April 2008, seorang siswa secara anonim menulis teks bergenre recount biografi dengan judul “Albert Einstein”.
Kemudian pada edisi berikutnya yaitu pada September 2008 yang merupakan edisi ke-32, siswi yang bernama Arin kelas XI IPA menulis teks tanpa judul yang bertema kemerdekaan Indonesia (Independence day) yang bergenre hortatory exposition.
Teks bergenre report natural phenomenon berjudul “Distance Planet is second Smallest super Earth” oleh anonim ada di edisi ke-35 yang tebit bulan Mei 2010.
Selanjutnya edisi ke-36 (bulan Maret 2011) teks bergenre deskriptif siswa Fathul Muin menulis “India Temple Art “ yang mengadaptasi dari National Geographic.
Kemudian tulisan yang bergenre prosedur dapat ditemukan pada edisi 40 (bulan Desember 2013) dengan judul “Let’s be Creative! Oleh siswi Devia. Edisi 41 (Mei 2014) yang berjudul “Optimise Your Brain!” oleh siswi Nisrina.
Bukan tanpa alasan bahwa siapapun yang memiliki keterampilan menulis maka pesan yang disampaikan bisa lebih efektif dan efisien serta mengurangi miskomunikasi.
Saat ini masih banyak lowongan pekerjaan yang menjadikan keterampilan ini sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi unutuk posisi tertentu.
Oleh karena itu peran majalah sekolah dalam memfasilitasi siswa untuk menulis menjadi hal yang signifikan.
Para guru perlu memberi motivasi serta sugesti kepada siswanya bahwa menulis itu menggembirakan, sehingga partisipasi aktif siswa meningkat.
Dengan memberikan gambaran bahwa ada banyak posisi di dunia pekerjaan yang kelak dapat diambil oleh para siswa seperti content writer, copy writer, maka para siswa akan muncul optimisme pada masa depan. (uj2/lis)
Oleh: Anton Suhartaji, S.Pd,Guru Bahasa Inggris SMAN 1 Salaman, Kabupaten Magelang
Editor : Tasropi