Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kecerdasan Artifisial (ChatGPT) yang Menantang Bukan Berarti Disruptif

Agus AP • Kamis, 8 Juni 2023 | 06:56 WIB
Umu Faizah, S.Pd
Umu Faizah, S.Pd
RADARSEMARANG.ID, ChatGPT atau Generative Pre-training Transformer kali pertama dirilis pada 2015 oleh OpenAI. Perusahan non-profit ini didirikan oleh Elon Musk dan sekelompok tokoh terkenal di Silicon Valley seperti Sam Altman dan Reid Hoffman.

Setelah booming pada akhir 2022, ChatGPT digunakan oleh banyak orang untuk membantu pekerjaan mereka. Mesin AI berbentuk chatbot ini bisa menjawab banyak sekali pertanyaan, bahkan pertanyaan yang berwujud meminta karya, seperti pembuatan puisi atau cerita.

Setelah melalui eksplanasi tentang teknologi terbaru yang satu ini, tentunya sebagai tenaga pendidik, para guru mulai berpikir mengenai betapa mudahnya sekarang untuk mencari jawaban dari sesuatu.

Belum lama ini, sudah mulai marak digunakan Turnitin, sebuah website untuk memprediksi plagiarisme. Aplikasi tersebut juga menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (selanjutnya disebut AI atau artificial intelligence).

Orang-orang bisa menggunakannya untuk apapun. Biasanya menjawab hal-hal dari yang sepele sampai yang krusial. Misalnya, siapa tokoh Luhut Binsar Panjaitan? Buatlah visi misi tentang perusahaan bisnis minyak, dan masih banyak lagi. Kecerdasan artifisial ini justru menjadi tantangan bukan berarti disruptif.

Persoalannya sekarang adalah siswa juga kerap menggunakannya untuk mengerjakan tugas. Sebenarnya penggunaan AI dalam dunia pendidikan sudah dimulai sejak lama. Google adalah mesin search-engine dengan kapasitas yang sangat besar dan digunakan oleh masyarakat seluruh dunia.

Anak sekolah menggunakan aplikasi untuk menjawab pertanyaan sekolah mereka. Misalnya, aplikasi Mathway yang bisa mengerjakan soal matematika. Penggunaan AI sebagai “pembantu” ini kerap disalahgunakan pula oleh anak-anak yang maunya mencontek saja. Apakah hal tersebut patut diwaspadai?

Penggunaan ChatGPT oleh siswa untuk mengerjakan tugasnya tentunya sangat ilegal dan tidak seharusnya dilakukan. Namun ChatGPT bisa diakses oleh siapa pun, bahkan dengan pertanyaan apapun. Tenaga pendidik bisa saja tidak menyadari bahwa tugas yang dikerjakan siswanya merupakan tugas dari sebuah mesin AI.

Kalaupun Anda menggunakan website untuk mendeteksi plagiarisme, cara kerja ChatGPT jelas berbeda. ChatGPT bisa menjadi sangat canggih, karena terus ditanamkan pola-pola tertentu dan dilatih jutaan kali agar “paham” seperti otak manusia.

Namun, jika Anda ingin mendeteksi plagiarisme tugas dari siswa, website pendeteksi tersebut hanya akan bekerja jika kalimat-kalimat dalam tugas siswa Anda persis seperti sumber-sumber dari internet.

Nah, jika kalimat-kalimat tersebut merupakan pola ubahan dari sebuah mesin AI? Anda bisa saja tidak menyadarinya, bahkan tidak tahu cara membedakannya.

Sebagai tenaga pendidik, tentunya kita harus menghadapi perkembangan zaman ini dengan berhati-hati dan tidak menyerah. Kita bisa melihat secara langsung dewasa ini siswa bisa belajar sendiri menggunakan teknologi seperti YouTube, aplikasi buatan perusahaan swasta seperti RuangGuru atau Zenius, dan masih banyak lagi.

Dengan bukti-bukti ini, ke depannya jika tenaga pendidik tidak melakukan transformasi untuk terus berkembang dan diam saja, maka habis pekerjaan tersebut dan sudah tidak diperlukan lagi.

Namun hal itu tentunya masih sangat jauh dari perkiraan, bahkan mungkin bisa saja tidak terlaksana. Tenaga kerja dokter, sekarang ini bisa menggunakan tenaga robotik. Namun dengan begitu, apakah dokter sudah tidak diperlukan sama sekali? Masih diperlukan, tetapi sudah mulai dikurangi kapasitasnya.

Karena itu, sebagai tenaga pendidik, termasuk penulis sebagai guru SMK Negeri 2 Bawang, Kabupaten Banjarnegara, kita dituntut untuk terus belajar lebih lanjut. Guru perlu memahami karakteristik siswa, membantu mereka untuk tidak kecanduan gawai yang mengakibatkan mereka diperbudak teknologi.

Guru harus menegaskan kepada siswa bahwa mesin search-engine, internet, dan juga robot adalah ciptaan manusia yang sudah seharusnya membantu kita, bukan menggantikan peran kita.

Dengan langkah-langkah yang pelan, tetapi terstruktur dan beretika, maka guru bisa bekerja dengan selayaknya pengajar sudah seharusnya bekerja. Tidak boleh sebagai tenaga pendidik justru menjadi opsi kedua untuk siswa bertanya, karena mereka lebih memilih bertanya pada smartphone. (*/aro)


Guru SMK Negeri 2 Bawang, Kabupaten Banjarnegara Editor : Agus AP
#ChatGPT #Kecerdasan Artifisial #SMK Negeri 2 Bawang #Guru SMK Negeri 2 Bawang #Disruptif #Umu Faizah