Hampir semua masalah dalam kehidupan berhubungan dengan PLSV dan PtLSV. Namun pada kenyataannya seringkali siswa merasa kesulitan dalam mempelajari materi tersebut. Hal ini disebabkan materi PLSV dan PtLSV berkaitan dengan simbol-simbol matematika, notasi-notasi serta penggunaannya.
Kesulitan tersebut menyebabkan siswa tidak bergairah dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Sejalan dengan kondisi pembelajaran yang berlangsung, guru masih menggunakan metode konvensional dengan ceramah, siswa belum terlibat langsung dalam proses pembelajaran, pengalaman belajar siswa minim.
Sebagai bukti hasil belajar untuk materi konsep PLSV dan PtLSV siswa kelas VII di SMPN 1 Salaman rata-ratanya masih rendah, masih banyak siswa yang belum tuntas.
Menurut Nana Sudjana (1995) bahwa hasil belajar matematika adalah kemampuan–kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia memperoleh pengalaman belajarnya.
Berdasarkan uraian tersebut, guru berusaha mencari solusi terbaik dengan merancang pembelajaran aktif dan menyenangkan serta melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran, menggunakan model think pair and share berbantuan karek.
Model think pair and share menurut Getter dan Rowe (2008), merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, yang melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Karek adalah singkatan dari kartu ekuivalen. Arti ekuivalen adalah suatu pernyataan yang bernilai sama dengan soal/masalah PLSV dan PtLSV.
Proses pembuatan karek dengan cara menuliskan tahapan-tahapan penyelesaian soal/masalah PLSV dan PtLSV. Kemudian guru menulis setiap tahapan-tahapan tersebut pada kartu. Lembar soal merupakan soal-soal yang telah diselesaikan. Karek berfungsi sebagai media untuk belajar agar siswa mudah memahami materi PLSV dan PtLSV.
Media pembelajaran menurut Hujair AH.S (2010) merupakan alat bantu untuk menumbuhkan motivasi dan aktivitas, dengan siswa aktif diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi yang objeknya benda abstrak.
Proses pembelajaran yang dilakukan pertama guru menyampaikan materi PLSV dan PtLSV, kedua siswa memperhatikan dan berpikir tentang materi yang disampaikan guru. Ketiga guru membentuk kelompok diskusi berpasangan, untuk berdiskusi soal kemudian mengambil tumpukkan karek dan mencocokkan soal dengan karek.
Setelah itu meletakkan karek yang dipilih di sebelah bawah soal. Keempat guru berkeliling untuk memberikan bantuan kepada kelompok yang kesulitan dalam memahami soal atau masalah PLSV dan PtLSV dan memastikan siswa dapat memahami materi, sekaligus memberikan skor atau poin pada setiap kelompok.
Jika karek cocok dengan soal diberi skor 10, jika tidak cocok diberi skor (-2), sebelum batas waktu berakhir karek yang tidak cocok atau salah dapat direvisi. Proses pemasangan dilanjutkan pada putaran berikutnya dengan mengocok karek yang tersisa. Setelah 20 menit seluruh kelompok diminta ntuk menjumlahkan skor yang diperoleh. Kelima, guru dan siswa bersama sama membuat kesimpulan.
Setelah proses pembelajaran tersebut, siswa diberi penilaian diri tentang pemahaman materi dan penilaian proses pembelajaran apakah menyenangkan dan mengasyikan serta evaluasi kontain materi. Berdasarkan evaluasi diri siswa merasa mudah memahami dan dan merasa senang dan asik dalam belajar sehingga tanpa terasa waktu belajar telah berakhir.
Hasil belajar diperoleh dua puluh tujuh siswa telah tuntas KKM, yang sebelumnya hanya sembilan belas siswa. Sehingga dapat disimpulkan, belajar materi PLSV dan PtLSV menggunakan model think pair and share berbantuan karek, mengasyikkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII di SMPN 1 Salaman. (sl/lis)
Guru SMPN 1 Salaman, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP