RADARSEMARANG.ID, Beberapa tahun lalu masyarakat kurang peka terhadap berbagai peristiwa di sekitarnya. Sehingga cenderung kurang peduli.
Salah satu penyebabnya karena minimnya pengetahuan tentang lokasi geografis atau informasi spasial.
Spasial dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang atau tempat.
Dalam geografi ada istilah data spasial yang dikenal sebagai data geospasial atau informasi letak geografis.
Yakni data atau informasi yang mengidentifikasi lokasi geografis kenampakan dan batas di Bumi. Seperti kenampakan alami atau buatan, perairan atau laut, dan banyak lagi.
Dalam pelajaran Geografi, materi Geografi spasial ada dalam materi kelas X (sepuluh) dalam pokok bahasan Peta dan subpokok bahasan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi.
Dimana penginderaan jauh merupakan ilmu dan teknik serta seni mendapatkan informasi tentang wilayah atau gejala di permukaan bumi dengan cara menganalisis data yang diperoleh dari suatu alat tanpa berhubungan langsung dengan objek yang dikaji.
Sebelum pandemi masyarakat belum banyak mengenal pengetahuan geospasial. Data geospasial adalah data terkait lokasi geografis atau informasi spasial.
Ini mencakup koordinat geografis, batas wilayah, peta, citra satelit, dan informasi lainnya yang berhubungan dengan lokasi.
Tapi pada masa pandemi masyarakat mulai mengenal data geospasial, karena masyarakat banyak yang beraktifitas dari rumah (WFH).
Sehingga informasi yang berhubungan dengan lokasi suatu tempat akan bisa diketahui dari rumah dengan perangkat komputer atau gadget.
Selama pandemi, data geospasial menjadi sangat penting karena dapat membantu pemetaan penyebaran virus, pemantauan zona risiko, dan pengambilan keputusan yang berbasis lokasi
Dengan menggunakan data geospasial, pemerintah dan lembaga kesehatan dapat memetakan wilayah yang terdampak pandemi, melacak pergerakan orang dan klaster infeksi, serta memahami pola mobilitas manusia yang dapat membantu dalam merencanakan langkah-langkah pengendalian.
Selain itu, data geospasial memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang lingkungan sekitar.
Dalam beberapa kasus, data geospasial juga dapat digunakan dalam pelacakan kontak dan pemantauan ketaatan protokol kesehatan.
Teknologi informasi geospasial merupakan salah satu model kebijakan yang diterapkan.
Penggunaan teknologi geospasial cukup efektif. Jika data yang diperoleh merupakan data yang akurat.
Untuk mendapat data yang akurat dibutuhkan kerja sama yang baik antara instansi kesehatan yang menangani virus ini dan pemerintah setempat.
Hal ini bertujuan agar data yang diolah dapat dijadikan sebuah informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Bagi layanan kesehatan publik akan terbantu karena pengambil keputusan akan mengetahui layanan publik kesehatan mana yang membutuhkan fasilitas dalam penanganan virus ini.
Bagi pemerintah akan dipermudah proses pengambilan keputusan tepat. Jika tiap daerah melakukan model ini maka akan diketahui daerah mana menjadi zona merah (sangat perlu penanganan), kuning (perlu perhatian) dan hijau (kondisi daerah yang aman).
Penerapan new normal juga sangat terbantu dengan adanya GIS ini.
Tujuan utama pemodelan geospasial salah satunya yaitu agar dapat menyusun dan mengembangkan data menjadi sebuah bentuk informasi terkait suatu isu dalam hal ini adalah mengenai wabah virus corona yang mudah dipahami oleh masyarakat umum sebagai salah satu bentuk mitigasi penanganan Coronavirus Disease 2019.
Jadi, penggunaan data geospasial dapat memberikan wawasan berharga dalam upaya penanganan dan pemahaman pandemi.
Selain itu membantu mengambil keputusan yang lebih cerdas dalam menghadapi situasi yang terus berubah. (fu/fth)
Oleh: Nining Setyowati, S.Pd., Guru SMA Negeri 2 Magelang
Editor : Agus AP