Keadaan yang demikian membuat orang tua merasa khawatir, bagaimana nasib anak-anaknya kelak dengan kegiatan pembelajaran yang hanya dilakukan lewat online tanpa tatap muka langsung. Aktifitas berselancar mencari koneksi internet setiap hari tentunya tak bisa dipisahkan dari anak-anak atau siswa sebagai pengguna media social. Hal ini pasti berdampak terhadap gangguan kesehatan mata. Kekhawatiran orang tua adalah ketika anak mengakses konten yang bersifat pornografi, karena hal ini akan menimbulkan kecanduan yang mengakibatkan anak dapat menutup diri pada sekitarnya. Dampak lain adalah terjadinya penipuan, serta masih banyak lagi hal negatif yang perlu diperhatikan.
Kegiatan pembelajaran yang boleh berlangsung di masa pandemi ini adalah belajar di pesantren. Dengan menetapkan beberapa kebijakan, para santri atau siswa pondok yang kembali ke pondok harus mengikuti protokol kesehatan. Di antaranya, sebelum masuk ke lingkungan pesantren, anak-anak harus rapid test terlebih dahulu dan hasil tes ditunjukkan ke pesantren ketika akan masuk ke pesantren serta menunjukkan surat keterangan sehat.
Keberadaan santri di pesantren setiap hari selama 24 jam dengan mengikuti kegiatan yang terjadwal dan terpantau. Ketika orang tua sibuk mencari nafkah secara tidak langsung membuatnya merasa aman, tenang dan nyaman. Kekhawatiran dari pergaulan bebas, media sosial dan bepergian k emana-mana yang sulit dikendalikan sirna.
Hidup di pesantren dikondisikan dengan berbagai kegiatan Pendidikan. Santri diajarkan kecerdasan intelektual (IQ), menekankan kematangan emosional dan spiritual (EQ dan SQ). Kebiasaan beribadah dan belajar berbagai kegiatan produktif lainnya. Hal ini tentu mengarahkan kepada pembiasaan dan pembentukan karakter anak atau santri agar selalu berakhlak mulia, santun dalam bertindak dan bertutur kata.
Dalam pembiasaan ibadah tentunya memiliki persentase yang cukup dominan dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Proses panjang dalam pembelajaran yang dilakukan secara konsisten dan intens tersebut akan mendapatkan ilmu terapan yang benar sehingga santri mempunyai pribadi yang unggul dan berakhlakul karimah.
Penanaman jiwa karakter yang mulia dilandasi dengan nilai-nilai Alquran dan sunah rasul akan menumbuhkan generasi muda yang mempuyai ketahanan pribadi yang tangguh dan mandiri. Inilah harapan kita semua. Dengan demikian, kehidupan di pesantren ini akan membentuk pembiasaan santri atau anak memiliki akhlak mulia secara lahiriah dan batiniyah. (kb4/ton)
Guru PAI MAN Demak Editor : Agus AP