Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pesantren sebagai Pembiasaan Akhlak Mulia di Masa Pandemi

Agus AP • Senin, 15 Maret 2021 | 16:41 WIB
Maya Rohmi, S.Ag.
Maya Rohmi, S.Ag.
RADARSEMARANG.ID, Sampai saat ini masalah virus corona belum juga usai. Pandemi covid-19 telah menjadi keprihatinan global. Pemerintah masih menetapkan siswa untuk belajar secara online dari rumah. Kegiatan tatap muka di sekolah belum diterapkan demi mengurangi penyebaran virus corona di Indonesia. Sistem pembelajaran online yang begitu lama, dirasa sebagian siswa cenderung bosan karena aktifitasnya dibatasi oleh ruang dan geraknya, lalu mereka melakukan kegiatan di luar rumah dengan bebas.

Keadaan yang demikian membuat orang tua merasa khawatir, bagaimana nasib anak-anaknya kelak dengan kegiatan pembelajaran yang hanya dilakukan lewat online tanpa tatap muka langsung. Aktifitas berselancar mencari koneksi internet setiap hari tentunya tak bisa dipisahkan dari anak-anak atau siswa sebagai pengguna media social. Hal ini pasti berdampak terhadap gangguan kesehatan mata. Kekhawatiran orang tua adalah ketika anak mengakses konten yang bersifat pornografi, karena hal ini akan menimbulkan kecanduan yang mengakibatkan anak dapat menutup diri pada sekitarnya. Dampak lain adalah terjadinya penipuan, serta masih banyak lagi hal negatif yang perlu diperhatikan.

Kegiatan pembelajaran yang boleh berlangsung di masa pandemi ini adalah belajar di pesantren. Dengan menetapkan beberapa kebijakan, para santri atau siswa pondok yang kembali ke pondok harus mengikuti protokol kesehatan. Di antaranya, sebelum masuk ke lingkungan pesantren, anak-anak harus rapid test terlebih dahulu dan hasil tes ditunjukkan ke pesantren ketika akan masuk ke pesantren serta menunjukkan surat keterangan sehat.

Keberadaan santri di pesantren setiap hari selama 24 jam dengan mengikuti kegiatan yang terjadwal dan terpantau. Ketika orang tua sibuk mencari nafkah secara tidak langsung membuatnya merasa aman, tenang dan nyaman. Kekhawatiran dari pergaulan bebas, media sosial dan bepergian k emana-mana yang sulit dikendalikan sirna.

Hidup di pesantren dikondisikan dengan berbagai kegiatan Pendidikan. Santri diajarkan kecerdasan intelektual (IQ), menekankan kematangan emosional dan spiritual (EQ dan SQ). Kebiasaan beribadah dan belajar berbagai kegiatan produktif lainnya. Hal ini tentu mengarahkan kepada pembiasaan dan pembentukan karakter anak atau santri agar selalu berakhlak mulia, santun dalam bertindak dan bertutur kata.

Dalam pembiasaan ibadah tentunya memiliki persentase yang cukup dominan dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Proses panjang dalam pembelajaran yang dilakukan secara konsisten dan intens tersebut akan mendapatkan ilmu terapan yang benar sehingga santri mempunyai pribadi yang unggul dan berakhlakul karimah.

Penanaman jiwa karakter yang mulia dilandasi dengan nilai-nilai Alquran dan sunah rasul akan menumbuhkan generasi muda yang mempuyai ketahanan pribadi yang tangguh dan mandiri. Inilah harapan kita semua. Dengan demikian, kehidupan di pesantren ini akan membentuk pembiasaan santri atau anak memiliki akhlak mulia secara lahiriah dan batiniyah. (kb4/ton)



Guru PAI MAN Demak Editor : Agus AP
#Guru PAI #MA