RADARSEMARANG.ID, Disiplin adalah kepatuhan untuk melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan seseorang untuk tunduk kepada keputusan, perintah, dan peraturan yang berlaku di suatu tempat (Naim, 2012:142).
Pembiasaan dengan cara penerapan disiplin di sekolah akan berpengaruh positif bagi kehidupan peserta didik di masa yang akan datang.
Anak usia dini memiliki rentang usia 0-6 tahun yang sangat berharga dibanding dengan usia-usia selanjutnya karena pada fase ini terjadi perkembangan kecerdasan yang luar biasa (Yuliani Sujiono, 2014).
Pada usia tersebut merupakan tahapan fase kehidupan yang unik, dan anak berada pada proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan, dan penyempurnaannya baik pada aspek jasmani maupun rohaninya.
Pada anak usia dini, membentuk karakter khususnya karakter disiplin jauh lebih mudah. Maka, anak usia dini perlu ditumbuhkan pemahaman yang bersifat positif dan pembiasaan bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Tujuan pembiasaan kedisiplinan pada anak usia dini di antaranya, membentuk perilaku sedemikian rupa sehingga anak akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya atau individu itu.
Membuat anak terlatih dan terkontrol perilakunya dengan memberikan pembelajaran pada anak tingkah laku yang dianggap pantas maupun tidak pantas.
Disiplin pada anak usai dini dapat dikembangkan oleh guru melalui berbagai metode pembelajaran.
Salah satunya adalah metode bermain peran. Metode ini disenangi anak dan lebih efektif karena dengan bermain peran banyak karakter yang akan muncul.
Oleh anak-anak karakter tersebut akan dikembangkan dalam memerankan karakter tokoh yang ada dalam cerita tersebut dan banyak tata tertib atau aturan yang harus anak-anak taati.
Bermain peran memungkinkan bagi guru disekolah untuk menganalisis konflik-konflik anak dan cara-cara mereka mengatasinya.
Dunia anak adalah dunia bermain. Permainan merupakan prasyarat untuk keahlian anak selanjutnya, suatu praktik untuk menjadi bekal di kemudian hari.
Permainan sangat penting untuk perkembangan kemampuan kecerdasan anak. Dalam permainan, anak-anak dapat bereksperimen tanpa gangguan, sehingga anak akan mampu membangun kemampuan yang kompleks.
Menurut Suryabrata (2004), yang dapat mempengaruhi sifat kedisiplinan anak usia dini adalah minat, bakat, motivasi, konsentrasi dan kemampuan kognitif.
Untuk membetuk kedisiplinan perlu pendidik dan orang tua bekerja sama mendukung motede bermain yang diterapkan sehingga dapat diterapkan langsung oleh anak-anak.
Anak usia dini perlu mengembangkan keterampilan motorik sosialnya yang berfungsi untuk berpartisipasi aktif sebagai anggota sosial baik di sekolah maupun dalam masyarakat.
Keterampilan sosial yang dapat diajarkan kepada anak usia dini di antaranya mengerjakan tugas menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah yang bersih merupakan salah satu sumber belajar bagi anak usai dini.
Lingkungan yang bersih bisa memberikan pengaruh yang positif terhadap pembelajaran bagi anak. Sehingga anak usai dini akan tertarik dan terpacu untuk mau belajar. Seperti halnya di TK PGRI Pabelan III.
Dengan belajar bermain peran menjaga kebersihan lingkungan sekolah, diharapkan anak usia dini terbiasa menjaga kebersihan di manapun berada.
Tidak terbatas pada jam sekolah tetapi diharapkan anak mampu mengimplementasikannya di rumah maupun di lingkungan masyarakatnya.
Dapat disimpulkan, kedisiplinan anak usia dini pada dasarnya adalah sikap taat anak dan patuh terhadap aturan yang berlaku, baik aturan yang berlaku di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
Sehingga dapat dikatakan disiplin adalah proses bimbingan yang bertujuan menanamkan pola perilaku tertentu, kebiasaan-kebiasaan tertentu atau membentuk anak dengan ciri-ciri tertentu, yang meningkatkan kualitas mental dan moral. (fu/lis)
Oleh: Tri Heny Pancawati, S.Pd AUD
Guru TK PGRI Pabelan III, Mungkid, Kabupaten Magelang
Editor : Tasropi