Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan mencari tahu alam sekitar secara sistematis. IPA bukan hanya penguasaan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecah masalah-masalah yang ditemui setiap harinya.
Tujuan pembelajaran IPA yaitu memperoleh keyakinan, mengembangkan keterampilan, meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan. Dalam hal ini, siswa dituntut terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran IPA. Jika siswa kurang aktif dan guru tidak memberikan pembelajaran yang menarik menyebabkan hasil belajar yang rendah.
Hal ini terjadi di SD Negeri Salatiga 06, di mana terlihat siswa kelas 5A kurang aktif saat proses pembelajaran. Mereka lebih banyak diam mendengarkan dan jarang menjawab. Siswa kurang memperhatikan guru saat penjelasan dan kurang tertarik untuk bertanya, dan hasil belajar siswa yang belum memuaskan.
Terdapat beberapa faktor penyebab antara lain kondisi aktivitas siswa yang pasif, bentuk pembelajaran lebih banyak menggunakan metode ceramah, sehingga siswa kurang menyukainya. Maka guru harus melaksanakan pembelajaran menggunakan media semenarik mungkin untuk merangsang siswa lebih bersemangat dan senang mempelajari materi IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Isjoni, dalam Cooperative Learning (Bandung: Alfabeta,2010) menuliskan Talking Stick termasuk salah satu metode pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam mencapai tujuan. Talking Stick (tongkat berbicara) adalah metode pembelajaran dengan mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu kelas. Talking stick memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pembelajaran kooperatif, yaitu: Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya, kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Langkah yang dilakukan dalam metode Talking Stick ini adalah memberikan pertanyaan kepada siswa yang mendapatkan tongkat dari orang sebelumnya. Persiapan dapat dilakukan dengan guru memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran atau siswa mempelajari materi secara mandiri. Bisa juga dengan berkelompok. Guru wajib memfasilitasi siswa dengan media dan sumber belajar yang menarik. Guru disarankan memberikan penjelasan aturan secara rinci mengenai metode Talking Stick. Tongkat dapat dimulai dari guru atau menunjuk salah satu siswa untuk memulai kegiatan tanya jawab menggunakan tongkat secara estafet. Akhir pembelajaran membuat kesimpulan bersama-sama dengan siswa dan memberi penguatan terhadap materi yang telah disampaikan.
Pelaksanaan kegiatan belajar dengan Talking Stick, dengan dasar kemampuan siswa dalam berbicara, maka terdapat hal yang harus diperhatikan. Guru harus bertindak tegas kepada siswa yang sering mengganggu temannya ketika proses berbicara. Sehingga membuat kelas menjadi kurang kondusif. Pengelolaan waktu dengan baik, terutama saat siswa membuat pertanyaan dan kegiatan menjawab oleh pemegang tongkat karena waktu yang tersedia cukup sedikit. Masih ada siswa yang tidak berani ketika menjawab pertanyaan, malu karena takut salah ketika menjawab. Guru harus lebih terampil dalam memotivasi siswa, merangsang siswa agar berani untuk bertanya, menjawab pertanyaan maupun mengungkapkan pendapat baik itu menggunakan reward berupa hadiah atau pujian. Sehingga siswa akan lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Jika hal tersebut tidak diatasi, maka akan menjadi faktor penghambat untuk pembelajaran.
Talking Stick adalah sebuah metode pendidikan yang dilaksanakan dengan cara pemberi kebebasan pada peserta didik untuk dapat bergerak dan bertindak. Keuntungan- keuntungan dalan menggunakan Talking Stick dengan baik adalah meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan, memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa. Memberikan berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktikkan, dan meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik, serta meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, dan agama.
Peningkatan hasil pembelajaran dilakukan dengan memotivasi siswa untuk lebih giat lagi membaca. Mengarahkan siswa untuk lebih selalu memperhatikan penjelasan guru. Memberikan umpan balik dan menimbulkan rasa percaya diri kepada siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. Hal ini sesuai dengan langkah-langkah yang ada pada metode Talking Stick, yaitu dengan menggilirkan tongkat siswa yang memegang tongkat diberikan pertanyaan.
Penerapkan metode Talking Stick telah peningkatan hasil belajar siswa dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi dan dapat menggunakannya pada kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran menggunakan Talking Stick yaitu siswa mampu berkomunikasi lebih baik dengan lingkungan sekitar. (on/aro)
Guru Kelas VA SD N Salatiga 06, Kota Salatiga
Editor : H. Arif Riyanto